BOGOR – Salah satu peslalom Toyota Gazoo Racing Indonesia, Anjasara Wahyu, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Dimitri Fitra Ditama, selaku Direktur Toyota Gazoo Racing Indonesia, untuk unjuk kebolehan dalam Kejurnas ITCR Max putaran keenam yang berlangsung di Sirkuit Sentul Internasional, Bogor, Jawa Barat, Minggu (6/11/2022).
Peslalom yang saat ini masih memuncaki klasemen sementara di Kelas A dan F, akan menggeber Toyota Yaris dengan nomor start 186. Nantinya, ia akan berada satu lintasan dengan Demas Agil, rekan satu timnya di Toyota Gazoo Racing Indonesia.
Menurutnya, hal ini memang menjadi salah satu agenda tim di mana masing-masing pembalap dapat merasakan atmosfer berbeda dengan berpartisipasi pada gelaran Indonesia Sentul Series of Motorsport (ISSOM).
“Jadi ceritanya memang mobil Yaris lele itu kembali didevelop karena untuk memberikan kesempatan kepada pembalap TGRI lainnya supaya ikut berpartisipasi di ISSOM. Sempat ada Adrianza Yunial, lalu Herdiko sempat ditawarin tapi karena berhalangan jadi enggak bisa. Alinka juga sebenarnya sudah ditawarin dari kemaren-kemaren, cuma dia lagi di Batulicin, jadi kan enggak bisa dan baru seri ini,” jelas Anjasara, saat berbincang dengan Fastnlow.
Meski di awal ia sempat merasa dilema dengan tawaran yang diberikan, namun kesempatan tersebut tidak boleh disia-siakan karena paling tidak akan berguna dalam pengembangan diri dan kemampuan dalam mengemudikan mobil balap.
“Saya juga awalnya dilema, tapi karena ini kesempatan menarik, akhirnya saya ambil. Dan saya juga mengucapkan terima kasih untuk Mas Fitra dan Mas Fachri sudah memberikan kesempatan ini,” sambungnya.
Foto: (Adrenal Rio)
Lantaran Anjasara ini kerap melakoni balap slalom dan sprint rally, ia menjelaskan bahwa setiap ajang balap itu memiliki karakter keseruan tersendiri. Terlebih untuk balap slalom, baik secara kompetisi ataupun pembalapnya, tensi yang tercipta memang lebih tinggi.
“Kalau bicara aura kompetisinya, tadi di Kejurnas ITCR Max bisa dibilang Toyota mendominasi di kelas ini, berbeda dengan kejuaraan yang saya ikuti, di slalom. Kita di slalom, menjadi minoritas, tetapi kita tetap bisa buktikan mampu menjadi yang terbaik meskipun bersifat minoritas,” beber Anjas.
Adapun salah satu hal yang membuat balap touring juga cukup menarik adalah start yang dilakukan secara bersama-sama. Tentunya hal ini menjadi kebalikan dari balap slalom dan sprint rally.
“Kalau touring, serunya startnya bareng-bareng jadi bisa mengukur kapabilitas dari masing-masing pembalapnya. Jadi saya harus meminimalisir kesalahan saat start, supaya bisa lebih kompetitif,” tukas Anjas.
Setelah melakoni sesi superpole pada Sabtu (5/11/2022), Anjasara Wahyu harus puas lantaran memulai balapan dari posisi kelima dikarenakan menorehkan catatan waktu satu menit 58,015 detik. (*)

