Connect with us

Race Car

Kecanggihan Mobil H. Syamsudin Buatan Race Proven Motorsport part 2

Mobil balap milik H. Syamsudin yang dibuat oleh Race Proven Motorsport (RPM) Amerika Serikat memang memberikan nuansa berbeda di lintasan off road. Pada bagian pertama tulisan ini telah dipaparkan berbagai perangkat yang diaplikasikan pada mobil ini yang meliputi: body dan interior, suspensi dan steering, disc brake depan dan rotor serta differential depan dan axle.

Selanjutnya, bagian kedua dari tulisan ini akan dibahas: sektor mesin, transfer case, transmisi, suspensi belakang, disc brake belakang, differential belakang dan axle serta ban dan velg.

Mesin :

armada-engineering-full-tubular-milik-h-syamsudin-indonesia-utv-club-jhonlin-racing-team-20131030113323-9307

Mesin menggunakan Toyota 2JZ f6-Cylinder in-line yang telah mendapatkan sentuhan full modifikasi dengan tambahan perangkat turbo yang mampu menaikkan tenaga mesin hingga 500HP. Menurut penuturan Race Proven Motorsport (RPM), mesin ini mampu ditingkatkan hingga 750-HP hingga 1000-HP hanya dengan melakukan setting penambahan tekanan pada turbocharger (turbo boost) serta melakukan setting pada ECU (Engine Control Unit) untuk memberikan pasokan tambahan bahan bakar dan pengaturan timing pengapian.

armada-engineering-full-tubular-milik-h-syamsudin-indonesia-utv-club-jhonlin-racing-team-20131030113323-1208

Uniknya, mesin ini diletakkan tepat di belakang kabin penumpang dan menghadap ke belakang (Mid Engine, Rear Facing) sehingga output putaran dari flywheel menuju ke transfer-case berputar terbalik. Untuk memperbaiki arah putaran, Race Proven Motorsport (RPM) membuat “Reverse” differential pada differential roda depan dan juga differential roda belakang yang membalikan arah putaran dari mesin yang terbalik dan membagi tenaga tersebut ke roda kiri kanan kendaraan ini.

Differential depan dan belakang juga menggunakan limited slip untuk mengunci roda kiri dan kanan, namun melepaskannya saat kendaraan sedang berbelok sehingga kendaraaan lebih mengalami under-steer.

Mesin Toyota 2JZ dengan kapasitas standar 2997cc dengan konfigurasi 6-Cylinder in-line ini telah membuktikan kemampuannya untuk dapat mengimbangi dan bahkan meninggalkan beberapa lawannya di ajang Kejurnas Speed Offroad.

armada-engineering-full-tubular-milik-h-syamsudin-indonesia-utv-club-jhonlin-racing-team-20131030113323-4154

Untuk menjaga pasokan oli pelumas mesin pada berbagai kondisi, Race Proven Motorsport (RPM) memutuskan untuk menggunakan sistem lubrikasi “Dry-Sump” dimana oli dikumpulkan dalam satu tabung khusus yang kemudian dipompa menggunakan pompa yang terhubung dengan V-Belt ke Crankshaft.

Transfer-Case :
Transfer-case juga dibuat oleh Weismann dengan menggunakan konsep limited slip yang membagi tenaga ke depan dan kebelakang. Dikarenakan putaran masuk dari crank-shaft mesin ini sudah terbalik (karena pemasangan mesin menghadap belakang), maka putaran keluar dari drive-shaft ini juga terbalik. Pembenaran arah putaran mesin dilakukan pada masing-masing differential belakang dan differential depan, dimana gigi pada differential tersebut dibuat menjadi Reverse Gear.

Rayce Muchmore tidak memberikan informasi spesifik mengenai kombinasi internal gear, gearing ratio serta limited slip yang dipasang didalamnya. apakah transfer-case ini menggunakan limited slip didalamnya untuk memisahkan tenaga roda depan dengan roda belakang.

Transmisi :
Transmisi yang digunakan sepertinya adalah transmisi automatic tipe TH-400 (Turbo Hydramatic) keluaran GM (General Motors) yang kerap digunakan pada berbagai kendaraan balap Offroad Racing di Amerika. Namun beberapa sumber di Amerika menyatakan bahwa sebenarnya transmisi automatic ini adalah tipe Power-Glide 2-Kecepatan.

Kendaraan ini menggunakan transmisi automatic dengan modfikasi Full Manual Valve Body dengan 3 kecepatan maju. Terlihat penggunaan transmisi automatic ini sangat pas dengan tenaga mesin serta karakter pembalap dan kondisi lintasan, sehingga kendaraan ini dapat melaju dengan kencang di lintasan.

