Kota Detroit merupakan cikal bakal lahirnya tiga automaker raksasa Amerika Serikat pada awal tahun 1900-an sebut saja Ford, General Motor dan Fiat Chyrsler Automobile. Sejak itu Detroit, Michigan, menjadi kandangnya sejumlah automaker kenamaan.
Tetapi tahukah anda sebelum tiga automaker itu berdiri, sejatinya ada seorang insinyur yang pertama kali menciptakan mobil bertenaga bensin di kota itu. Adalah Charles Brady King, orang pertama di Detroit yang merancang, membangun, dan mengendarai mobil self-propelled pada tahun 1896. Kendaraan itu melaju secepat 20 mil/jam, yang digambarkan di surat kabar Detroit Journal rilisan 7 Maret 1896 berbunyi “menyusuri jalan dengan kecepatan tinggi dan menghindari kerumunan orang”.
King bukanlah orang pertama di dunia atau bahkan yang pertama di AS, namun Ia adalah orang pertama yang menciptakan mobil bensin di Detroit, Michigan. Dan tebak? King bertugas sebagai mentor untuk Henry Ford — pendiri Ford, Ransom Eli Olds — pendiri Oldsmobile atau kini General Motor, dan lainnya dalam upaya mengembangkan ‘kereta tanpa kuda’.

Iya, transisi dari jaman kuda ke jaman bermotor kala itu terbukti sangat berbahaya. Awalnya, mobil yang melaju kencang bukanlah masalah besar, beberapa diantaranya terjadi di jalanan Detroit, tetapi perubahan situasi menjadi semakin cepat. Pada awal 1908, kecelakaan mobil di Detroit diakui sebagai masalah yang mengancam — dalam dua bulan musim panas, 31 orang tewas akibat kecelakaan mobil dan begitu banyak yang terluka sehingga tidak tercatat.
Tak lama kemudian, ribuan mobil macet di jalan-jalan Detroit karena dikendarai oleh para pengemudi yang tidak berpengalaman. Bermula dari sinilah, Detroit menemukan solusi untuk mengatasi kekacauan ini, yakni:
– Detroit adalah kota pertama di AS yang menggunakan rambu stop, marka jalan, rambu lalu lintas dan jalan satu arah.
– Detroit, diantara yang pertama memiliki pasukan polisi yang didedikasikan untuk kontrol lalu lintas, dan yang kedua di kota New York dalam menciptakan pengadilan yudisial atas pelanggaran lalu lintas.
– Kota ini menarik perhatian nasional karena menggunakan perangkat pengecatan garis lapangan tenis untuk menandai area penyeberangan pejalan kaki, zona keselamatan dan ruang parkir.
Dalam banyak hal, Detroit adalah kota pertama yang mentransformasi jalan-jalan dan mindset orang-orang dari jaman kuda ke jaman baru. Sebuah masa transisi kendaraan bermotor yang terbilang cepat, tetapi itu adalah pertempuran yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menang.

Apakah mobil itu sebuah ‘teror’?
Pada dekade pertama abad ke-20 tidak ada rambu stop, rambu peringatan, lampu lalu lintas, polisi lalu lintas, pendidikan mengemudi, garis lajur, penerangan jalan, lampu rem, SIM, dan rambu batas kecepatan. Metode saat belok pun tidak diketahui karena belum diciptakan lampu sein, bahkan mabuk alkohol sambil mengemudi tidak dianggap sebagai suatu kesalahan atau pelanggaran.
Ada sedikit pemahaman tentang kecepatan. Sebuah buletin pelatihan pengemudi yang disebut “Sportsmanlike Driving” menjelaskan antara kecepatan dan gaya sentrifugal dan mengapa ketika pengemudi mengambil tikungan dengan kecepatan tinggi mobil mereka tergelincir atau bahkan terlentang seperti kura-kura alias mobil terbalik.

