Connect with us

Subscribe

Did You Know?

5 Tren Mobilitas Urban Di Masa Depan – Part 2

Sumber: Bcg.com

Cara orang melakukan mobilitas urban telah berubah secara dramatis. Ini berkat kemajuan teknologi dan layanan transportasi baru yang memungkinkan penduduk kota melakukan mobilitas dengan lebih efisien dan aman. Di sejumlah kota metropolitan yang rata-rata dihuni lebih dari 10 juta penduduk, sistem mobilitas terintegrasi dapat menghasilkan manfaat seperti peningkatan keselamatan, mengurangi kemacetan dan peningkatan kualitas udara.

Adapun demikian transisi menuju mobilitas terintegrasi di setiap kota akan berjalan berbeda dan memberikan hasil yang berbeda pula, dari satu ke kota lainnya. Laju dan perubahan tergantung dari banyak faktor seperti kepadatan penduduk, pendapatan kerja, investasi publik, infrastruktur, tingkat kemacetan dan kemampuan pemerintah setempat – semuanya harus saling bersinergi.

Tentu ini menjadi tantangan besar yang harus dihadapi. Tidak peduli seberapa siap sebuah kota bergerak menuju model mobilitas yang lebih maju, pemerintah kota setidaknya dapat mulai mengembangkan visi tentang sistem mobilitas terintegrasi dan bagaimana kota dapat berkembang sesuai dengan visi ini. Terlebih lagi pemerintah dapat mengelolanya agar manfaatnya dapat dimaksimalkan sejalan dengan prioritas untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk.

Tren yang bergerak cepat sangat mempengaruhi sistem mobilitas urban di seluruh dunia. Pada artikel sebelumnya, kita membahas beberapa tren seperti mobil elektrik, mobilitas sesuai permintaan, dan mobil otonomos. Tren lainnya yang lebih luas juga memiliki implikasi penting dimana memberikan dampak besar pada perkembangan mobiltas perkotaan.

Sumber: Intelligente-welt.de

 

TREN #4 – KOMUNIKASI CAR-TO-X

Komunikasi car-to-x erat kaitannya dengan mengemudi otonomos. Mobil yang terkoneksi melalui sinyal dapat terkoneksi dalam waktu nyata, baik dari satu mobil ke mobil lain dan dengan objek di sekitarnya seperti smartphone atau jaringan seluler (car-to-mobile) serta dapat saling berkomunikasi satu sama lain. Saat mengemudi secara mandiri, mobil akan bergabung bersama untuk membentuk sebuah konvoi dan bertindak seperti layaknya mobil tunggal. Akselerasi dan deselerasi secara bersamaan mengoptimalkan arus lalu lintas.

Yaps, mobil otonomos model tertentu dapat berinteraksi dengan mobil atau objek lain di sekitarnya. Ini bertujuan untuk memperingatkan pengguna jalan lain jika arus lalu lintas mengalami rintangan seperti kemacetan, kecelakaan, dan sebagainya, sehingga pengguna jalan dapat bereaksi lebih awal. Semakin banyak mobil yang dilengkapi teknologi ini, semakin banyak rintangan yang dapat dihindari, setidaknya itulah ide dibalik konsep mobilitas ini. Jelas bahwa skenario ini memiliki potensi besar untuk lalu lintas kota yang padat.

Manfaat komunikasi car-to-x untuk mobilitas urban sangat dirasakan oleh penduduk Cina, tepatnya di Wuxi. Sekitar 1,76 juta kendaraan melintasi kota metropolitan — mobil, bus, lampu lalu lintas, dan rambu-rambu semuanya saling berkomunikasi. Pengemudi akan segera menerima pemberitahuan jika mereka melaju terlalu cepat, dan sistem peringatan dini akan menginformasikan mereka tentang rintangan yang akan datang. Sistem lampu lalu lintas yang canggih terus menganalisis dan mengoptimalkan arus lalu lintas dan juga memungkinkan pengemudi mengetahui berapa lama lampu akan menyala hijau.

Sumber: Medium.com

 

TREN #5 – MOBILITAS URBAN DAN TRANSPORTASI PUBLIK

Hal ini telah disadari oleh kota London sejak abad ke-19 dimana transportasi publik memainkan peran kunci dalam mobilitas urban. Sementara itu, kereta bawah tanah dan bis di kota-kota besar dunia sedang mencapai batasnya. Itulah mengapa mobilitas klasik perkotaan saat ini merayakan kebangkitan yang tak terduga yakni sepeda. Yaps bike sharing menaklukkan jalan-jalan di semua kota besar dan memungkinkan seseorang bepergian dengan cepat di ruang sempit. Hal serupa akan terjadi pada skuter listrik di masa depan yang menawarkan mobilitas sederhana di lingkungan perkotaan.

Lalu bagaimana transportasi publik bisa lebih terstruktur di masa depan?