Sang builder membatasi penggunaan gigi transmisi hanya dengan 2 gigi maju (gigi 1 dan gigi 2) tanpa sang pembalap direpotkan dengan urusan menginjak kopling dan melakukan pengoperan gigi transmisi. Dengan menggunakan torque converter yang pas pada transmisi automatic tersebut, maka transmisi ini mampu mengurangi gejala selip saat perpindahan gigi, namun dengan adanya selip ini akan mengurangi tekananan yang berlebihan pada gear, serta berbagai komponen lainnya yang berhubungan ke transmisi. Alhasil, gigi differential dan as roda menjadi lebih awet.

Keuntungannya, pembalap dapat lebih berkonsentrasi pada titik pengereman dan menaklukan rintangan dan kemudian menginjak gas kembali setelah menaklukan rintangan tersebut.

Dengan menggunakan full manual valve body serta heavy duty clutch pack, maka pembalap tetap diharuskan untuk melakukan pengoperan dari gigi-1 ke gigi-2 dan begitu juga sebaliknya, walaupun tidak perlu menginjak kopling.

Walaupun automatic, kendaraan ini tidak akan melakukan up-shift dan down-shift sendiri, karena fungsi manual valve body valve body adalah merubah sirkuit aliran tekanan sehingga titik pengoperan gigi lebih tinggi dan manual. Saat perpindahan gigi juga sangat terasa hentakannya dikarenakan menggunakan torque-converter yang khusus balap. Manual valve body ini dapat dimodifikasi dengan effek menghasilkan full engine-brake ataupun tanpa engine-brake saat pengemudi melepaskan tekanan pada pedal gas.

Suspensi :

armada-engineering-full-tubular-milik-h-syamsudin-indonesia-utv-club-jhonlin-racing-team-20131030113324-2882

Bagian belakang menggunakan model suspensi “3-Link Trailing Arm”.

Main trailing arm berfungsi untuk memegang keseluruhan wheel-spindle  dan juga menjadi tempat bertumpunya KingShocks Coil Over Shocks dengan dual-rate coils dan KingShocks Tripple By-Pass Shocks.

Sedangkan trailing arm lainnya berfungsi sebagai pegangan saja, namun trailing arm atas juga berfungsi sebagai penyetelan sudut kemiringan roda belakang (camber).

Suspensi dipasang dengan sudut kemiringan (angle) dan ratio perbandingan, sehingga mampu memberikan jarak main suspensi (Suspension Cycle) sebanyak 18-30 inch walaupun hanya menggunakan shocks dengan ukuran 14″ ataupun 16″.

Bagian atas shocks ini terpasang langsung ke chassis, sedangkan bagian bawahnya bertumpu pada A-Arm bagian bawah yang sudah diperkuat khusus untuk menahan beban dan tekanan yang diberikan oleh pegangan suspensi bagian bawah ini.

Sekedar perbandingan, rata-rata jarak main suspensi kendaraan speed offroad pada umumnya masih berkisar di 14-16 inch. Dengan langkah main suspensi yang boleh dibilang sangat banyak, kendaraan ini mampu terbang tinggi dan mendarat dengan sempurna.

Saat melintasi lintasan bergelombang (superbowl), kendaran ini mampu melintasinya dengan kecepatan tinggi, sementara bodynya tetap rata sedangkan roda didukung suspensi yang sangat baik terlihat berdansa manis dengan halus dan lembut meredam semua guncangan.

Disc Brake & Rotor :

armada-engineering-full-tubular-milik-h-syamsudin-indonesia-utv-club-jhonlin-racing-team-20131030113324-1945

Rem belakang menggunakan ProAm Racing Products (ProAm 6-Piston Brake Calipers dan ProAm Disc Rotor). ProAM Brake Calipers memang sudah cukup dikenal di ajang Offroad Racing dan memiliki spesifikasi yang cukup baik :

  • Dibuat dari bahan 7000 series billet aluminum
  • Menggunakan brake-pads ukuran lebar 6″
  • Stainless steel pistons untuk mempercepat pelepasan panas
  • Internal cross drilled fluid transfer path
  • Menggunakan 6 piston untuk cengkaraman yang lebih kuat

Sedangkan piringan Disk Rotor / Hub nya menggunakan ukuran diameter 14″.

Uniknya, Brake Calipers dan Disc Rotor / Hub untuk roda depan dan belakang ini menggunakan ukuran yang sama, dengan alasan untuk memudahkan maintenance di lapangan, sehingga tidak perlu membawa spare-parts yang berbeda-beda.

