Rocca bukan lagi client baru buat gue (Adhi “Jureq” Sardjan). Sebelumnya Rocca memang pernah bersama gue saat masih menggunakan E36 di kelas Drift Star, dan setelah di nobatkan untuk naik ke kelas Rookie, Rocca mendapat tawaran untuk menggunakan mobil dari Armando Dido yang pada saat itu mengalami kecelakaan dan tidak memungkinkan untuk ikut berkompetisi drift.

Singkat cerita, setelah beberapa event menggunakan Nissan Cefiro bermesin 2JZ 600Hp itu, Rocca tidak dapat all out, alias tidak dapat bermain dengan leluasa karena yang di pakai adalah mobil pinjaman, tekanan batin meminjam masih terbayang-bayang walaupun sebenarnya dia bermain cukup baik dengan mobil itu.

Sang ayah, Om Ronald pun menyadari hal ini yang kemudian berkonsultasi dengan gue. Dia bertanya bagaimana kalau seandainya Rocca dibangunkan BMW E36 lagi? Gue bilang terserah… Dan pada akhirnya dia diam-diam membeli mobil dengan harapan dapat memberikan kejutan pada event berikutnya. Akhirnya terbelilah E36 320i dengan harga 38jt dari Dimas Harsono yang juga temen dekat gue. Dengan harga segitu Rocca mendapatkan kondisi mobil harian yang baik.
Namun sebelum membeli mobil, Om Ronald juga sudah menanyakan tetang mesin yang bakal masuk ke mobil drift nya Rocca nanti. Jawaban gue 1 UZFE yang aslinya nancep di Toyota LS400.
“memang sanggup 200 whp (275hp@ engine) bersaing?”, “sanggup om, modif ala-ala Jureq bisa, kalo kurang puas tanya rocca dia maunya kayak gimana, nanti saya bikinin”
Nah, pada nanya kan? Kenapa harus UZ?
Pertama itu mesin longlast, selama mesinnya N/A bakal awet buat gaspoll bertahun tahun.
Kedua di jakarta parts banyak, karena mobil Toyota LS400 masih banyak berkeliaran.
Ketiga parts subtitusi dengan Toyota lain seperti alternator, seal, sensor bisa di kanibal, coil aja sama seperti kijang kapsul..
Keempat kenapa gak mesin JZ family? Gak usah.. UZ aja.
Kelima kenapa gak RB? Gak usah.. UZ aja
Keenam kenapa sih UZ mulu? Gini deh, yang jelas setiap mesin punya potensi.
Sekarang yuk kita ngomongin masalah teknis perakitan mobil.

Setelah deal dengan 1UZFE, gak pake pikir panjang langsung beli mesin 1 UZ dari Amin Budiyono dengan harga sekitar 18jt. Emang agak mahal sih, tapi kita memang menargetkan untuk mendapatkan internal mesin yang sehat. Karena nantinya kita enggak akan utak-utik internal mesinnya.

Sekitar 2 hari setelah transaksi, mesin sampai di bengkel K18 komplit dengan gearbox dan wiringnya tapi akhirnya cuma didiemin dulu sampe beberapa onderdil datang seperti timing belt set, tensioner, bearing, dan seal-seal. Siang malem mesin ini dikerjakan, karena kebetulan saat pengerjaan mobil ini di Bulan Puasa, jadi sambil nunggu sahur, gue ngerjain ini mesin, dan kebanyakan begadangnya hahaa…
Pergantian part hanya sekedar pergantian kecil-kecil aja dan bersifat external mesin, seperti timing belt. Dan pengerjaan ini memakan waktu sekitar setengah hari.

Yang paling ribet sebetulnya waktu pemasangan wiring yang di masukin ke ECU Spitronic Stand Alone. Ribetnya ada pada waktu bedah kabel dan ini memakan waktu 3 – 4 hari.

Jadi gue harus memilah kabel injector sendiri (ada 8), kabel ignitor coil, kabel crank sensor dll. dan hampir 50% kabel engine harness asli tidak terpakai, karena ECU Spitronics sensornya simple dan sudah support pakai sensor bawaan mesin tanpa harus pakai adaptor lagi.

Setelah mesin hidup, gue konsentrasi pada gear box, karena kalau gearbox sudah rampung, tinggal nyemplungin mesin ke mobil tanpa harus buka-buka lagi dan tinggal gas aja. Mulai dari bongkar gearbox, gue mau memastikan kondisi sinkronis aman, jadi nantinya perpindahan gigi saat rpm tinggi tidak ada kendala keras saat shiftingnya.

