Lahirnya kendaraan bermotor dalam upaya mengembangkan ‘kereta tanpa kuda’ di Detroit menandai era yang lebih modern kala itu, meskipun pada masa transisi selama puluhan tahun butuh upaya besar untuk beradaptasi dari segi habit mengemudi maupun pejalan kaki hingga instrumen rambu lalu lintas.
Apalagi perkembangan populasi mobil yang begitu pesat pada dekade pertama abad ke-20 tidak dibekali edukasi dalam hal mengemudi. Naasnya, tahun 1910-an tercatat ada 7.171 kasus kecelakaan dan 168 kematian, tiga-perempat korban adalah pejalan kaki. Bahkan kepolisian setempat pun kewalahan dalam menghadapi pengemudi yang sembrono. Well, berikut kelanjutannya…

“Safety Parade”
Pasca Perang Dunia I, ketika tingkat kecelakaan masih membumbung tinggi, surat kabar melabeli para pengemudi sebagai “pembunuh tanpa belas kasihan’, bahaya ini terhadap keselamatan publik seperti halnya penyakit epidemi. Di Detroit dan kota lainnya, massa yang marah menyeret pengemudi yang ugal-ugalan keluar dari mobil.
Salah satu contoh adalah John Harrigan, pria kaya berusia 26 tahun dari Grosse Pointe. Ia mengemudi dalam keadaan mabuk, kemudian menabrak dan menewaskan seorang pekerja jalanan kota. Ia dihukum dengan tuduhan pembunuhan dan diarak oleh polisi di Safety Parade tahun 1922.

Sedikit mundur ke belakang, tahun 1919, Detroit Safety Council memberikan lonceng ke stasiun Damkar, gereja, sekolah dan Balai Kota untuk dibunyikan dua kali sehari dalam mengenang korban jiwa kecelakaan. Di kelas sekolah, para guru dan sesekali petugas polisi akan membacakan nama-nama anak yang tewas dan bagaimana mereka tewas. Beberapa kota mencetak ‘peta pembunuhan’ yang menunjukkan lokasi kematian karena kecelakaan mobil dan sebagian membuat poster bergambar anak yang berlumuran darah.
Karena itulah Safety Parade yang dimulai pada tahun 1920-an menjadi katup penolong emosional atas kerugian masyarakat. Persimpangan pusat kota yang paling ramai di Detroit, terpasang papan dengan huruf capital bertuliskan “A-B-C” yang berarti “Always Be Careful” untuk mengingatkan pengguna jalan. Ribuan warga menyaksikan tumpukan bangkai mobil di Woodward dengan plakat bertuliskan “He tried to make 90!” atau “Follow this one to the cemetery”.
Parade di Detroit menampilkan pengemudi berpakaian seperti setan dan mayat bersimbah darah sebagai penumpang. Anak-anak lumpuh akibat kecelakaan, duduk di kursi belakang mobil terbuka sambil melambaikan tangan ke anak-anak lain yang menonton dari trotoar. Sementara parade di Washington DC dan New York diikuti sebanyak 10.000 anak-anak berpakaian hantu, masing-masing mewakili kematian tahun itu. Pula diikuti oleh ibu-ibu muda yang berduka mengenakan bintang putih atau emas untuk menunjukkan bahwa mereka kehilangan anak.

Gagasan baru
Selain bahaya kecelakaan karena pengemudi yang ugal-ugalan, isu gangguan parkir dan jalanan yang macet juga menjadi perhatian di Detroit. Gedung bertingkat tidak memiliki ruang parkir dan tidak ada undang-undang atau bahkan etika parkir, mereka seenaknya berhenti di depan gedung dan meninggalkannya berjam-jam. Sementara di lingkungan perumahan, rumah tidak memiliki garasi atau bahkan jalan masuk sehingga pinggir jalan dipenuhi dengan mobil.
Istilah baru kemudian muncul seperti pengemudi ‘hit and run’ alias tabrak lari, lalu ‘joyrider’ — mencuri mobil terbuka dan lepas landas dengan kecepatan tinggi, biasanya meninggalkan mobil di pinggir jalan atau menghancurkannya dalam kecelakaan. ‘Road hogs’, ‘speed maniacs’ dan ‘sunday drivers’ — istilah ini juga mulai disematkan di surat kabar.

