Sepanjang masa sejarah wanita hanya dipandang sebelah mata, sebuah stigma bahwa wanita itu lemah dan melulu berurusan dengan rumah tangga. Apalagi dalam masyarakat kita sangat memegang erat budaya patriarki dalam persoalan gender sehingga ruang gerak, peran, status dan hak perempuan jadi sangat terbatas. Pada akhirnya keyakinan tersebut yang menjadikan strereotip perempuan adalah makhluk lemah. Atau ini hanyalah sebuah konstruksi sejarah yang mendeskreditkan perempuan?
Secara ilmiah, wanita boleh dibilang lemah lantaran struktur tubuh lebih kecil dibanding laki-laki. Tetapi sebenarnya soal mental, wanita jauh lebih ‘tahan banting’ dibanding pria. Sejak abad ke-20 tak sedikit wanita yang menjabat di pemerintahan, pemimpin organisasi, korporasi bahkan kita pernah memiliki presiden wanita. Hal itu juga terjadi dalam dunia motorsport yang jelas mencerminkan sepak terjang seorang wanita — Lella Lombardi wanita lajang yang berhasil mencetak poin di Formula One. Jadi tidak relevan lagi jika kini kita menganggap wanita itu lemah.

Maria Grazia Lombardi “Lella” Lombardi adalah pembalap F1 sejak 1974 hingga 1976 dimana memiliki bakat luar biasa dan berani. Lahir tahun 1941 di Frugarolo, Piedmont, Italia, mengawali karirnya di Formula Junior menjadi bagian dari tim Ford Escort Mexico Champion dan melanjutkan balapan F3 di Monaco.
Performanya berhasil menarik perhatian dan mencetak poin yang cukup memuaskan, sehingga Lella mendapatkan dukungan dan mencoba ajang balap Grand Prix di Inggris tahun 1974. Ada 34 kontestan untuk 25 tempat di grid dimana membuat prospek wanita berdarah Italia ini masuk ke perlombaan bergengsi. Yaps, Lella bukanlah satu-satunya seorang pemula di F1, bahkan mobilnya — BT42 mengalami kerusakan girbok di sesi final kualifikasi. Alhasil Ia gagal memenuhi syarat.

Awal 1975 Lella menandatangani kontrak kesepakatan dengan sponsor pribadi Lavazza, penyedia kopi espresso Italia terkemuka. Kali ini Lella berhasil lolos kualifikasi dan berlaga di Grand Prix Afrika Selatan. Patut diacungi jempol, Lella Lombardi diakui dunia sebagai pembalap wanita kedua di kejuaraan dunia F1 sebelum pertama kalinya dirintis oleh pembalap bernama Maria-Teresa de Filippis tahun ‘58 dan ’59.
Tahun 70-an dunia balap F1 sangat jauh berbeda ketimbang sekarang, tak ayal jika para pembalap pada jaman itu boleh dibilang ‘modal nekat’ dan keberanian tinggi hingga resiko terparah adalah kehilangan nyawa. Yaps, lantaran mobil-mobil F1 pada masa itu bukanlah hal yang mudah untuk dikendalikan. Namun keberanian dan kemampuannya yang membuat Lella terus bertahan dan mendapatkan rasa hormat, salah satunya dari pembalap legendaris seperti Arturo Merzario.
Balapan Lella berikutnya adalah Grand Prix Spanyol tepatnya di Parc de Montjuic Barcelona. Seorang Jurnalis F1 terkemuka pada masa itu — Pete Lyons menyimpulkan kekacauan yang terjadi pada balap F1. ”Grand Prix pertama di Eropa tahun 1975 adalah bencana yang tak terlupakan. Sebagian besar jadwal latihan diboikot oleh beberapa pembalap, yang bersikukuh bahwa barrier/ penghalang sirkuit disekitar rumah-rumah dirakit dengan buruk. Sebuah ancaman bagi pihak penyelenggara dimana hampir seluruh peralatan F1 disita oleh polisi sehingga menyebabkan para pembalap hanya berlatih di sesi terakhir.”
“Sementara itu, pembalap seperti Emerson Fittipaldi menolak untuk memulai balapan sama sekali. Sisanya, pembalap lain memilih untuk melanjutkan perlombaan. Kecelakaan beruntun pun terjadi di tikungan pertama yang melibatkan setidaknya 9 mobil dan menyusul insiden berikutnya selama 35 menit terakhir, bahkan mobil paling depan mengalami insiden hingga terhempas keluar dari barrier. Akhirnya perlombaan segera dihentikan dan setengah poin diberikan kepada mereka yang menduduki enam posisi teratas,” lanjut Pete.

