ERDEVE bekerja sama dengan AHRS Cargloss kembali mengadakan Indonesia Drag Championship seri ke 2 yang nantinya direcanakan akan berjalan sebanyak 5 seri di sekitaran Jawa Tengah.
Acara yang diadakan pada tanggal 7-8 Juni 2014 lalu adalah sekaligus dalam rangka HUT Bhayangkata ke-68 dan memperebutkan Piala Kapolres Gunung Kidul yang otomatis diadakan di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta.
Dengan jumlah peserta mencapai 250an starter, race ini dilaksanakan persis dijalur utama Wonosari-Pacitan dengan kontur jalan yang agak sedikit mendaki tetapi dengan kualitas aspal yang baik.
Race Heat pertama dimulai tepat pukul 11 siang setelah QTT dilaksanakan selama 1 jam sebelumnya dengan peserta dari berbagai daerah seluruh Indonesia tetapi mayoritas berasal dari Jawa Tengah.
Untuk event kali ini, urutan start sedikit berubah. Start awal akan dimulai dari kelas para “dewa” seperti kelas 1.5 Modified Sedan, 1.7 Modified Sedan hingga kelas FFA dan baru dilanjutkan dengan kelas-kelas yang lebih rendah.
Cukup mengejutkan saat kami melihat teman lama kami, Indra Ever yang datang jauh-jauh dari Bandung bersama keluarga dan Honda Estilo bermesin Integra kesayangannya untuk ikut menjajal panasnya pertarungan drag race di Jawa Tengah.
Selain Ever, ada juga tim besar lain dari Bandung yang sejak seri 1 sudah ikutan dalam kejuaraan ini. BL Racing Team dengan Estilo orange nya yang cukup melegenda dan sering turun pada kejuaraan drag race sentul.
The Race
Sejak awal, para peserta sudah dapat memperkirakan tentang catatan waktu yang bakal terjun bebas karena lintasan yang sedikit mendaki ini. yup.. benar, rata-rata waktu mereka merosot 0,5-1detik dari hasil uji coba dilintasan mereka masing-masing.
Tetapi saat giliran Ever, dia berhasil mencatatkan waktu hingga 8,8 detik. Kita semua terkejut. Dengan basic kendaraan yang masih digunakan harian, itu sangat luar biasa.
Setelah berapa kali start di beberapa kelas yang berbeda, mobil milik Ever mulai bermasalah. Kerusakan pada alternator, mengakibatkan pengapian tidak berjalan dengan sempurna. Tetapi untungnya mobil segera dapat di istirahatkan karena Heat pertama untuk kelas yang mereka ikuti sudah selesai. Tinggal menunggu Heat kedua sambil memperbaiki alternator yang rusak.
Ennergi Motorsport yang kali itu menurunkan 7 mobil juga akhirnya bisa unjuk gigi dengan Honda Nouva bermesin F20B andalannya. Pasalnya saat seri pertama ERDEVE di Magelang lalu, mobil ini sempat tidak dapat dikendalikan karena system suspensi yang sedikit kacaw. Akhirnya dengan driver andalannya yang di Import khusus dari Jakarta, mereka siap menunjukkan taring mereka.
Setelah beberapa kali start dengan beberapa Joki berbeda, ternyata catatan waktu mereka hampir sama semua, yaitu di sekitar 9,5 detik. Nanung sebagai dedengkot dari Ennergi langsung mengeset ulang mesin untuk persiapan di Heat ke dua.
Di tim Ayopa Fastnlow yang menurunkan 3 mobil dengan mobil andalannya adalah Honda Nouva milik Akbar yang baru jadi. Tapi memang sayangnya persiapannya masih kurang matang. Terlebih karena ini adalah mobil baru sehingga sang joki belum terbiasa dengan mobil bertenaga besar ini. alhasil saat start, mesin tiba-tiba mati dan tidak dapat meneruskan ke Heat ke dua.
Akhirnya Honda City type Z milik Dimas yang di bawa oleh Eric menjadi ujung tombak di Heat ke dua, setelah mobil Honda Nouva milik Oce mengalami gangguan mesin.
Di heat ke dua sekaligus penentuan ini dimulai pukul 6 sore kembali diawali dengan kelas mobil-mobil bertenaga besar. Para penonton pun mulai berdesakan ingin melihat dari dekat bagaimana mobil-mobil itu melesat.
Heat ke dua belum lama dimulai, tapi keadaan sudah langsung memanas. Apalagi saat Mitsubishi Evo 8 dari tim Bardie Wae (Jakarta) langsung mencatatkan waktu tercepatnya, 8,2 detik di kelas FFA. Tapi tidak lama kemudian, Hery Agung yang jarang absen dari kejuaraan drag race ini berhasil merubuhkan waktu tercepat Bardie menjadi 8,017 dengan jenis mobil yang sama.
Sedangkan Ever yang sempat mengalami kerusakan pada alternator, mencoba kembali keberuntungannya di Heat ke dua ini. dan akhirnya tanpa ada masalah ever mencatatkan waktu terbaik di 8,710 detik dan berhak atas peringkat ke dua di kelas 1.7 Modified sedan s/d 2000cc.
Di tim Ennergi, setelah melakukan setting ulang pada mesin, tenaga mobil memang terasa lebih meledak, hal itu yang dirasakan oleh Sendy sang driver import. Tapi sayang, Sendy telat melakukan start sehingga waktu yang dia peroleh hanya 9,9 detik. Tetapi saat start dilakukan oleh Nanung, mobil berhasil mencatatkan waktu di 9,2 detik dan memperoleh posisi ke enam tanpa tropy.
Harapan Ayopa Fastnlow yang hanya berada pada mobil City Z milik Dimas, akhirnya musnah setelah mobil melakukan over spin saat start yang otomatis menghabiskan waktu terlalu banyak. “biasanya start di 3000rpm, tadi aku nyoba di 3200rpm malah over spin”.
Secara overall acara ini berjalan dengan lancar dan sebagian besar peserta puas. Seperti yang diungkapkan Ever “saya merasa puas dan nyesel bisa main di Jawa, semoga event berikutnya saya bisa ikut lagi” ucapnya dengan ramah sambil membawa 6 piala yang dimenanginya bersama rekan satu timnya, Hanif. Dan begitu pula dengan Tim Ennergi dan Ayopa, walaupun belum dapat memperoleh piala, mereka tetap puas karena bisa mendapatkan data-data baru untuk settingan mobil sehingga tahu apa yang nantinya harus dikerjakan di bengkel masing-masing.
Tetapi dibalik suksesnya acara ini ada beberapa tim, khususnya tim yang berlaga di kelas 3.5 stock sedan s/d 1500cc melakukan protes atas juara satu dan dua dengan waktu yang terpaut cukup jauh dari juara tiga sampai dengan lima. Dengan asumsi waktu yang dicatatkan bisa lebih cepat dibanding kelas diatasnya yaitu kelas 3.1B stok sedan s/d 1700cc. Hal ini sudah disampaikan ke pemimpin lomba maupun juri lomba dari IMI yang akhirnya semua keputusan dikembalikan ke peserta dengan batasan waktu 15 menit untuk dimusyawarahkan sebelum keputusan pemenang ditandatangani oleh IMI. Tetapi saat musyawarah selesai, waktu yang diberikan IMI sudah habis, sehingga peserta pun gagal protes.
Dan hasil akhirnya adalah…




