Differential Belakang & Axle :

armada-engineering-full-tubular-milik-h-syamsudin-indonesia-utv-club-jhonlin-racing-team-20131030113324-9216 (1)

Seperti differential depan, casing differential belakang juga didesign oleh Armada Engineering, dan dibuat oleh Weismann (TRACTION PRODUCTS, INC. / WEISMANN MARINE, LLC.) yang memang telah dikenal dengan produk transmisi dan differentialnya yang sangat tangguh dan kerap dipakai oleh para juara di ajang Off-Road Racing dan juga ajang On-Road Racing. Differential ini dengan menggunakan konsep limited slip pada bagian depan dan belakang. Rayce Muchmore tidak memberikan informasi spesifik mengenai internal gear, gearing ratio serta limited slip yang dipasang didalamnya.

armada-engineering-full-tubular-milik-h-syamsudin-indonesia-utv-club-jhonlin-racing-team-20131030113323-8629

Custom Differential ini cukup tipis, sehingga jarak antara output shaft kanan dan output shaft kiri di differential saling berdekatan. Hal ini memungkinkan pemasangan center-mounted A-Arm dan pemasangan A-Arm yang lebih lebar, serta penggunaan Output Shaft yang lebih panjang. Dengan menggunakan Output Shaft yang lebih panjang, maka sudut main pada differential dan hub roda akan semakin kecil sehingga memungkinkan jaran naik-
turun suspensi yang lebih banyak lagi.

Namun Rayce juga tidak menjelaskan joint apa yang dipergunakan untuk menyambung Axle-Shaft ke Differenial Depan, serta Axle-Shaft ke Hub Roda Depan. Namun melihat bentuknya, penulis merasa bahwa joint ini menggunakan Porshe CV Joint yang sudah banyak dipakai pada ajang offroad racing di Amerika dan memiliki kemampuan bermain dengan sudut yang cukup besar.

armada-engineering-full-tubular-milik-h-syamsudin-indonesia-utv-club-jhonlin-racing-team-20131030113323-8316

Pada 3-Link Trailing Arm bagian atas, dipasang Sway-Bar/Anti-Roll Bar yang menyambung antara sisi kiri dan sisi kanan dengan tujuan utama mengurangi gejala limbung yang berlebihan (body roll) saat kendaraan menikung dengan kencang. Dengan adanya sway-bar/anti-roll bar ini, maka suspensi bagian belakang tingkat kekerasannya dapat diperlembut lagi untuk meredam tidak ratanya permukaan lintasan.

Ban & Velg :

armada-engineering-full-tubular-milik-h-syamsudin-indonesia-utv--201310301541261830

Dikarenakan menggunakan Disc Rotor dengan ukuran 15″ ditambah dengan penggunaan Disc Caliper 6-Piston dengan ukuran besar, maka tidak bisa menggunakan velg ukuran 15″ sebagaimana lazimnya kendaraan speed offroad lainnya. Kendaraan ini menggunakan velg dengan diameter ring 16″ Bead-Lock pada semua sisinya dengan ukuran lebar 7″ atau 8″ sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lintasan.

armada-engineering-full-tubular-milik-h-syamsudin-indonesia-utv--201310301541211254

Dengan penggunaan bead-lock, maka tekanan pada ban dapat dikurangi sehingga mampu memberikan tapak yang lebih lebar tanpa harus takut ban lepas dari velg, karena sisi dalam ban dijepit oleh bead-lock ke sisi velg. Sedangkan bannya sendiri tetap menggunakan GT-Radial Savero Komodo ukuran 16″ dengan tipe tergantung kondisi lintasan.

Apa keuntungan kehadiran kendaraan ini buat komunitas Speed Offroad Racing di Indonesia? Yang pasti, seperti telah kami ulas sebelumnya, dengan berbagai fitur kecanggihan pada kendaraan ini, builder dan penggemar speed offroad racing di Indonesia dapat mempelajari teknologi yang diterapkan pada kendaraan ini dan melakukan modifikasi serta perbaikan teknologi sehingga jauh lebih cocok untuk karakter lintasan balap di Indonesia dan menerapkannya pada kendaraannya masing-masing,

Ibarat pepatah: “Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina”, di dunia Speed Offroad Racing juga ada pepatah: “Carilah ilmu dan perlengkapan walaupun sampai ke negeri Amerika!”

Selamat mempelajari dan melakukan modifikasi, semoga ajang balap speed offroad semakin berkembang….

Comments

Copyright © 2022 Fastnlow.net. Theme by Fastnlow, powered by CV. OTOMEDIA NUSANTARA.

Connect