Dan ‘Juggernauts’ adalah mobil ugal-ugalan yang menabrak kerumunan orang di pinggir jalan menunggu kedatangan trem. “Pejalan kaki menjerit berserakan seperti pin bowling, beberapa orang terlempar ke depan toko. Penumpang disebelahnya jelas ketakutan oleh teriakan kerumunan, melompat dari tempat duduknya dan berlari dengan cepat menghilang ke dalam kegelapan.” — Detroit Free Press, 20 Januari 1919.
Mulai tahun 1915, mobil menjadi moda transportasi penting di Detroit, sehingga aturan batas kecepatan 5 mph sudah tidak ideal lagi untuk diterapkan. Disisi lain, kota ini juga mengklaim sebagai pusat industri kendaraan bermotor, oleh karena itu pemerintah seharusnya melakukan upaya terkait publisitas harian yang terus menerus membahas ketakutan dan kemarahan publik terhadap mobil.
Beberapa pengadilan kota di AS mulai mempertimbangkan penerapan pemasangan mesin untuk membatasi kecepatan mobil yang tentunya menjadi perhatian khusus bagi industri otomotif, karena daya tarik penjualan mobil paling potensial adalah kecepatannya. Dan selama pejalan kaki menjadi korban yang disebabkan oleh pengemudi, secara tidak langsung industri mobil memiliki hubungan sosial yang buruk dengan masyarakat. Salah satu dari mereka melangkah sendiri untuk mencari solusi yakni James J. Couzens, mantan eksekutif Ford Motor Company.

James adalah sosok dermawan yang menyukai cerutu dan dianggap sebagai salah satu eksekutif paling aktif dalam industri otomotif. Ia berhenti dari pekerjaanya sebagai wakil presiden keuangan sekaligus investor Ford setelah bertahun-tahun mengalami gesekan dengan Henry Ford. Ia mengundurkan diri pada tahun 1913 dengan saham senilai 38 juta dolar, kemudian menjabat sebagai presiden Bank of Detroit, komisaris Departemen Kepolisian dan kereta api, walikota, dan akhirnya menjadi senator AS.
James mengkritisi masalah berkendara yang buruk dan peningkatan jumlah kendaraan dalam dua pendekatan. Pertama, Ia bersikeras bahwa setidaknya pejalan kaki dewasa sama bersalahnya dengan pengemudi yang menyebabkan kecelakaan, artinya pejalan kaki juga dinilai ceroboh saat menyeberang di persimpangan jalan. Seharusnya mereka menyeberang di sudut yang ditentukan.
Hal ini menuai kecaman dari kaum pembenci mobil. Dewan Kota Alderman Sherman Littlefield melawan James dengan mengatakan, “Biarkan pejalan kaki apa adanya. Saya tidak akan menggiring mereka ke sudut tertentu untuk menyeberang jalan.”

Pendekatan kedua dari James dan timnya adalah mengatur jalan tanpa koordinasi langsung dari polisi karena terbukti tidak efektif di seluruh kota. Kemudian mereka mencari ide baru menggunakan teknologi untuk instrumen jalan. Pada pertengahan 1920-an Detroit diakui sebagai salah satu kota paling inovatif di negara AS terkait manajemen dan keselamatan lalu lintas. Kepedulian James terbukti membawa perubahan.
Sejak lahirnya kendaraan bermotor, dasar-dasar mengemudi tidak pernah diajarkan, pula tidak dipahami oleh si pengemudi secara mandiri seperti saat berbelok kanan/kiri. Banyak kecelakaan dan korban pejalan kaki yang disebabkan karena pengemudi memotong sudut jalan di persimpangan, sehingga menghantam mobil lain dan pejalan kaki yang tidak siaga.