Dimulai dengan pemasangan adaptor dari gearbox W57 ke Bellhousing 1UZ. Nah supaya gampang nyari tengahnya pas bubut, gue bongkar gearbox dan ambil casing depannya, untuk ambil tengah dari housing clutch sleeve jadi titik tengah sudah ketemu tanpa harus bawa-bawa mesin V8 untuk proses perkawinan gearboxnya. Untungnya, casing bellhousing 1UZ sudah ada lingkaran tengah dari gearbox matic, jadi pekerjaan lebih mudah.




Lalu gue harus merubah flywheel 3SGTE, lubang bautnya harus dirubah sesuai PCD krukas 1UZFE, berhubung lubang tengah flywheel dan gigi stater 3SGTE sama dengan UZ, pekerjaan hanya merubah PCD-nya aja.

Dan berhubung flywheel 3SGTE, maka gue bakal pakai kopling set 3SGTE juga keluaran EXEDY Single Plate dan dirasa sangat cukup, karena kopling 3SGTE keluaran celica GT4 digunakan untuk penggerak 4wd, sudah pasti sanggup untuk terima sentakan mesin 1UZ di penggerak belakang 2WD body E36 ini.

Setelah flywheel jadi, gue juga harus rubah housing clutch sleeve W57 lebih panjang dan rumah push bearing-nya, karena posisi kopling 3SGTE lebih maju untuk menekan dekrup. Lalu gue juga harus memanjangkan tongkat garpu, karena peletakan rumah master kopling bawah (menggunakan toyota yaris).

Setelah ini dirasa sudah proper…gue baru mempersiapkan ruangan untuk mesin 1UZ dengan mengeluarkan mesin M52B20 standar. Proses memakan waktu 2 hari tanpa kendala berarti.

Pada pemasangan mesin gue memasang bracket engine mounting yang cukup beresiko karena hampir mengenai manifold dan crossjoint steer, karena ruangan mesin E36 sebetulnya tidak diciptakan untuk V8, dia diciptakan untuk 6 cylinder warrior, lihat saja E36 M3 itu gue bilang mobil favorit banget dimana-mana khususnya luar negri.

Nah pemasangan mesin 1UZ lama disini nih, ngepasin mesin harus lepasin sistem ABS, karena mentok sana sini, waktu pasang harus lepas manifold asli, karena kurang maju posisinya, jadi gue cari posisi duduk mesin dulu, manifold belakangan.

Setelah dapet perkiraan posisi, gue langsung buat bracket mounting custom ala-ala gue, selain biar gampang bongkar, gampang juga di benerinnya, itupun beda 1cm jarak mounting sama batang kemudi, dan mounting di design tidak bergerak, supaya mesin tidak bergoyang dan mengenai batang kemudi, dan itu dampaknya bisa berbahaya, maka dipotonglah batang kemudi asli diganti pipa stainless yang berdiameter lebih kecil supaya tidak bersentuhan dengan manifold.

Pas saat bersamaan pekerjaan mounting, banyak proses mesin keluar masuk mobil, sambil pengerjaan manifold potong sambung, karena untuk menghemat waktu pengerjaan, dan saat mesin masuk mobil manifold tidak bisa di bongkar, karena sangat sempit, jadi bongkar manifold harus turun mesin.

Setelah mounting mesin, lanjut ke mounting gearbox, nah ini proses gak terlalu sulit, hanya mempertimbangkan ketinggian belakang gearbox supaya tinggi kopel sama seperti asli bawaannya BMW, dan merubah lubang tongkat gearbox, pada body BMW.

Nah ada pertanyaan, kenapa gue harus ngelubangin body bagian firewall? Itu hubungannya dengan tongkat garpu kopling gearbox mentog dengan body.

Selain itu gue harus merubah karter oli 1UZ yang berada di depan crossmember, harus merubah karter oli pindah kebelakang crossmember, jadi gue harus buat ulang dengan karter custom dari bahan plat galvanis dan membentuknya sedemikian rupa supaya gampang bongkarnya, dan didesain supaya oli gak telat nyedot yang berakibat fatal pada mesin.

Akhirnya pada hari ke 25 sejak mobil ini masuk…. Mesin udah tertanam dengan baik.
(tungguin part 2 nya yak.. bakal ngebahas sampai super angle nya..)

