Connect with us

Subscribe

Did You Know?

Sepenggal Kisah Fotografer Dunia Motorsport Selama 5 Dekade

Nama Joe Honda mungkin asing ditelinga kita, atau justru malah namanya mulai terlupakan oleh jaman sebagai fotografer motorsport pada era 60an. Nama aslinya adalah Nobuyuki Jozuka, tetapi ia memilih “Joe Honda” sebagai nama alias dalam menelurkan karyanya. Jangan sangka nama itu tak ada kaitannya dengan produsen mobil Jepang, dia hanya berpikir nama itu terdengar menarik dan lebih mudah diingat untuk orang asing.

Joe Honda lahir pada tahun 1939 di Tokyo, tumbuh ditengah reruntuhan Perang Dunia II dan mengalami masa minimnya pendidikan kala itu. Namun berbekal semangat Ia tetap menjalani pendidikan. Layaknya kenakalan masa remaja pada umumnya, sebagai siswa di Jepang pasca perang, Joe bolos kelas untuk beradu balap disekitaran peninggalan situs di Tokyo bersama kawanan pengendara motor. Mereka menggunakantimeruntuk melihat apakah diantara mereka ada yang memiliki bakat sebagai pembalap pro.

Berjalannya waktu, justru Joe menemukan panggilannya di dunia fotografi dengan ‘menangkap’ mobil tercepat di dunia. Ia menempuh pendidikan fotografi di Universitas Nihon jurusan Seni Rupa. Joe dilatih menjadi fotografer selebriti dan fashion oleh Yuji Hayata sebelum menjadi freelancer tetapi akhirnya Ia terpanggil untuk menjadi fotografer di industri otomotif.

Lantas Ia memulai karir di dunia motorsport tahun 1966 dimana Ia mengikuti lomba Fuji Speedway di Jepang dan bertemu dengan bintang balap Inggris seperti Stewart, Jim Clark dan Graham Hill. Terpesona oleh kemajuan motorsport yang seakan menjanjikan masa depan, tahun 1967 Ia memutuskan hijrah ke Eropa untuk mencari petualangan yang lebih menantang.

Saat itu industri mobil Jepang tengah berkembang pesat pada era 60an. Ketertarikan Jepang terhadap sepeda motor bergeser ke arah mobil ketika Honda Motor Company meluncurkan model-model baru, kala itu Nissan Sunny menjadi favorit dengan kelas menengah. Pertandingan Olimpiade 1964 di Tokyo yang pertama kali diadakan di negara Asia secara tidak langsung membangun kembali Jepang di panggung dunia. Alhasil menjadi lebih mudah bagi warga Jepang untuk mendapatkan visa dan bepergian ke luar negeri. Disitulah Joe mengambil kesempatan itu.

Sebelum meninggalkan Jepang untuk meliput Grand Prix Eropa pada Maret 1967, Ia menukar Nissan Skyline 2000GT dengan Toyota Corolla yang lebih murah sebagai modal perjalanan. Berbekal uang $ 500, dua kamera analog dan beberapa patah kata bahasa Inggris, Joe mengambil resiko terbesar dalam hidupnya demi mengejar impian. Bahkan Ia membawa Toyota Corolla miliknya dengan kapal laut Soviet. Yaps, tekadnya sudah bulat dan tidak pernah menyesal telah mengambil keputusan itu.

Jika boleh dibilang Joe Honda termasuk manusia nekat dimana tidak ada fotografer motorsport asal Jepang sebelumnya. “Ketika berangkat ke Eropa, saya tidak punya rencana dan saya tahu bahwa saya ceroboh. Dalam perjalanannya, terkadang saya harus memilih antara membeli satu rol film atau untuk makan berikutnya. Itu masa mudaku yang entah terkadang membuatku tidak kelaparan, saat itu semuanya terasa mungkin,” cetus Joe.

 

Tahun 1968, Ia bergabung dengan International Racing Press Association (IRPA) dan menjadi perwakilan regional untuk Asia. Ia berkeliling dunia mulai dari balapan Grand Prix F1, Rally Paris Dakar hingga motorcross Eropa dan NASCAR di AS.