Aturan lalu lintas dan standar kendaraan bermotor
Ibarat orang barbar, hal paling menjengkelkan adalah pengemudi yang tidak paham etika parkir, mereka parkir dimana saja seperti di persimpangan atau di depan fire hydrant dan gedung. James menyebutkan dalam artikel yang diterbitkan Majalah Otomotif bahwa beberapa gedung dengan 500 kantor hanya cukup untuk 10 unit ruang parkir.
Kepolisian Detroit menarik perhatian nasional dengan mengadopsi garis lapangan tenis untuk memisahkan ruang publik seperti zona persimpangan, zona aman, dan bukan area parkir. Garis tengah pertama di jalan raya AS muncul di Michigan pada tahun 1911.
Pada tahun yang sama, Detroit mengklaim sebagai kota pertama yang berhasil bereksperimen dengan jalan satu arah. Ini dimulai di Eastern Market untuk meningkatkan arus lalu lintas dan pengiriman, tetapi juga mendapatkan sorotan di Belle Isle ketika warga berlayar di sekitar pulau. Adapun demikian, ada yang kurang berhasil terkait ide ‘penyaluran’ jalan — membagi jalan-jalan tertentu untuk satu jenis kendaraan, khususnya truk pengiriman atau taksi.

Rambu stop pertama AS digunakan di Detroit tahun 1915, dan lampu lalu lintas pertama waktu itu disebut Street Semaphores. Keberhasilan mereka dikenal secara nasional sebagai Detroit Plan. Desain orisinil berbentuk lingkaran logam hijau dengan lampu hijau dan bintang logam merah dengan lampu merah. Petugas polisi berdiri di peron di tengah persimpangan dan mengubah sinyal dari merah ke hijau secara manual. Dan yang pertama didirikan di jalan Woodward dan Grand Boulevard.

Petugas juga dibekali dengan peluit yang mereka tiup sepuluh detik sebelum mengubah sinyal, atau dilakukan dengan bersiul atau berteriak kepada pengemudi dan pejalan kaki. Post Semaphore pertama dioperasikan secara elektrik — lampu lintas otomatis tanpa awak yang dikembangkan di Detroit dan terpasang di jalan John R. dan East Grand Boulevard tahun 1922. Kemudian untuk pertama kalinya ditambahkan lampu kuning untuk menunjukkan sinyal akan berubah, disertai dengan bel yang berdentang.

Tampaknya parkir ilegal masih menjadi masalah laten hingga 1917. Seperti yang ditulis James dalam laporan polisi tahunan, “Metode pendidikan tidak memberikan hasil yang diinginkan, sehingga disarankan untuk melembagakan sistem pelatihan disipliner intensif”. Artinya, Ia memerintahkan untuk menarik (towing) mobil yang parkir secara ilegal. Dalam kurun enam bulan, Detroit Towing Squad mengangkut 10.737 unit ke tempat kosong.
James menyimpulkan, “Ini terbukti ampuh sebagai terapi syok bagi pengemudi yang ceroboh dan ugal-ugalan, tapi terbukti efektif.”

Pada pertengahan 1920-an, Herbert Hoover selaku Secretary of Commerce AS menyelenggarakan konferensi nasional tentang lalu lintas jalan yang secara kolektif dikenal sebagai Konferensi Nasional Keselamatan Jalan dan Jalan Raya. Tujuannya adalah untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas dan seiring bertumbuhnya ruang lingkup konferensi, diberlakukan standar kendaraan bermotor, aturan jalan, dan kontrol lalu lintas perkotaan.
Lantas, sejumlah automaker mulai meningkatkan keandalan dan melengkapi fitur keselamatan seperti lampu sein, lampu rem, kaca pengaman, dan standar lampu utama. Negara bagian mewajibkan pengemudi untuk mengikuti tes kemudi dan mendapatkan SIM. Tahun 1930-an pendidikan mengemudi mulai berjalan. Masa masa mengemudi paling chaos telah berakhir.
Bonus foto…







By: Lie

