Boleh dibilang kejurnas Drift seri 3 yang dilaksanakan sabtu, 27 Oktober 2013 lalu merupakan bahan pembelajaran bagi seluruh penyelenggara event otomotif Indonesia untuk kedepannya.
Kejurnas Drift seri 3 ini rencananya diselenggarakan dalam waktu satu hari penuh, dari pukul 6 pagi hingga 12 malam. Dari pagi hingga siang hari dijadwalkan dengan serangkaian sesi latihan dan QTT, sedangkan sore hingga malam hari adalah acaranya utamanya.
Tujuannya dibuat malam hari yaitu ingin memberikan sensasi dan pengalaman yang berbeda untuk para drifter dibanding Kejurnas Drift seri-seri sebelumnya.
Babak penyisihanpun yang dimulai sekitar pukul 4 sore ini berjalan lancar. Walaupun Abdul Aziz dengan KE70 nya mengalami kecelakaan saat tandem dengan Danny Ferditto. Mobil pun menabrak beton pembatas dan body bagian depan mobil ringsek.

karena kejadian itu, panitia membutuhkan waktu untuk membersihkan arena dan memperbaiki posisi beton-beton yang bergeser karena tertabrak. Lamanya efakuasi mengakibatkan babak penyisihan harus dilanjutkan setelah Adzan Magrib. Selama Adzan Magrib berkumandang satu persatu lampu penerangan arena drift menyala. Setelah beberapa saat terdengar suara-suara dari peserta, crew dan manager tim yang merasa kurang puas dengan penerangan yang tergolong minim untuk sebuah acara olahraga ekstrim seperti ini.

Walaupun begitu panitia dan peserta harus tetap melanjutkan acara hingga tuntas. Balapan pun dilanjutkan. Dari beberapa peserta yang sudah start, terlihat beberapa dari mereka mengalami kesalahan atau bahkan tidak melakukan drifting dibeberapa titik (clipping point). Hal itu disebabkan keraguan-raguan untuk mengambil momentum drift karena para peserta tidak dapat melihat dengan jalas jalur yang akan dilaluinya.

Seperti yang katakana oleh Aditya Widiutomo dari Dem’s Autotechnic “saya tidak bisa melihat dengan jelas, karena jalan gelap, terang, gelap, terang dan itu silau banget”

Akhirnya karena semakin banyak peserta yang mengeluhkan masalah pencahayaan ini, panitia mengadakan briefing tambahan mengenai informasi pencahayaan. Disana sudah hadir juri dari Malaysia Loyai, Candra Alim dan Bapak Tony Iskandar (stewardes). Di ruang briefing Loyai menjelaskan bahwa di Malaysia, setiap malam minggu di Speed City selalu diadakan latihan drift bersama dengan penerangan alakadarnya, dan diapun mengharapkan hal itu bisa dilakukan juga oleh para drifter Indonesia pada ajang kejurnas kali ini.

Dari pernyataan Loyai itu, para peserta merasa kurang siap, karena selama ini mereka belum banyak berpengalaman dengan ber-drifting dengan pencahayaan yang minim seperti itu. “Dan kondisi saat ini merupakan ajang kejuaraan, bukan latihan” kata salah satu drifter. Sebelum kondisi memanas, akhirnya pembalap senior Indonesia, Chandra Alim pun angkat bicara. “Seorang pembalap harus memiliki insting yang lebih baik dari pada orang pada umumnya” ucap Chandra Alim. Dengan pengalaman-pengalamannya Chandra Alim memberikan semangat kepada para peserta agar apapun yang terjadi kejurnas seri 3 ini harus diselesaikan.

Singkat cerita, akhirnya para panitia mensetujui untuk menambah lima lampu untuk menerangi beberapa titik penting. Hampir 3 jam berlalu, lampu belum tampak terpasang juga. Peserta yang sudah sejak pagi sudah di arena drift nonpermanent JIExpo, Kemayoran ini sudah mulai lelah menunggu kejelasan pertandingan.

Tidak lama kemudian, Amru, pemimpin pertandingan mengadakan briefing dadakan. Disana dia memberikan informasi bahwa truck towing, ambulance dan truck damkar sudah meninggalkan arena pertandingan dengan alasan kontrak sewa kendaraan yang hanya sampai pukul 10 malam. Dan saat itu sudah hampir jam 11 malam.

Karena ketidak lengkapan fasilitas keamanan maka Amru sebagai pemimpin pertandingan menyatakan event kejurnas Drift seri 3 ini harus dihentikan. Apakah berlanjut? “Kita akan ajak teman-teman peserta untuk berdiskusi dulu masalah waktu yang tepat untuk kelanjutan seri 3 ini” ujar Rizki Diansyah ketua OC ( Organizing Committee ) event ini dari DDW Communication.






