INDRAMAYU – Terkait penggunaan publik area yang kini menjadi tren dan kerap digunakan untuk menjadi arena pertarungan para pereli Tanah Air dalam ajang Sprint Rally, tentu memiliki plus dan minus bagi para pereli Tanah Air.
Memang untuk mendapatkan lokasi yang proper untuk sebuah penyelenggaraan Sprint Rally tidak mudah, terlebih di wilayah penunjang Jabodetabek. Dengan kondisi tersebut, acapkali menjadi salah satu alasan bagi promotor menyulap sebuah area public untuk dijadikan sebuah sirkuit non permanen untuk kompetisi.
Jika hanya bermodalkan faktor menantang yang harus dijadikan santapan dari para pereli, tentu hal ini harus dicermati lagi terkait beberapa faktor pendukungnya. Sebab, dalam sebuah kompetisi tidak hanya faktor menantang yang ditonjolkan, namun aspek lain yang menjadi pendukung juga harus diperhatikan.
Sirkuit Sport Center Indramayu, Jawa Barat, yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan seri penutup Kejurnas Sprint Rally 2023 mendapatkan atensi yang begitu besar dari para pereli. Apalagi kalau bukan soal karakter lintasan yang dinilai oleh beberapa pereli cukup mengkhawatirkan.
Sebagian area publik tersebut, ditambah dengan menggunakan separuh jalan umum, menjadi salah satu concern pereli terkait keamanan sepanjang kompetisi. Hal ini diungkapkan oleh TB Adhi, salah satu advisor dari HRVRT Rally Team.
“Balik lagi seperti yang saya bilang, masalahnya orginizer harus upgrade. Sekarang, berkembangnya zaman, harusnya yang paling repot gimana caranya mengupgrade kualitas dari peserta itu paling repot, karena individual. Sekarang pembalap masing-masing sudah melakukan upgrading terhadap senjatanya dan juga beberapa hal penunjang lainnya, sekarang penyelenggaranya yang harus melakukan upgrade,” ungkap TB Adhi, saat dihubungi FastnLow.

Haji Rihans Variza pereli HRVRT Rally Team (Foto: doc HRVRT)
Di samping itu, ia juga menyayangkan bahwa seri pamungkas yang sejatinya menjadi momen istimewa untuk menutup rangkaian musim 2023, harusnya bisa dikemas dengan suguhan yang mumpuni untuk segala aspeknya.
“Ya kita berharap final round kemudian juga yang balapan orang-orang hobbies semua, ya ayolah sajikan yg baik. Kalau kondisinya seperti beberapa tahun lalu, ya apa boleh buat dengan trek ala kadarnya dapat dimaklumi. Ini kan tahun 2023,” ungkapnya lagi.
Dengan kondisi lintasan yang sempit tersebut, ia juga membeberkan bahwa pereli andalannya, Haji Rihans, memiliki kekhawatiran dengan karakternya track. Menurutnya, melihat kondisi tersebut, maka settingan mobil yang sejatinya memiliki tenaga buas, terpaksa harus diturunkan dan tidak disetting dengan kapasitas maksimum.
“Kemarin kaya Haji Rihan enggak berani untuk set up maksimum mobilnya karena mobilnya akan lebih agresif, antilag tidak pakai maksimum, boost tidak pakai maksimum. Ini bukan masalah dia bisa handle atau tidak , karena jadi takut kalau dia tidak bisa mengendalikan kendaraannya saat kondisi agresif dan khawatir akan membahayakan orang,” imbuhnya lagi.
Sementara itu, tidak hanya TB Adhi yang memberikan concern terhadap sirkuit non permanen tersebut. Haji Rahmat, pereli LFN Sederhana Motorsport, juga ikut menyampaikan bahwa ia berharap kedepannya kemasan untuk penyelenggaraan Sprint Rally bisa lebih ditingkatkan dan harus sesuai dengan karakter teknologi mobil rally yang kini sudah lebih canggih.
“Ya track memang harusnya dengan segala hormat, apabila kita memang rally atau sprint rally di Indonesia, skill untuk drivernya lebih maju, ya treknya dibikin lebih proper karena kan mobil sudah canggih, jadi dari track juga harus lebih di bikin maju lagi. Semoga tahun depan kita dapar track yang bagus,” tambah Haji Rahmat.

Haji Rahmat kesampingkan ego pribadi untuk kepentingan tim
Begitupun dengan M Yassin Kosasih, pereli sekaligus pembalap touring di ajang ISSOM ini juga menyampaikan pendapatnya terkait kondisi lintasan tersebut. Dalam kacamatanya, ia ingin suguhan dari kompetisi ini harus berimbang dan tentunya dibuat selayak mungkin bagi semua pihak, baik dari pereli, penyelenggara sampai penonton.
“Saya kira, mayoritas teman-teman melihat sirkuitnya kurang nyaman, artinya kita harapkan sprint ada gravel dan ada tarmac, kalau kemaren itu full tarmac. Dan sirkuitnya juga lintasannya pendek, saya kira kalau ada pilihan lain lebih bagus, dan sebelumnya di Meikarta, Jababeka, itu menurut saya lebih bagus,” ujarnya melalui sambungan telepon.

M Yassin Kosasih masih menggunakan Mitsubishi Lancer Evo IX
Meski demikian, Rifat Sungkar sebagai maestro rally di Indonesia memiliki pandangan lain terkait kondisi lintasan yang dijadikan arena perebutan gelar Juara Nasional Sprint Rally lalu. Ia menyoroti track inspection yang harus lebih dimatangkan terkait kondisi lintasan yang bakal dijadikan lintasan balap.
“Jadi sebetulnya kalau pelaksanaan event itu pantesnya track inspection harus dilakukan. Satu bulan sebelumnya, paling lambat dua atau tiga bulan sebelumnya untuk menentukan. Tapi, jika tidak ditemukan track lagi, solusinya apa? Kita harus ada solusinya juga,” buka Rifat, saat ditemui di Jakarta (3/11/2023) siang.
Adapun concern terkait keselamatan, memang ia tidak pernah kompromi soal tersebut. Seperti slogan Korlantas Polri, keselamatan nomor satu, maka dalam balapan pun hal tersebut harus dijunjung tinggi di atas segalanya.

Aldio Oekon perlu beradaptasi dengan Ford Fiesta Rally3 (Foto : DMO Garage)
“Sebetulnya ini lebih kepada safety penonton, kalau kita bicara balap, semua ada insiden. Masalah itu nabrak pagar, atau nabrak yang lainnya, pasti ada insiden. Dan semua orang yang start tau, 50 persen dari start itu pasti ada insiden dan kita tau semua mobil yang lewat punya resiko. Tinggal bagaimana menimimalisir resikonya kan? Dan dengan adanya kasus seperti kemarin, sebetulnya insidennya enggak ada yang gede kan? Tapi diasumsikan dengan posisi seperti itu mereka bisa mendapatkan kecelakaan yang luar biasa hebat. Dan kecelakaan yang luar biasa hebat itu antisipasinya apa, enggak ada kan? Berarti harusnya sebetulnya dipangkas aja dipotong aja jalanannya,” bebernya lagi.
Terlepas dari semua itu, ini menjadi tanggung jawab bersama dari semua pihak untuk membuat atmosfer sprint rally bisa menjadi lebih seiring dan sejalan dengan berkembangnya zaman. Apa yang bisa dipetik dari gelaran tersebut harus menjadi catatan penting bagi semua pihak agar tidak memberikan stigma negatif di kemudian hari. Jangan sampai benchmark tersebut mendarah daging di semua gelaran Kejurnas Sprint Rally Tarmac. (*)

