Sebagai pemuncak pada putaran pertama, tentu tidak membuat Wahyu Lamban Jatmiko (WLJ) terbebani saat menghadapi IOF NC 2 yang menggunakan trek di Bukit Tangkiling – Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada 27 – 28 Agustus 2016 lalu.
Untuk menghadapi putaran kedua dari IOF NC, WLJ sengaja tidak membawa pulang mobilnya ke Yogyakarta setelah putaran pertama yang berlangsung di Balikpapan. Tapi WLJ yang saat ini bergabung dengan tim Antajaya Kalteng, memilih langsung mengirim ke Palangkaraya.

Tapi ternyata sehari sebelum scrutineering, Mobil bermesin LS 1 tidak mau menyala. Usut punya usut, ternyata 7 per klep yang patah menjadi penyebab mesin tidak berfungsi. Tanpa persiapan apapun, WLJ langsung menghubungi crew yang masih tertinggal di Yogyakarta (kebetulan pesawat crew tersebut terkena ‘delay’). Waktu yang mempet membuat hanya per klep standar yang dapat di bawa.

Setelah per klep tiba, penggantian langsung dilakukan agar paling tidak mobil bisa lolos dari scrutineering pada hari Jumat (26 Agustus 2016). Namun untuk dapat mengikuti kompetisi, per klep versi kompetisi yang dibutuhkan oleh WLJ. Alhasil, per klep dari mesin LS yang ada di bengkel Idek – Yogyakarta. Salah satu crew pun dikirim untuk mengambil sekaligus membawa kembali ke Palangkaraya.

Setelah permasalah per klep beres, ternyata permasalah baru datang. Dinamo stater jebol. Jadi mau tidak mau harus dibongkar dan di ganti, dengan cara mencari sparepart ke kota.

Setelah semua persiapan berhasil dilakukan, Wahyu Lamban langsung bersiap mengikuti IOF NC 2 untuk hari pertama 27 Agustus 2016. Dari 5 SCS yang telah disiapkan, panitia membebaskan bagi offroader untuk memilih. WLJ memilih untuk mengawali balapan pada SCS 4 dan 5. Untuk SCS 4, WLJ berhasil melalui tanpa hambatan berarti dan membuatnya jadi yang tercepat.

Setelah itu, WLJ langsung menuju SCS 5, pada awalnya rintangan berhasil dilalui tetapi menjelang garis finish perjalanan sedikit terhambat. Gundukan bebatuan membuat mobil WLJ tersangkut sehingga dek bawahnya terlepas sehingga tali strap yang berada di lantai mobil pun terjatuh. Sialnya tali strap ini tertinggal di lintasan saat berhasil menyentuh garis finish sehingga WLJ pun harus menerima pinalti karena melakukan pelanggaran sesuai regulasi balap IOF.

Pada hari berikutnya, WLJ harus melibas SCS 1 2 dan 3 karena hanya berhasil menyelesaikan 2 SCS pada hari sebelumnya. SCS 1 menjadi pilihan pertama, tapi mesin mobil tiba-tiba ‘brebet’ sehingga sulit mendaki handicap yang memiliki kemiringan mencapai 90 derajat. Alhasil mobil WLJ klontang ketika power mobil mendadak hilang di tengah pendakiannya.

Hasil ini membuat Wahyu L Jatmiko harus puas meraih juara ketiga untuk kelas Pro pada IOF NC putaran kedua. Naun WLJ berhasil mengantarkan timnya meraih podium pertama.

Sedangkan untuk rekan satu timnya yang merupakan anak didiknya, Aldy mengalami nasib yang kurang bagus. Dengan menggunakan mesin Cherokee Aldy berusaha membabat habis semua SCS, namun rintangan yang ada tidak mampu di lalui dengan baik, selain itu mobil masih cukup lelah setelah di gunakan pada IOF NC seri sebelumnya.

As roda belakang bagian kiri mobil Aldy patah, belum lagi CV Join yang ambrol mempersulit laju Aldy menaklukkan handicap. Karena saking banyaknya kerusakan dan keterbatasan waktu yang diberikan oleh panitia, Aldy gagal melibas SCS 4 yang dimana saat itu adalah SCS terakhir untuknya.

