Connect with us

Subscribe

Did You Know?

Kontroversi Sistem Start-Stop Mesin

Jika anda membeli kendaraan baru, khususnya mobil penumpang dalam beberapa tahun terakhir, salah satu fitur teknologi modern yang anda dapatkan adalah sistem start-stop mesin. Yaps, sistem ini bukanlah sesuatu yang ‘waow’ lagi karena bisa anda temukan pada mobil harga 200 jutaan sebagai fitur standar. Cukup dengan menekan tombol start-stop, mesin akan menyala kurang dari 2 detik, begitu pula kebalikannya.

Teknologi start-stop digadang-gadang sebagai inovasi terbaik berikutnya dalam sepanjang industri otomotif sejak diciptakan wiper kaca depan dan spion, bahkan sejumlah automaker juga menyebutnya “teknologi micro-hybrid”. Sistem start-stop dinilai mampu menekan biaya bahan bakar lebih rendah dan sedikit berkontribusi terhadap emisi di kota tempat anda tinggal.

Seperti yang ditunjukkan nomenklatur resmi, sistem start-stop hanya sesederhana mematikan Internal Combustion Engine (ICE), alih alih membiarkannya dalam posisi idle saat kendaraan berhenti lama kemudian start lagi secara seketika. Kendaraan baru yang dilengkapi sistem ini membuat transisi “off” ke “on” menjadi lebih mulus hanya dalam sepersekian detik, mungkin lebih cepat dari kedipan mata.

Engine start dalam waktu singkat akan memberikan banyak tekanan pada motor starter konvensional dimana akan rusak sebelum waktunya. Sementara mobil yang dilengkapi sistem start-stop pada umumnya dibekali motor starter heavy-duty yang dirancang khusus dan tentu saja dibekali aki yang lebih baik dimana pada kendaraan tertentu dapat diisi (charged) melalui pengereman regeneratif. Ini apa yang automaker sebut sebagai teknologi micro-hybrid. Dalam skema keseluruhan mobil hybrid, tingkat micro-hybrid berada tepat dibawah mild-hybrid, dan dua tingkat dibawah full-hybrid.

Selain menggunakan motor starter heavy-duty, sejumlah automaker juga telah menggunakan apa yang disebut Integrated Starter-alternator (ISG). Kedua versi sistem ini bekerja dengan cara yang sama meskipun ada perbedaan soal penghematan bahan bakar yang lebih baik. Yaps, keduanya dinilai baik terutama karena teknologinya relatif lebih murah dan memiliki resiko jauh lebih rendah dibanding mobil full-hybrid.

Seperti yang kita tahu, kini mobil modern hampir semuanya serba elektrik dan konsumsi daya yang dikeluarkan membuat arus terus menerus tetap bekerja, khususnya ketika ICE “distributor volt ke aki” dimatikan. Lampu, AC, sistem audio, bahkan airbag tidak akan berfungsi jika tidak ada daya, oleh karena itu mobil dengan fitur start-stop — aki memiliki tekanan yang jauh lebih tinggi. Tak bisa dipungkiri bahwa sistem start-stop berdampak pada sistem kelistrikan mobil itu sendiri, dimana akan mempengaruhi performa aki dalam pemakaiannya.

Mungkin anda berpikir bahwa automaker telah memikirkan segala sesuatunya untuk mengantisipasi resiko terburuk. Itu memang benar, para automaker pasti melakukannya, tetapi itu tidak menghilangkan apapun dari fakta bahwa setiap automaker pada dasarnya adalah bisnis, dan agenda utama mereka adalah menjual unit sebanyak-banyaknya. Sekarang adalah abad ke-21 dan tak satupun automaker yang masih menjual mobil model dekade sebelumnya.

Sementara itu, mobil modern dengan mesin turbocharged yang sebagian besar menawarkan efisiensi, anda pasti tahu betapa panasnya turbo ketika dipakai. Jika anda termasuk orang yang konservatif nan sederhana dan menggunakan mobil turbocharged manual, tentu anda butuh waktu ekstra untuk menjaga mesin dalam keadaan idle selama sekitar satu menit dengan tujuan untuk mendinginkan turbo setelah berkendara panjang.

Akan tetapi mobil turbocharged terbaru saat ini menggunakan ball bearing turbocharger dengan oil-cooler dan water-cooler untuk meredam panas sehingga resiko konversi oli sedikit terminimalisir setelah mesin turbo dimatikan. Namun pertanyaannya apakah sistem start-stop memberikan efek buruk terhadap durabilitas mesin turbo dalam jangka panjang?

Bahkan jika anda tidak memiliki ICE turbocharged sekalipun tetapi mobil anda dilengkapi dengan sistem start-stop, dari sisi durabilitas mesin dan masa pakai bearing mesin masih diragukan. Semakin banyak siklus penggunaan start-stop menyebabkan peningkatan keausan mesin.

Saat ICE sedang bekerja, crankshaft dan sebagian besar permukaan bearing tidak saling bersentuhan karena terpisahkan oleh lapisan oli yang sangat tipis untuk menciptakan pelumasan. Ketika mesin berhenti adalah saat dimana sebagian besar permukaan metal didalam mesin saling bersentuhan hingga mesin dinyalakan kembali. Adanya waktu jeda yang kecil antara mesin “off” dan mesin ‘on” adalah saat terjadi friksi atau gesekan tertinggi yang meningkatkan keausan secara drastis.

Jadi menurut anda mana yang lebih prioritas antara menjaga durabilitas mesin atau menghemat bahan bakar 5-10 persen? Anda yang bisa menjawabnya.

Newsletter Signup

Dapatkan email berita dari kami, dengan berlangganan

Comments

5 Tren Mobilitas Urban Di Masa Depan – Part 2

Did You Know?

Apa Itu JDM? Apakah semua mobil Jepang itu JDM?

Did You Know?

Evolusi Dibalik Logo BMW & Faktanya – Part 2

Did You Know?

Kenapa Selalu E36? Ini Jawabannya

Did You Know?

Advertisement
Newsletter Signup

Dapatkan email berita dari kami, dengan berlangganan

Copyright © 2019 Fastnlow.net. Theme by Fastnlow, powered by CV. OTOMEDIA NUSANTARA.

Connect
Newsletter Signup

Dapatkan email berita dari kami, dengan berlangganan