“The performance you were gaining was increasing lap speed up to six miles per hour from one year to the next and it was all to do with tire performance.” — Mario Andretti
Dari pernyataan pembalap legendaris, Mario Andretti, kita bisa menarik kesimpulan bahwa kualitas ban sangat menunjang kinerja mesin sebagai senjata pamungkas untuk menghasilkan kecepatan lebih.
Kembali pada masa 1970-an, Mario Andretti pernah menghabiskan beberapa sesi untuk menguji performa dan ketahanan ban di California. Kala itu para engineer/ insinyur dari sebuah perusahaan ban berusaha menciptakan groove pada ban di ajang Indy secara handmade. Singkat cerita, karena tidak banyak waktu untuk melakukan pengujian, para insinyur ingin mencoba konstruksi ban baru tetapi tidak punya cukup waktu untuk membuat groove. Ban ini menyerupai ban gundul, sehingga dalam dunia motorsport disebut dengan ban slick.
Jika kalian bingung apa itu groove? Groove adalah alur pada permukaan ban yang dirancang untuk aliran air dan untuk mencegah hydroplaning. Proporsi karet ban ke ruang udara pada permukaan jalan secara langsung mempengaruhi traksi.

Lantas Mario pun diminta untuk pengetesan, “Mereka mengatakan kepada saya untuk berhati-hati, saya pun menguji ban slick dan mencatat waktu. Butuh beberapa tahun dimana kami melakukan pengujian tanpa groove tapi justru melaju lebih cepat dan cepat lagi sampai akhirnya kami mengatakan tak perlu groove sama sekali. Mungkin ini sedikit primitif, tapi semuanya harus dibuktikan di trek balap.”
Ini membuktikan bahwa ban yang digunakan di lintasan menjadi sektor penting di dunia balap. Selama lebih dari 100 tahun, ban mengalami evolusi dalam konstruksi dan senyawa. Setiap perubahan mengajak kita kembali menelusuri sejarahnya dari titik awal — Indy 500 tahun 1911.

Ban Pertama Indy 500
Pertama kali menggunakan ukuran ban 4,5 inci yang dibalut pada mobil Ray Harroun di Indianapolis Motor Speedway tahun 1911, produsen ban melakukan improvisasi konstruksi ban agar mobil bisa melaju lebih cepat. Diameter dan lebar ban pun berubah, disertai dengan peningkatan gaya desain, konstruksi, dan senyawa telah berevolusi.
“Ketika kembali pada masa itu hingga hari ini, evolusi ban sangat menakjubkan, semua ilmu dan kimia masuk ke setiap ban,” ujar Jay Frye, IndyCar president.
Kisah bermula pada tahun 1911, dimana Indy 500 menggunakan ban pertama besutan Firestone dengan lebar 4,5 inch menghantam jalan saat menikung. Perubahan secara bertahap terjadi selama beberapa dekade berikutnya, bahkan ketika ban mengurangi penggunaan kain nilon sebagai lapisan konstruksi, tetap saja belum mendapatkan performa yang ideal.

Sebelum 1965, ban berubah menjadi 9,2 inci dimana ukuran ini hampir dua kali lipat yang digunakan pada tahun 1911. Bahkan Firestone dan Goodyear menciptakan model khusus balap untuk tim mereka, lebar dari kedua pabrikan yang nyaris 10 inci ini bertahan selama tiga dekade.
“Perubahan besar terjadi, ban dengan konstruksi radial, slick, dan karet lebih lebar,” ujar Cara Adams, chief engineer for Bridgestone Americas Motorsports of Firestone Racing. Adapun desain awal ban yang disebut cross-ply dengan fabrik diatas core, tetapi konstruksi radial mampu meningkatkan traksi dan fleksibilitas.
“Saya ingat balapan pertama saya di Trenton, New Jersey. Saya tak menyadari ban lebih dari 9 inci lebarnya dibelakang dan 6 atau 7 inci didepan, saya masih ingat betapa kerasnya ban itu dan itu berlangsung cukup lama. Saya bersyukur saya dilahirkan cukup awal untuk mengalami semua ini,” jelas Mario.

Mario menambahkan bahwa kompetisi antara Firestone dan Goodyear adalah kunci dalam dunia motorsport, menciptakan jejak agresif menuju pengembangan di pertengahan dan akhir 1960-an.
“Kemajuan yang kami capai dimana anda tak harus memiliki mobil yang berbeda, tetapi kinerja yang harus anda capai adalah meningkatkan kecepatan putaran hingga 6 mil per jam dari satu tahun ke tahun berikutnya dan itu semua berkaitan dengan performa ban,” imbuhnya.
Performa dan kualitas merupakan hasil kerja keras para insinyur ban yang terus berupaya meninjau setiap aspek konstruksi ban, dari alur hingga desain.
Bagaimanapun Mario menjadi pelaku sekaligus saksi sejarah perjalanan Indy 500, mulai dari ban slick, kemudian berubah dari konstruksi cross-ply menjadi radial. Ia mengatakan, “Waktu itu balapan di Ontario, California, saya mencoba ban radial untuk pertama kalinya. Pada lap ketiga seluruh lapisan belt ban kanan belakang terlepas, kemudian saya terbangun di rumah sakit. Dari kejadian itu, mereka banyak belajar, tetapi kini semuanya mengalami kemajuan pesat.”

