BANDUNG – Dalam Kejurnas Sprint Rally seri kedua yang diselenggarakan di Sirkuit Si Jalan Harupat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Canya Prasetyo tampil perdana dengan menggeber Mitsubishi Evo X dan turun di grup M.
Hal ini tentu menjadi sesuatu yang baru, bukan hanya harus pengenalan dengan karakter lintasan, tetapi ia juga harus beradaptasi dengan cepat terhadap mobil relinya.
Rupanya, asal usul ia harus menggunakan mobil tersebut dikarenakan ayahnya, Prasetyo Edi Marsudi, yang juga seorang pereli dan offroader Banteng Motorsport.

Canya Prasetyo mulai beradaptasi dengan Mitsubishi Evo X (Foto: DBS)
“Jadi awalnya saya pikir akan bawa Subaru. Tapi, papah minta aku bawa Evo ini. Padahal aku sama sekali enggak punya knowledge tentang mobil itu, kalau Subaru kan sudah pernah sebelumnya,” ungkap Canya, saat wawancara dengan FastnLow di sela-sela Kejurnas.
Tidak mau berlarut dalam titah yang diberikan oleh ayahnya, Canya, kemudian mengikuti latihan di bawah asuhan mentornya sebelum penyelenggaraan Kejurnas dimulai. Menurutnya, setelah mendapatkan masukan saat latihan cukup memberikan ia pengetahuan terkait karakter mobil dan bagaimana cara untuk menghandle mobil di lintasan aspal.
Ada beberapa hal dasar yang ia pelajari dari sesi tersebut, seperti melakukan u-turn, kemudian cara start, serta bagaimana cara melakukan donut.
“Aku belajar banyak pada saat sesi latihan itu. Jadi lebih tahu lagi harus bagaimana, dan seperti apa saat dihadapkan dengan u-turn, saat start harus gimana, dan juga untuk membuat mobil ini lebih bisa dikendalikan,” tambahnya.

Canya Prasetyo perlahan menunjukkan improve (Foto: DBS)
Namun, pereli yang membawa tim Banteng Motorsport ini memiliki optimisme apabila kedepannya masih dipercaya untuk menggeber Mitsubishi Evo X. Menurutnya, penyesuaian terhadap mobil akan lebih cepat karena seiring bertambahnya jam terbang, kapabilitasnya juga akan mengalami improve.
“Tapi kalau misalkan aku sudah latihan, sekitar 3 kali atau 4 kali, mungkin aku sudah paham dengan karakter mobilnya,” pungkasnya. (*)

