Connect with us

Subscribe

Cars

Isu Brexit Bagi Industri Mobil Kian Memanas

Argumen tentang menurunnya penjualan mobil terkait British Exit (Brexit) keluar dari Uni Eropa (UE) sudah diperkirakan sejak awal sebelum British resmi keluar pada Maret 2017 lalu. Tak hanya itu, soal investasi baru juga membuat para investor berpikir dua kali karena regulasi yang masih simpang siur.

Para produsen mobil di Inggris merasa keberatan dengan penerapan aturan tarif dan bea cukai dari WTO (World Trade Organization), pasalnya mereka harus mengeluarkan biaya ekstra untuk ekspor. Sebelum Inggris bercerai dengan UE, pihak produsen mobil leluasa dalam mengirimkan komoditas maupun kendaraan ke negara anggota UE tanpa biaya tambahan.

Hingga kini isu tersebut masih menjadi polemik yang tak berujung, inilah imbas yang harus dihadapi para pabrikan mobil di Inggris. Beberapa produsen mobil pun akhirnya buka suara.

Kabar terbaru datang dari salah satu pabrikan mobil di Inggris, Ralf Speth selaku CEO Jaguar Land Rover (JLR), “Jika industri otomotif Inggris ingin tetap bersaing secara global, melindungi pekerjaan kami dan rantai pasokan kami.

Maka kami harus mempertahankan tarif dan bea cukai untuk perdagangan tanpa mengubah regulasi yang berlaku di Uni Eropa”. Ia pun menegaskan para pabrikan mobil membutuhkan kepastian yang lebih besar untuk bisa terus berinvetasi di Inggris.

Pihak BMW pun ikut buka suara soal ini. “Jika kami tidak segera mendapatkan kejelasan dalam beberapa bulan mendatang, kami harus membuat rencana cadangan yang berarti membuat Inggris kurang kompetitif terhadap perdagangan dunia yang saat ini sedang bersaing ketat”, tegas Ian Robertson selaku Board of Management BMW.

Robertson berkata terang-terangan sebelum masa pensiunnya. Seperti diketahui BMW Group merupakan perusahaan induk dari brand terkemuka MINI dan Rolls-Royce yang memiliki 4 pabrik di Britania Raya. Regulasi yang ada berimbas pada BMW Group, pasalnya lebih dari 80% produksi MINI dan 90 % Rolls Royce diekspor. Ditambah mesin Hams Hall yang diekspor ke pabrik BMW di Jerman.

Nissan juga mengalami kekhawatiran yang sama terkait masa depan pabriknya di Sunderland yang dihuni 7.000 karyawan. “Jelas bagi kami bertaruh keras soal ini tetapi kami tidak ingin mengambil keputusan yang salah tanpa tahu persis seperti apa Brexit nantinya”, cetus Carlos Ghosn selaku CEO Nissan.

Bagaimana dengan pabrikan lain seperti Toyota dan Honda yang ada di Inggris? Dalam hal ini Perdana Menteri Britania Raya,Theresa May harus segera mengubah taktik demi masa depan industri mobil di Inggris yang nantinya akan sangat berpengaruh pada pendapatan negara.

Newsletter Signup

Dapatkan email berita dari kami, dengan berlangganan

Comments

Gimana Sih Cara Kerja AC Mobil?

Did You Know?

Jangan Sembarangan Dengan Minyak Rem, Ini Resikonya

Did You Know?

Awal Sejarah Peraturan Lalu Lintas Terbentuk

Did You Know?

Mengapa Sway Bar Seringkali Dicopot Dari Kendaraan 4×4?

Did You Know?

Newsletter Signup

Dapatkan email berita dari kami, dengan berlangganan

Copyright © 2018 Fastnlow.net. Theme by Fastnlow, powered by PT. OTOMEDIA NUSANTARA.

Connect
Newsletter Signup

Dapatkan email berita dari kami, dengan berlangganan