Tahun 1972, Indy mengizinkan penggunaan bolt-on wing pada mobil sehingga mengharuskan pabrikan untuk beradaptasi dengan perubahan ini. Bolt-on wing tak hanya mempengaruhi aerodinamika mobil balap tetapi juga mampu meningkatkan kecepatan rata-rata hampir 20 mph, secara signifikan harus memperkuat downforce yang ditempatkan pada ban.
Pabrik ban membutuhkan konstruksi yang dapat meningkatkan cengkeraman, namun pada saat yang bersamaan ban harus tetap tahan banting dan konsisten. Ban radial pun mengalami kemajuan dengan cengkeraman yang lebih kuat. Improvisasi juga dilakukan oleh pembalap seperti Mario Andretti dimana memilih ban lebih kecil di kiri belakang.
“Saya dapat melaju lebih cepat, karena ban yang lebih kecil membantu saya mempertahankan kecepatan saat melintasi tikungan tajam,” kata Mario. Tampaknya Ia selangkah lebih maju dibanding pembalap lain, pasalnya Ia memiliki formula khusus untuk mobil balapnya. Mario telah mempersiapkan mobilnya dengan baik, mulai dari menghitung bobot mobil, dan pemilihan ukuran ban yang berbeda di kiri belakang. Lambat laun, orang-orang disekitarnya mulai memperhatikan resep rahasianya.
“Siapapun pasti tahu Al Unser memiliki mobil yang lebih baik dari saya, tak ada yang meragukan akan hal itu. Tapi setelah tiga putaran, terjadi kecelakaan besar dan bendera merah dikibarkan, kami semua berhenti kemudian mereka malah mencermati mobil saya dan bertanya apa yang ada didalamnya,” kata Mario.

Ban Untuk Segala Kebutuhan
Tak lama setelah itu, produsen ban membuat cetakan yang berbeda untuk posisi ban yang berbeda. Saat ini, Firestone sengaja menciptakan stagger dalam desainnya. Konstruksi sisi kanan ban dirancang dengan ekstra ketahanan. Lintasan yang memaksa pembalap untuk selalu belok ke kiri menyebabkan muatan transfer ke sisi terluar ban, dalam hal ini ban harus kaku, dan lebih tebal dengan tekanan angin yang besar, termasuk senyawa pun berbeda.
Seiring waktu, lebar tapak yang kecil dan diameter pelek yang besar, mulai berubah. “Peningkatan lebar tapak dan penurunan diameter mengubah aspek rasio ban, cengkeraman ban pun lebih kaku,” celetuk Adam.
Kini ada lebih dari 60 variasi spesifikasi ban balap berdasarkan karakter permukaan jalan, kondisi, dan kecepatan, setiap sesi balapan menawarkan kombinasi yang berbeda. Bahkan senyawa atau konstruksinya unik untuk setiap lintasan.

Indy 500 saat ini menggunakan 5.000 ban, spesifikasi sisi kanan ban harus tahan banting dan konsisten untuk waktu yang relatif lama sementara ban di sisi lain hanya dapat bertahan 35 detik dengan muatan lebih 3.000 pon atau sekitar 1,36 ton.
Ukuran ban kanan belakang sepertiga inci lebih besar dari ban kiri belakang dan memiliki karakter lebih lembut. Sedangkan kiri depan bertugas untuk mencengkeram permukaan jalan dengan ukuran 11 inci dan 15 inci di sisi belakang.
Dalam kurun 20 tahun terakhir, Firestone menjadi sponsor eksklusif ban balap untuk sirkuit IndyCar, dimana menghasilkan satu spesifikasi ban untuk setiap sudut mobil yang diproduksi di Akron, Ohio. Menurut Adam, sebagian besar tim memiliki setidaknya dua varian ban kering, satu fokus pada durabilitas dan satu lagi fokus pada performa kecepatan. Pula tak ketinggalan ban hujan yang mencakup campuran fabrik, besi, dan 10 senyawa yang berbeda.
Jay Frye mengatakan bahwa kolaborasi eksklusif memungkinkan Indy dan Firestone bekerja sama dalam hal pasokan dan keselamatan. Bahkan insinyur Firestone menjalin komunikasi intim dengan para pembalap dari berbagai tim untuk melakukan analisis pada kinerja ban, termasuk membahas faktor keamanan untuk semua tim.

Ban Indy 500 – 2019
Pada Indy 500 2019, Firestone memperbarui desain Aerokit yang diperkenalkan sejak tahun lalu. Produk yang masih segar ini menawarkan ban yang lebih fleksibel dimana mampu berubah bentuk saat karet bersentuhan dengan jalan untuk meningkatkan ketergantungan muatan dan tingkat cengkeraman yang lebih konsisten.

Lantaran regulasi IndyCar yang sedemikian ketat, tak banyak ruang bagi tim untuk mengoptimalkan kinerja mobil tetapi ban menawarkan fleksibilitas. Setiap tim Indy 500 boleh saja memiliki ban yang sama, tetapi tim berhak memilih senyawa yang berbeda dalam hal stiffness and softness. Selain itu, penting bagi pembalap untuk mengatur tekanan ban selama perlombaan.
Mario Andretti yang selalu berjalan beriringan selama Indy 500 berevolusi menegaskan bahwa ban telah memainkan peran penting dalam dunia balap.

