Pada part sebelumnya perjalanan kami sudah memasuki pedalaman dari daerah Wonosari. Sempat singgah rolasan (baca: istirahat siang jam dua belas) sekaligus Sholat Jum’at yang kemudian dilanjutkan menerabas hutan menuju kali/sungai Oyo.


Dan begitu sampai ditepian sungai, kami melihat pemandangan yang luar biasa. Sungai dengan lebar lebih dari 20 meter ini dihiasi pepohonan asri yang jarang bisa kita lihat dikehidupan sehari-hari.


Sungai ini lagi-lagi cukup tricky, dikarenakan kita tidak bisa melihat dengan jelas bebatuan yang didalamnya, ditambah lagi apakah kedalamannya bisa dilalui dan bahkan banyak bebatuan yang sangat besar.

Dari 30 mobil tidak semua masuk kedalam sungai, karena yang dikhawatirkan waktu yang dibutuhkan semakin lama. Karena ditargetkan sebelum petang seluruh kendaraan harus sudah keluar dari kali Oyo ini. Sedangkan kita akan melewati kali Oyo ini sebanyak dua kali. Kemudian sebagian dari peserta melewati jalur alternatif lainnya.

Untuk sampai di titik kedua penyebarangan sungan Oyo ini kita harus kembali menerabas hutan yang juga berada di lereng buki. Jalur ini hanya cukup untuk 1 mobil, dan tidak sedikit ada jalan yang longsor yang membuat peserta harus extra hati-hati.

Akhirnya kita sampai di titik penyeberangan kedua walaupun sedikit tersendat karena kendaraan didepan ada yang mengalami kerusakan.

Hingga mobil terakhir menyeberangi sungai Oyo sisa-sisa sinar matahari masih cukup dapat menyinari jalur kami. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju pantai Sedahan yang berjarak kurang lebih 1 jam dari sungai Oyo untuk bermalam disana.



Pagi harinya diawali dengan sarapan pagi. Dari setiap kelompok menyiapkan hidangan dengan ciri khas nya masing-masing. Kalau kita (tim media) sih mlipir alus ke pak ketu (Pak Ketua Panitia) Imam Taufik, syukurnya sudah tersedia oseng-oseng daging sapi dengan ayam goreng dan nasi pulen.





Setelah sarapan semua peserta berdoa dan berfoto bersama. Sekitar pukul 9 pagi perjalan dimulai kembali, untuk kali ini perjalanan tidak banyak melalui jalan offroad, namun kita kembali membelah perkampungan dan pesisir pantai untuk menuju Dusun Ngasem, Giritontro, Ngargoharjo Jawa Tengah. Disana kami di tunggu oleh kepala desa dan 105 Kepala Keluarga untuk kegiatan bakti sosial para peserta Java Overland kali ini.



Setibanya kami disana, kami disambut oleh para petinggi desa, termasuk kepala Dukuh (kepala Dusun). Disana panitia Java Overland sudah menyiapkan 105 paket bahan makan pokok sesuai dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) yang terdata dan sejumlah uang tunai.


Namun ternyata baksos kali ini tidak seperti biasa yang pernah kami liput dalam kegiatan lainnya. Diawali atas cerita kepala Dukuh yang mengeluhkan masalah kesulitan mendapat air bersih karena keadaan geografis tempat tinggal mereka yang berbatu karang sulit untuk menembus mata air bawah tanah. Akhirnya setiap (KK) harus iuran untuk membeli air bersih yang akan diantar menggunakan truck. Sedangkan pekerjaan mereka kebanyakan adalah buruh tani yang mengandalkan musim panen.

Tanpa banyak bicara, para peserta kembali mengumpulkan dana secara swadaya yang menghasilkan uang lebih dari 10x lipat dari uang tunai yang diberikan pertama kali. Alhasil, setelah di hitung-hitung mereka untuk sementara tidak akan kekurangan air untuk 3-4 bulan kedepan. Luar biasa!!



Dan semuanya bahagia.

Setelah berpamitan, peserta kembali meneruskan perjalanan menuju pantai Klayar, Pacitan. Perjalanan dihiasi oleh aspal halus dan perbukitan karang purba dengan pepohonan jati muda.

1 jam perjalanan kami pun sampai di persinggahan terakhir perjalanan ini Java Overland Exploring Jogjakarta kali ini.


Dengan sampainya kami di Pantai Krang Bolong, berakhirlah acara ini. Acara yang penuh kekeluargaan, pelajaran alam, kerjasama, sportifitas dan berbagi.



Sebagai penutupan acara, 2 kambing pun di sembelih untuk makan bersama di pinggir pantai Klayar pada malam terakhir sebelum para peserta kembali ke daerahnya masing-masing.
Sampai jumpa di Java Overland selanjutnya.