Selain tren sharing, konsep elektromobilitas dan otonomos juga masuk ke dalam solusi transportasi lokal. Sebut saja Eropa, kini memiliki 10 jalur uji publik untuk bis antar-jemput elektronik yang dikendalikan secara otonom. Misalnya, Kampus Charité di Berlin, seorang petugas pengawas tetap bersiaga di dalam bus, dimana bertugas mengemudikan rintangan dan mengizinkan untuk mengemudi lagi setelah berhenti. Namun, dapat diperkirakan bahwa sistem ini akan menjadi semakin cerdas, lebih aman, dan juga lebih mandiri. Apalagi, rutenya saat ini relatif masih pendek dan tidak ada rintangan besar.

Jika ada pernyataan mengatakan bahwa masa depan mobilitas urban sudah di depan mata — apakah ini hanya sebuah hipotesis atau pandangan realistis tentang masa depan?

Sumber: Vozim.hr

Mengingat pusat kota yang padat, menaklukkan wilayah udara tampaknya merupakan konsekuensi logis. Yaps, awal tahun ini rupanya taksi drone otonomos memulai operasi uji coba di Dubai, Los Angeles, Dallas dan Singapura, dimana penggunaan komersial akan dijadwalkan mulai 2023.

Sumber: Uk.Reuters.com

LEMAHNYA TRANSPORTASI PUBLIK DI INDONESIA

Setelah membahas 5 tren mobilitas urban diatas, sayangnya belum ada satupun yang bisa diterapkan di negara kita terutama di kota-kota besar, setidaknya masih prematur untuk dibahas saat ini. Ini karena banyak ‘PR’ yang harus dibenahi mulai dari kepadatan penduduk yang jauh melampaui batas wilayah, tata letak kota, investasi publik, kesiapan pemerintah sendiri, dsb.

Bahkan transportasi publik yang ada didepan mata sebenarnya belum bisa dikatakan memadai, baik dari pemerataan maupun kualitas pelayanan dan transportasinya sendiri. Yaps, transportasi publik kota-kota besar di Indonesia masih jauh tertinggal dari negara lain, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Dilansir dari CNN Indonesia, Bappenas(Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) Kennedy Simanjutak menyebutkan bahwa ketertinggalan ini dipicu oleh lemahnya lembaga otoritas yang mengelola transportasi publik. Banyak aspek yang harus dibenahi oleh pemerintah seperti kejelasan lembaga perencana, pelaksana, pengelola dan pengoperasi.

Tidak seperti Uni Eropa atau kota seperti New York dan London dimana mereka memiliki lembaga otoritas khusus dalam mengelola transportasi publik dan bersifat korporasi. Sebut saja Metropolitan Transportation Authority (MTA) di New York, Transportation For London (TFL) di London, dan Syndicat des Transports Pariesiens (STP) di Paris.

Dalam berita tersebut juga disebutkan bahwa penggunaan transportasi publik di Jakarta hanya sebesar 18%, Bandung 20%, dan Surabaya 5%. Ini menandakan bahwa rendahnya pengguna transportasi umum mengakibatkan tingginya pengguna kendaraan pribadi sebagai pemicu kemacetan lalu lintas.

Deputi III Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Ridwan Djamaluddin menyebutkan bahwa kemacetan mengakibatkan pemborosan BBM sebesar 29,7 triliun per tahun dan kerugian kesehatan sebesar 38,5 triliun untuk mengobati penyakit akibat polusi dan stres.

Sumber: Liputan6.com

Lemahnya transportasi publik di Indonesia juga dipicu karena kegagalan dalam mengantisipasi perkembangan wilayah, artinya pemerintah mengabaikan keterbatasan daya tampung dan daya dukung kota tanpa deliniasi fisik kota yang jelas.

“Urbanisasi penduduk yang tinggi sementara ruang kota terbatas memunculkan kawasan perumahan baru di pinggir kota dengan kepadatan rendah dan bentuk kawasan aglomerasi perkotaan,” tutur Lilik Wahcid B.S, Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM, dilansir dari laman UGM.

Menurutnya, model kawasan ini meningkatkan kerumitan dalam penyelenggaraan transportasi publik perkotaan dan menjadi awal kegagalan pembangunan kota. Sistem transportasi massal perkotaan sulit menjangkau seluruh kawasan perkotaan. Sementara itu kawasan permukiman yang dibangun dekat dengan akses ruas jalan meningkatkan ketergantungan akan kendaraan pribadi. Yaps, pemerintah atau lembaga terkait seharusnya menangani persoalan ini lebih serius, bukan hanya sebatas pada gejala tetapi belum menjawab akar masalahnya.

Semoga mobilitas urban di Indonesia semakin maju!

 

 

 

Newsletter Signup

Dapatkan email berita dari kami, dengan berlangganan

Comments

Apa Itu JDM? Apakah semua mobil Jepang itu JDM?

Did You Know?

Evolusi Dibalik Logo BMW & Faktanya – Part 2

Did You Know?

Kenapa Selalu E36? Ini Jawabannya

Did You Know?

Sekilas Tentang Sejarah Gokart dan Go-Karting

Did You Know?

Advertisement
Newsletter Signup

Dapatkan email berita dari kami, dengan berlangganan

Copyright © 2019 Fastnlow.net. Theme by Fastnlow, powered by CV. OTOMEDIA NUSANTARA.

Connect
Newsletter Signup

Dapatkan email berita dari kami, dengan berlangganan