Pebalap tim Jagonya Ayam with Carlin Sean Gelael mengantongi modal positif jelang balap mobil GP2 seri ke-7 di Sirkuit Spa-Francorchamps, Belgia, 21-23 Agustus. Ia lebih cepat 0,8 detik atas rekan setimnya asal Kolombia Julian Leal dalam latihan simulator di markas tim Carlin di Farnham, Inggris.
Dalam simulasi, Sean mencatat waktu 1 menit 55,4 detik di lintasan sepanjang 7,004 kilometer itu. Keunggulan atas Leal yang sudah lima musim tampil di ajang GP2 membuat pebalap berusia 18 tahun itu percaya diri menatap kiprah kedua kalinya musim ini.
Secara teori, hasil latihan simulator tak berbeda jauh dengan hasil di balapan sesungguhnya. Itu beberapa kali dibuktikan dengan catatan waktu Sean dan Tom Dillmann dalam satu putaran saat berlaga di ajang Formula Renault 3.5 World Series.
Dalam debutnya pada seri keenam GP2 di Sirkuit Hungaroring, Hongaria, bulan lalu, catatan waktu Sean hanya tertinggal 0,5 detik dari Leal di balapan pertama atau future race. Sebagai debutan, itu bukan hasil yang buruk karena Sean bisa menjalani balapan dengan mulus hingga finis dan berselisih waktu cukup dekat dengan pebalap yang jauh lebih berpengalaman.
“Target saya di GP2 musim ini untuk belajar dan beradaptasi dengan baik. Saya berharap mencatat perkembangan yang positif hingga akhir musim,” ungkap putra mantan pereli nasional Ricardo Gelael itu.
Ya, bagi pebalap yang baru mencicipi GP2 tahun ini, Sean menyadari bahwa progres jauh lebih penting ketimbang hasil akhir. Rasa percaya diri akan tumbuh seiring perkembangan yang meningkat dari seri ke seri. “Itu yang saya tekankan kepada Sean. Tidak usah memikirkan hasil akhir, tetapi pergunakan kesempatan ini untuk belajar dan berkembang,” ujar sang ayah, Ricardo.
Maka, Sean pun bertekad mengalahkan Leal di lomba yang sesungguhnya. Andai berhasil, itu akan meningkatkan kepercayaan diri pada balapan selanjutnya. “Selain diri sendiri, musuh terbesar pebalap ialah rekan setim. Logikanya, saya dan Leal memakai mobil yang sama meskipun dengan setelan yang sedikit berbeda,” kata pebalap yang menggemari musik hip-hop itu.
Pada GP2 musim ini, Sean bakal mengikuti lima seri. Setelah Hungaroring dan Spa, ia akan mengikuti tiga seri terakhir di Sochi (Rusia), Sakhir (Bahrain), dan Yas Marina (Abu Dhabi). Kesempatan ini akan dimanfaatkan untuk mengenal seluk-beluk GP2 sebelum tampil semusim penuh tahun depan.
Spa-Francorchamps bukanlah sirkuit yang asing bagi Sean. Sejak tahun 2013, ia beberapa kali tampil di salah satu lintasan terpanjang di dunia itu, mulai dari Formula 3 Eropa, Formula 3 Inggris, dan Formula Renault 3.5 World Series. Di ajang Formula 3 Inggris, ia tiga kali naik podium. Dua kali menempati peringkat ketiga dan sekali sebagai runner up.
Spa merupakan sirkuit yang menuntut teknik tinggi, terutama di ajang GP2. Pebalap leluasa memacu mobil dalam kecepatan tinggi untuk memanfaatkan banyaknya lintasan yang lurus dan lebar. Namun, di sisi lain, pebalap mesti cermat mengelola kondisi ban Pirelli yang dirancang lebih cepat terdegradasi dibandingkan ban merek lain.
“Dengan panjangnya lintasan di Spa, pebalap hanya memiliki kesempatan satu putaran untuk mendapat waktu terbaik. Selebihnya, kita mesti pintar-pintar mengatur tingkat keausan ban,” ujar Sean.