Detroit Free Press, rilisan 29 Juni 1914 menyebutkan, ”Sebuah mobil yang berisi pasangan pengantin, beberapa tamu pernikahan, tiga anak, dan banyak botol minuman keras ditemukan terbalik di tikungan dari Labelle Avenue ke Woodward pada Minggu malam dengan kecepatan setidaknya 40 mil/jam.”
Iya, ini karena banyak pemilik mobil yang tidak berpengalaman, ditambah masalah lagi ketika pertumbuhan mobil begitu cepat. Statistik yang disimpan oleh Automobile Club of America, tercatat bahwa ada 200.000 kendaraan bermotor di AS tahun 1909. Tujuh tahun kemudian, tahun 1916, ada 2,25 juta kendaraan.
Para politisi, polisi, dan hakim memperdebatkan bagaimana cara mengendalikan kekacauan ini meliputi aturan hukum di jalan, dan siapa yang bersalah atau tidak bersalah dalam kasus perkara hukum dan proses pengadilan.
“The Law of the Automobile” sebuah buku pertama kali diterbitkan tahun 1906 oleh pengacara Xenophone P. Huddy yang membahas konsekuensi hukum dengan konsep baru seperti ‘ngebut’, tujuan dan fungsi jalan, dan hak-hak pejalan kaki dan anak-anak yang bermain di jalan. Iya, tidak ada yang namanya taman bermain anak pada waktu itu.
Debat serius diadakan di ruang sidang dan editorial mengenai ‘apakah mobil itu buas?’. Pengadilan negara bagian Georgia menuliskan, “Mobil harus digolongkan dengan hewan buas dan hukum yang berkaitan dengan tugas pemilik hewan tersebut harus diterapkan. Namun mereka tidak boleh digolongkan dengan anjing nakal, banteng ganas, dan sejenisnya. ”

Mobil kian ‘menjamur’ di Detroit
Pada tahun 1917, Detroit dan pinggiran kota memiliki 65.000 mobil, yang mengakibatkan 7.171 kasus kecelakaan dan 168 kematian. Tiga-perempat korban adalah pejalan kaki.
Detroit berbeda dari kota New York dan kawasan east cost, dimana sebagian besar mobil dikemudikan oleh sopir berseragam yang dipekerjakan kaum elite. Sementara di Detroit tak memandang usia dan status sosial, hampir semua orang berkesempatan mengemudi.
Sebuah adegan yang lazim terjadi di Detroit pada era itu ketika putra mereka berusia 11 tahun membawa satu keluarganya berkeliling seputaran kota. Belum lagi, truk angkutan ringan dikendarai oleh anak laki-laki berusia 14 tahun yang secara terus menerus dituntut untuk menyelesaikan pengiriman secara cepat.
Seorang wanita muda pernah ditahan oleh polisi setelah mengemudi di trotoar Detroit hingga menewaskan beberapa orang. Itu adalah penangkapannya yang ke-26 karena mengemudi dengan sembrono. Ia mengaku sering pingsan.

Streetcar atau disebut trem yang melaju di tengah jalan menjadi spot paling berbahaya di kota. Pasalnya, penumpang yang turun dari trem harus beradu nyali menghindari mobil, truk, sepeda motor, dan kereta kuda demi menyeberang jalan dengan aman. Seringkali mereka juga tidak dapat memperkirakan seberapa dekat mobil yang melintasi mereka dan bergegas loncat menyingkir seperti tupai.

Tragedi yang paling naas adalah sejumlah anak-anak yang tertabrak dan tewas oleh mobil ketika mereka bermain di jalan, beberapa kasus terjadi di depan rumah mereka sendiri. Tahun 1920-an, tercatat 60 persen korban kematian karena kecelakaan mobil di seluruh negeri adalah anak-anak dibawah usia 9 tahun.
Artikel Detroit Free Press menyebutkan, putra dari keluarga asal Italia yang berusia 18 bulan tertabrak dan terjepit roda mobil. Ketika ayah dan polisi histeris mengeluarkan mayat anak itu, sang ibu kembali ke rumah dan bunuh diri. Benar-benar tragis.
“Lima anak berusia sekitar 2-9 tahun terluka ketika mobil berkelir merah menabrak sekelompok anak kecil, mereka sedang bermain di jalan pada Sabtu sore. Ketika pengemudi menabrak mereka, Ia sempat mematikan mobilnya, keluar lalu menyalakannya dan kabur ke timur arag Monroe meninggalkan anak-anak terluka di jalan,” — Detroit Free Press, 22 Juni 1919.