Kekhawatiran pembalap dipicu oleh tiga orang yang meregang nyawa karena kecelakaan akibat barrier yang terpasang dinilai tak memenuhi unsur keselamatan. Tentu saja penyelenggaraan semacam ini tidak akan mendapat tempat di F1 jaman sekarang. Tragedi yang terjadi, cukup melunturkan keberanian Lella, tetapi karena keyakinan dan tekad yang kuat, Ia tetap bertahan hingga akhirnya menjadi salah satu yang menduduki posisi enam teratas dan setengah poin.
Kejuaran berikutnya, Lella gagal lolos dari kualifikasi di Monako. Setelah itu mungkin dewi fortuna sedang tak berpihak pada Lella lantaran Ia hanya menduduki posisi ke-14 di Belanda, dan ke-18 di Perancis.
Selanjutnya Grand Prix Jerman tepatnya diadakan di Nurburgring, menurut pengamat disini Lella melakukan balapan terbaiknya tahun ini dan nyatanya Ia berhasil merebut posisi ke-7, hanya terpaut poin sedikit. Sayangnya, Lella kembali gagal memulai balap Grand Prix AS karena masalah pengapian dalam perjalanan menuju ke grid. Disusul finish posisi ke-14 di Grand Prix Brazil yang akhirnya Lella digantikan oleh Ronnie Peterson.

Lella kembali ke F1 tahun 1975 di Grand Prix Inggris menggunakan RAM Racing Brabham BT44 tetapi Ia gagal dalam kualifikasi. Kemudian menyusul mobil tunggangannya terpaksa harus disita pada balapan berikutnya di Jerman karena timnya berselisih dengan mantan pembalap. Sebelum akhirnya pensiun, Lella menduduki posisi ke-12 di Grand Prix Austria.
Di cabang olahraga manapun khususnya bidang otomotif, jika anda tidak didukung dengan tunggangan yang mumpuni dan waktu yang tepat, maka anda hanya memiliki sedikit peluang untuk meraih kesuksesan. Mungkin hal ini yang menimpa pada sosok Lella, karirnya boleh terhenti di arena Grand Prix tetapi tidak dengan motorsport. Bagaimanapun kala itu Lella sebagai satu-satunya pembalap wanita yang pernah mencetak sejarah dengan hasil poin yang cukup mencengangkan.

Sesuai dugaan, Lella tetap mengalihkan bakatnya pada balap endurance baik motorsport maupun touring, Ia sempat balapan di Le Mans pada empat kesempatan termasuk ketika Ia bermitra dengan Mark Thatcher, putra Perdana Menteri Inggris. Rupanya Lella menjalin hubungan yang sukses dengan Osella — salah satu prototipe mobil dengan mesin BMW dan Ia menjadi wanita pertama yang memenangkan World Championship FIA pada ajang Enna-Pergusa Six Hours bersama co-driver Enrico Grimaldi.

Setelah itu, pada musim yang sama Ia bermitra dengan Giorgio Francia dan berhasil memenangkan Vallelunga Six Hours, kemudian berlanjut meraih kemenangan di Mugello Six Hours tahun 1981. Hebatnya lagi, hasratnya mengadu adrenalin sempat Ia tumpahkan pada balap NASCAR Firecracker 400 di Daytona International Speedway tahun 1977.

Tahun 1982-1987, Lella sempat mencicipi European Touring Car Championship menggunakan Alfa Romeo Alfetta GTV6. Saat itu Ia sedang berjuang melawan kanker yang pada akhirnya merenggut nyawanya pada Maret 1992 di usia 50 tahun. Lella seakan menegaskan bahwa tidak ada satupun yang mampu mencegah dirinya berhenti bermain di arena balap kecuali maut. Bagaimanapun Lella menjadi salah satu dari sedikit wanita yang pernah merambah F1 dan motorsport dengan skor dunia. Kini semakin banyak wanita berpartisipasi dalam balap entry-level dari usia muda, tentu didukung dengan tunggangan yang semakin mumpuni.

