Sencaki Management yang merupakan sebuah management tim ciptaan Wahyu Lamban, pak Antok dan pak Ichal yang berasal dari Yogyakarta semakin lama semakin mengudara. Dimana beberapa pihak mulai bergabung khususnya pecinta offroad seperti BBS yang berasal dari Balikpapan dan Antajaya yang berasal dari Makassar untuk berjalan dibawah Sencaki Management
Setelah sukses membawa Aldy, offroader muda asal Makassar ini menjadi juara umum pada IOF National Championship, Sencaki mengajaknya kembali untuk untuk bermain-main bersama Hardy’s Land, Melia Laundry dan BBS pada event Jogja Ultimate Offroad 2 yang diselenggarakan di bawah lereng Gunung Merapi, Yogyakarta Sabtu & Minggu (12-13/12) lalu.
Disana mereka disuguhi oleh karakter lintasan alam yang cukup extreme hasil karya Cak Mendol sebagai master track. Dan untuk event ini peserta bebas memilih lintasan mana saja yang terlebih dahulu ingin dilewati. Begitu pula Wahyu Lamban yang memilih masuk kedalam SCS 1 dengan mobilnya yang bermesin LS1.
Wahyu Lamban mengaku cukup kagok bermain di kejuaraan Winching ini, masih butuh beberapa penyesuaian seperti yang terjadi pada SCS 1 yang merupakan SCS wajib, Wahyu Lamban Jatmiko (WLJ) harus mengulang beberapa kali untuk dapat menaiki bukit karena ada batu, namun setelah diamati WLJ mengatakan “itu harusnya bisa (dengan) sekali gas aja” sesalnya.
Untuk hari pertama WLJ menghabiskan 4 SCS winching dan 2 SCS non-winching (namun pada track non-winching tidak diteruskan) dalam keadaan hari pertama yang penuh dengan guyuran hujan. Namun walau dalam kondisi kagok WLJ masih sempat memperoleh waktu tercepat di SCS 2 dan 4 di hari pertama.
Namun berbeda dengan Said Dloureng yang bisa dibilang event ini merupakan pertama kalinya dia turun dengan menggunakan mesin V8. Said yang biasa menggunakan mesin Cheeroke ini turun dibawah nama BBS-Kaltim dan diberi mandat untuk menggunakan mobil sang owner yang sedang berhalangan hadir. Namun mungkin memang sudah ada bakat, Said bermain cukup cantik di beberapa SCS pada hari pertama yang rata-rata menduduki peringkat ke 2.
Kemudian ada Aldy sang juara umum IOF National Championship yang bermain cukup agresif, sesuai dengan umurnya yang masih semester 1 sebuah Universitas Swasta di Makassar. Kalau dilihat dari umurnya Aldy merupakan pembalap muda berbakat, dan maka dari itu WLJ sebagai mentor terus memberikan pengarahan.

Di hari pertama, Sencaki Management menempatkan posisinya di urutan ke 2 untuk Said dan WLJ diurutan ke 3, urutan pertama ada Aziz dari tim Galena Logistic (Jawa Timur).
Di hari kedua, cuaca jauh lebih bersahabat, WLJ mengawali bermain di SCS 7 dan sempat memperoleh catatan fastest karena berhasil tanpa menggunakan winch yang jauh mempersingkat waktu. Pada hari kedua ini yang terdiri dari SCS 5, 6 dan 7 ini menggunakan lintasan yang dibalik dari SCS pada hari pertama, kecuali SCS 5 yang memang benar-benar baru.
Setelah melihat karakter lintasan di SCS 5 yang tergolong sangat tricky WLJ dan Aldy memutuskan untuk masuk kedalam SCS 6 terlebih dahulu. Hasilnya adalah WLJ tanpa banyak basa-basi berhasil mencapai garis finis dengan catatan waktu terbaik.
Begitu pula dengan Aldy yang masih menggunakan mesin Cheeroke bermain di SCS 6 dengan cukup agresif, alhasil Aldy harus mengalami kesialan berupa bocornya bak Calter karena menabrak dengan keras salah satu batu yang menonjol. Oli pun berceceran kemana-mana. Dan harus segera diperbaiki bila ingin melanjutkan perlombaan.
Dan yang terakhir adalah SCS 5 yang disisakan untuk pertarungan yang cukup berat. Lintasan ini mengharuskan mobil menuruni bukit terjal yang kemiringannya mendekati 90° hingga menyentuh bagian dasar sungai kering dengan dibantu winch.
WLJ yang sudah memperhatikan kesalahan-kesalahan lawan berhasil turun dengan baik kedalam catatan waktu yang termasuk cepat, namun sayang dia harus tersangkut di sebuah gundukan dan terlihat memaksakan diri dan parahnya lagi mobil tidak dapat dimasukkan gigi. Setelah dicoba beberapa kali WLJ menyerah dan harus puas dengan DNF (tidak Finish).
Dilanjutkan oleh Said dari BBS, dia bertahan dengan permainan yang halus. Turun dari bukit tidak secepat WLJ, namun saat stuck di gundukan Said tidak terlalu memaksakan diri, dia membiarkan navigatornya untuk berlari mengaitkan winch dan keluar dari gundukan dengan mudah dan tidak membuang banyak waktu. Begitu juga saat ia harus naik keatas bukit, Said bermain sangat rapih dan penuh kesabaran.
Setelah Said peserta berikutnya adalah Aldy yang berhasil memperbaiki bak calternya dengan alakadarnya. Lagi-lagi dengan gaya agresifnya, namun Aldy terlihat bersabar saat menurunit bukit. Alhasil dia bisa melewati rintangan dengan baik. Namun sayang catatan waktunya masih belum cukup baik dibanding pesaingnya.
Di hasil akhir, sudah bisa di duga, Said Dloureng berhasil menjadi juara pada seri ini dan berhak atas uang 30jt Rupiah. Hal itu memang terlihat dari catatan perolehan waktu yang sangat stabil yang membuat rata-rata disetiap SCS di peringkat ke 2.
Berbeda dengan WLJ yang perolehan catatan waktunya sangat fluktuatif di setiap SCSnya yang mengakibatkan poin yang diperoleh tidak stabil. Namun WLJ berhak atas peringakat 3, setelah Aziz dari Galena Logistic berhasil menduduki peringakat ke 2.
Dan melalui sosial media WLJ, dia menyatakan kegembiaraannya atas prestasi rekan-rekannya yang tergabung dalam Sencaki Management, dan semoga ini adalah awal yang baik untuk melangkah lebih jauh. Aamiin..

