Joe tampaknya menikmati petualangan dan persahabatan selama di sirkuit. Foto-fotonya sering menggambarkan betapa dekatnya dengan para pembalap, penonton dan fotografer satu sama lain pada 60an hingga 70an. Adapun kala itu event motorsport terbilang padat, Joe menjalaninya dengan sukacita. Ia berkemah sambil meliput reli offroad di Senegal dan keesokan harinya Ia harus berada di Eropa Grand Prix. Belum lagi kondisi cuaca yang kadang tak bersahabat membuat Joe makan dan tidur kapan saja Ia bisa.

 

“Saya tidak punya uang atau koneksi saat pertama kali memulai. Dulu saya bergantung pada kebaikan pengemudi, teknisi dan fotografer lain untuk bertahan. Saya benar-benar merasa seperti fotografer serigala tak dikenal yang berburu momen foto terbaik,” kata Joe.

Layaknya fotografer pada jamannya, Joe menanggung lebih banyak resiko — kelonggaran regulasi memungkinkannya berkeliaran di pinggiran trek balap, hanya dengan beberapa tumpukan jerami memisahkannya dari mobil yang melaju kencang. “Setiap saat kamu harus siap untuk melompat ke samping jika roda mobil balap tiba-tiba terbang ke tribun penonton”.


Sebagai seorang kreatif motivasinya kian tak berkesudahan, Ia mencari bentuk ekspresi baru. Joe juga bereskperimen dengan komputer canggih, teknologi digital dan grafis antara 1980an hingga 2000an untuk lebih mendorong batas-batas media fotografi. Selain itu, Ia mulai berkolaborasi dengan merk-merk ternama seperti BMW, Mitsubishi Motors, Kanebo, Shell, Hugo Boss, Asahi Shimbun dan Air France.

“Pada dasarnya fotografi motorsport adalah pekerjaan saya, itu mengalir dalam darah saya dan kehidupan saya,” ujar Joe. Sejak karirnya dimulai tahun 1966 dan bertemu dengan pembalap-pembalap legendaris, Ia tak pernah menyangka sisa hidupnya dihabiskan di lapangan selama 45 tahun.

Terinspirasi dari fotografer dokumenter seperti Henri Cartier Bresson dan Walker Evans serta pelukis impresionis seperti Claude Monet, Joe Honda melihat obyeknya dengan mata seorang seniman. Momen yang direkam dengan film 35mm mengungkapkan emosi yang mendalam terlihat dari warnanya, pemandangan, pembalap dan penonton, kabur seolah-olah dalam sebuah lukisan.

Memotret mobil yang melaju kencang dari berbagai sudut merupakan tantangan, membutuhkan daya tahan, konsentrasi dan kemampuan dalam memprediksi pergerakan kendaraan. Potret arsip Joe mencerminkan kesulitan ini dan tekad untuk mengatasinya. “Pada awalnya saya mencoba mengikuti mobil melalui lensa kamera, tetapi saya terus membuat kesalahan,” cetus Joe saat menceritakan awal karirnya di sirkuit balap Eropa. “Kupikir itu karena saya sedang mabuk, tapi ternyata mobil melaju sangat kencang”.

Meski karirnya berakhir tahun 2011, Joe tetap bermimpi membagikan karyanya kepada seluruh dunia. Semangat dan dedikasinya yang Ia habiskan selama hampir lima dekade untuk mendokumentasikan kisah-kisah manusia, budaya dan teknologi dalam industri motorsport sangat menyentuh dan tentunya menginspirasi kita semua. Memang, nekat itu terkadang perlu! 🙂

Newsletter Signup

Dapatkan email berita dari kami, dengan berlangganan

Comments

Pilihan Aki Tepat Dengan Optima

Did You Know?

Tips Agar Mobil Anda Menjadi Lebih Irit

Did You Know?

Tips dan Trik Mencuci Mobil Sendiri

Did You Know?

Arti Kode JWL , JWL-T, JWL-R dan VIA Pada Velg

Did You Know?

Newsletter Signup

Dapatkan email berita dari kami, dengan berlangganan

Copyright © 2018 Fastnlow.net. Theme by Fastnlow, powered by PT. OTOMEDIA NUSANTARA.

Connect
Newsletter Signup

Dapatkan email berita dari kami, dengan berlangganan