Wajib hukumnya jika barang langka sampai kapanpun bakal jadi buruan para kolektor, salah satunya mobil besutan Jerman milik Rifat Sungkar. Dibalik hobi dan profesinya sebagai pembalap reli, rupanya diam-diam Rifat menyimpan hasrat terpendam pada mobil klasik.

Saat tim FnL menyambangi mobil milik Rifat pada gelaran JVWF 2019 di JEC beberapa pekan lalu, benar saja…sebuah Porsche 356A Seri Coupe mampu menyihir mata para pengunjung. Bagaimana tidak, pasalnya populasi Porsche 356A sendiri di Tanah Air kabarnya tak lebih dari 10 hitungan jari. Wagelaseh ini!

Rifat bertandang ke JEC pada hari kedua dan untuk pertama kalinya melihat hasil restorasi koleksinya. “Ini pertama kali mas Rifat lihat hasil jadinya karena terakhir dia lihat sekitar 3 bulan lalu, jadi ini surprise tersendiri buat dia,” celetuk Stefanus Giovani Wicaksana, pemilik bengkel Volkswise Autoworks asal Surabaya yang menggarap mobil Rifat.

“Mas Rifat minta jadi nggak jadi Porsche 356A ini harus dibawa ke JVWF, bahkan saat towing datang sedang dilakukan adjustment pada settingan kopling tapi akhirnya nggak butuh lama untuk perbaikan,” sambungnya.
Penasaran? Yuk, kita ulik lebih lanjut proses dan kisahnya.
Berawal dari Agustus 2014, kala itu Rifat menghubungi Stefanus untuk curhat soal mobil. Kemudian saat Rifat berada di Surabaya, Ia bertandang ke bengkel Volkwise. “Disitu kami ngobrol-ngobrol dan mas Rifat memberikan dua opsi ke saya antara Porsche 911 keluaran 70’an atau 356A tahun ‘56 ini. Sebenarnya duitnya cuma cukup beli 911 sedangkan harga 356 dua kali lipatnya. Terus dia minta pertimbangan ke saya pilih yang mana, kalau saya bilang ambil yang ini (356) donk lebih tua,” jelas Stefanus yang akrab disapa Stefi.

Selang waktu yang cukup lama, Rifat pun tak terdengar kabar beritanya, usut punya usut ternyata Rifat sudah membeli mobil idamannya. “Nah yang jual mobil ini teman mas Rifat sendiri karena mau pindah ke Aussie, dan untungnya diberi kelonggaran bisa nyicil.”

Selepas pindah tangan, Rifat segera memboyongnya ke Surabaya untuk direstorasi. “Kondisi mobil waktu itu baru selesai dilas, memang belum dicat dan masih kosongan semua, pokoknya spare part dan aksesoris minim. Part yang nempel cuma sebagian kaca, mesin, dan girboks, sisanya kita cari ke seluruh penjuru dunia, khususnya di Amerika dan Eropa,”

Gayung bersambut, pada pertengahan Juli lalu Stefi pergi ke Jerman dalam rangka mendatangi acara VW, disitu Ia sekaligus berburu sejumlah item meski sebagian besar diperoleh dari Amerika.

“Dalam pengerjaannya paling sulit mengerjakan bodi termasuk bumper, karena semua detail dan bentuk mobil ya dari bodi. Kalau catnya sebisa mungkin minim dempul,” sautnya.

Adapun kelir orisinil mobil ini merah tua namun sang pemilik memilih warna fjord green berkode 5705. Yaps, tak mau sembarangan pilih, fjord green juga merupakan salah satu varian warna Porcshe 356 keluaran ‘56.

Tak sia-sia, proses pengerjaan yang memakan waktu selama 14 bulan menghasilkan buah yang manis. Porcshe 356A milik Rifat berhasil menyabet predikat “Art of Speed Pick”. Wihh, selamat ya sob!

Saat ditanya soal keotentikannya, Stefi tak ragu menjawab, “Surat-surat semuanya ada dan asli, nomor sasis dan mesin akur.”

Lantas kira-kira apa yang membuat Rifat tampaknya begitu percaya dengan keahlian Stefi? Stefi pun sempat menceritakannya, “Dulu papa saya bengkel juga lalu ‘nurun’ ke saya. Papa saya memang hobi VW sedari dulu, jadi nggak heran kalau saya berangkatnya juga dari VW.”

“Sejak itu saya sudah biasa merestorasi mobil VW klasik seperti Karmann Ghia, 356 dan varian VW lainnya. VW sama Porche klasik itu kan identik karena yang bikin insinyurnya sama. Sejauh ini saya kebanyakan menangani kolektor pribadi, jadi masuk bengkel pun nggak ada plangnya,” tutupnya. Pantas saja jika sepak terjang Stefi soal mobil klasik tak perlu diragukan lagi.

Sekilas Tentang Porsche 356
Porsche 356 diproduksi tahun 1948-1965 yang terdiri dari berbagai tipe model yakni 356/2 “Gmund”, 356 “Pre-A”, 356A, 356B, dan 356C. Sementara 356A seperti milik Rifat diproduksi pada Oktober 1955 hingga September 1959 dan kebanyakan menggunakan tipe mesin 1,582 cc (1.6-liter 96.5 cu in) 4-cylinder boxer air cooled naturally aspirated pushrod.

Dalam pabrikan, 356A memiliki julukan desain “Type 1” atau disebut “T1” oleh para penggemarnya, kemudian muncul 356A revisi kedua yang dikenal sebagai desain “Type 2” pada awal tahun 1957. Secara keseluruhan 356 dibekali banyak parts dengan contemporary air-cooled VW Beetle, hanya saja 356 memiliki struktur bodi yang lebih unik dengan bentuk yang lebih aerodinamis dan mesin yang lebih powerful.

Kepopuleran Porsche 356A tak hanya terjadi di Tanah Air, begitu pula di negeri Paman Sam. Bahkan menurut situs Hemmings.com, Porsche 356A dibandrol mulai dari 94.500 dolar hingga 485.000 dolar. Mungkin karena kepopulerannya dan harga yang terdengar tak terjangkau ini membuat 25 tahun terakhir makin banyak bermunculan replika dari 356A.