Upaya memberlakukan hukum
Penyebab utama kecelakaan kendaraan bermotor masih dilihat sebagai laju kecepatan yang berlebihan. Hingga tahun 1909 belum ada peraturan lalu lintas di Detroit. Pengadilan dan polisi memutuskan untuk mengatasi masalah ini dengan pendekatan sederhana: “Atur batas kecepatan sesuai dengan kecepatan kereta kuda seperti 5 mil/jam. Jadikan jalanan aman dan lambat seperti sebelum jaman mobil.”
Tatkala mobil pada awal 1910-an belum dianggap sebagai moda transportasi utama namun kecepatan merekalah yang membingungkan para pejalan kaki, kuda yang ketakutan dan pengguna jalan lainnya. Namun tak bisa dipungkiri kecepatan ‘normal’ kereta kuda begitu lambat sehingga pemilik mobil kesulitan untuk menjaga mobil mereka dari mogok.

Jika pengemudi melanggar aturan, hukumannya berat termasuk hukuman penjara, denda dan tuduhan pembunuhan jika pejalan kaki tertabrak atau tewas. Pada suatu sore tahun 1911, polisi mengangkut 450 orang sebelum menghadap Hakim Pengadilan John Connolly dengan dakwaan melaju kencang.
Namun strategi yang masih terbilang lemah ini menjadi jelas karena sistem berlalu lintas semakin ‘tebal’ dan polisi berjuang untuk menjaga jalan utama tetap aman dan lambat. Upaya kepolisian ini disebut Broadway Squad, meniru program yang dimulai di New York City. Sembilan polisi yang lebih tua ditugaskan untuk membantu pejalan kaki khususnya lansia untuk menyeberang persimpangan pusat kota yang rawan kecelakaan.
Kemudian digantikan dengan Traffic Squad, terdiri dari satu sersan dan 12 perwira yang terbagi dalam shift empat orang di Woodward dan State Street. Mereka merancang metode pemberian isyarat untuk mengurai kekusutan dan pemblokiran lalu lintas yang berlaku untuk semua jenis kendaraan. Karena mungkin dianggap aneh dan mengundang tanya, petugas isyarat pun menarik kerumunan pejalan kaki yang lewat.

Dalam laporan tahunan, Detroit Traffic Superintendent, William Rutledge menegaskan, ”Tangan yang terangkat adalah sinyal untuk berhenti, dan tangan berayun mengitari tubuh berarti jalan.”
“Para pengemudi yang kebetulan memperhatikan sinyal dari petugas tampaknya tidak paham apa yang diinginkan, sehingga petugas perlu menghampiri mereka dan menjelaskan arti dari sinyal tersebut. Para petugas harus menunjukkan kesabaran yang cukup besar,” — kisah Departemen Kepolisian Detroit yang diterbitkan oleh Detroit Free Press tahun 1916.

Tahun 1916, seperempat dari total kepolisian Detroit, tepatnya 250 petugas diandalkan untuk mengatur lalu lintas. Pada 25 Mei 1920, Detroit dicetuskan sebagai kota kedua di negara AS setelah New York yang mempelopori pengadilan lalu lintas. Pada hari yang sama diumumkan bahwa orang ke-17 tewas dalam kurun 24 hari pertama bulan Mei — Zeana Coatley, 4 tahun, tertabrak di depan kantor, pula tercatat anak kedelapan yang tewas bulan itu.
Segera polisi mengakui di depan publik bahwa mereka kewalahan mengatur lalu lintas dan tidak mampu menambah lebih banyak petugas untuk menjaga keselamatan jalan. Tampaknya kota kalah berperang melawan pengemudi yang sembrono.

Apakah drama ini telah berakhir? Nope, tunggu kelanjutan Part-2 ya gaes…
By: Lie

