Home Did You Know? Formula E Mau Menggeser Formula 1?

Formula E Mau Menggeser Formula 1?

MOTORSPORT - FORMULA E TESTS - LA FERTE GAUCHER (FRA) 13/11/2013 - PHOTO : FRANCOIS FLAMAND / DPPI

Dunia balap otomotif lambat laun makin berubah, lebih tepatnya semakin berwarna sejak kehadiran mesin penggerak berbasis motor elektrik (listrik) di dunia otomotif yang terus mencoba menggeser keberadaan mesin berbahan bakar minyak selama berabad-abad. Kini, dengan diadakannya ajang Formula E (Formula Electric), keberadaan mobil bertenaga listrik yang ramah lingkungan di ajang balap bergengsi ini makin mengancam posisi mesin berbahan bakar minyak.

Formula E adalah sebuah ajang kejuaraan mobil balap bertaraf internasional, sama seperti ajang Formula 1 yang sudah lebih dahulu ada. Konsep Formula E dipelopori oleh Jean Todt, Presiden Federasi Otomotif Internasional (FIA) yang menurut situs resmi Formula E sebagai ajang untuk menunjukan potensi mobil listrik sebagai alat mobilitas berkelanjutan.

Alejandro Agag seorang pengusaha bisnis olahraga asal Spanyol ini mendukung penuh dengan menciptakan ajang Formula E sekaligus menjadi CEO-nya. Dalam menggarap proyek ambisius ini, para penggerak Formula E menggandeng banyak industri motorsport seperti Williams, McLaren, Michelin, dan Dallara yang namanya sudah tak asing lagi di dunia Formula 1.

Di musim pertama di tahun 2014, diselenggarakan di sirkuit Kota Beijing, hal ini ditujukan sebagai simbol melawan polusi udara di kota ini. Ajang pertama ini juga menjadi keuntungan dan memungkinkan diselenggarakan di jalanan kota dikarenakan tingkat kebisingan mobil Formula E lebih kecil sekitar 80 dB sementara raungan Formula 1 bisa menembus 134 db. Hal ini yang membuat di seri berikutnya menggunakan sirkuit kota di Buenos Aires, Monte Carlo, London, dan Putrajaya, Malaysia.

Semua mobil tim pada musim pertama dipasok dan dibangun oleh Spark Racing Technology yang bernama Spark-Renault SRT 01E. Berisi motor listrik yang dikembangkan oleh McLaren, rangka dirancang oleh Dallara, sistem baterai dibikin oleh Williams Advanced Engineering dan gearbox lima kecepatan disuplai Hewland. Di sektor roda ban, Michelin digandeng sebagai pemasok resmi.

Pengembangan mesin tenaga listrik oleh McLaren sudah dikembangkan sejak lima tahun sebelum event diselenggarakan pada September 2014. Motor listrik ini menggerakkan roda belakang mobil balap melalui gearbox empat kecepatan. Soal bobot dan fisik mesin motor listrik tentu jauh lebih ringan dibanding mesin dengan bahan bakar minyak pada umumnya, hanya 26 kilogram dan mampu menyediakan lebih dari 250 tenaga kuda. Mesin motor listrik diklaim dapat meraung hingga 17.500 rpm yang menyerupai dengan mesin V8 pada Formula 1.

Energi motor listrik didapat dari baterai jenis Lithium-ion, baterai ini mirip dengan yang ada di perangkat elektronik seperti laptop dan handphone hanya ukurannya lebih besar. Posisi baterai Lithium-ion tersebut berada di belakang pengemudi, aliran energi antara baterai dan motor listrik dikendalikan oleh Motor Control Electronics. Semua sistem kelistrikan beroperasi pada voltase sangat tinggi, hingga sampai 800V.

Jika dibandingkan dengan Formula 1, mobil Formula E masih di bawah untuk urusan top speed dan akselerasi. Sebagai contohnya mobil Formula 1 mampu menyentuh kecepatan maksimal 378 km/jam, sementara Formula E baru bisa menyentuh di angka 225 km/jam. Untuk bisa mencapai kecepatan 100 km/jam dari nol, mobil Formula E membutuhkan waktu sekitar 3 detik. Sedangkan “jet darat” sebutan yang biasa kita sebut untuk mobil Formula 1, bisa menembus waktu tempuh 2,1 detik saja.

Ajang Formula E ini memang tak seheboh seperti Formula 1 dengan kuda besi yang melesat lebih cepat. Tetapi setidaknya hal ini bisa menjadi simbol kepedulian soal isu lingkungan seperti pemanasan global dan keterbatasan bahan bakar minyak. Formula E dapat menjadi lembaran baru pada dunia otomotif, untuk memperkenalkan ke masyarakat luas bahwa mesin berbasis tenaga listrik juga melaju kencang.

INTERSPORT SLALOM 2017 - AUTO GYMKHANA 4th ROUND (PURWOKERTO)