Banyak sekali orang yang mengabaikan tentang salah satu bagian pada mobil yang perlu diawasi, yaitu minyak rem. Minyak rem memiliki sifat hygroscopic (berarti bereaksi dan menyerap air). Ya itulah sebabnya mengapa minyak rem saat anda beli ditempatkan pada kemasan yang tersegel. Sekarang di pasaran sudah banyak tersedia berbagai jenis merk minyak rem. Tetapi yang mendasari semuanya adalah adanya angka standar DOT dari minyak rem tersebut. Kata DOT itu sendiri berasal dari U.S. Department of Transportation.

Ada empat macam tipe minyak rem yaitu DOT 3, DOT 4, DOT 5 dan DOT 5.1 . Untuk DOT 3 dan DOT 4 berbahan dasar glycol (glikol berwujud cair, memiliki cairan jernih, tidak berwarna, mobile, cairan kental seperti sirup, pada dasarnya tidak berbau, larut dalam air, digunakan sebagai carrier solvent) dan DOT 5 berbahan dasar silicone. Karena paling banyak beredar DOT 3 dan DOT 4, yuk mari kita bahas perbedaannya.

Pada dasarnya, standar DOT3, DOT4 dan seterusnya, terbuat dari bahan yang dapat menyerap air dan uap air (kelembaban) atau juga bersifat higroskopis. Yang membedakan, bahan kimia yang dikandung dan titik didihnya. Tidak selamanya DOT 4 bekerja maksimal jika dipakai pada rem yang merekomendasikan DOT 3. Pasalnya, jika Anda sengaja memasukkan cairan yang bukan standarnya, komponen rem bisa rusak.

“Spesifikasi keduanya berbeda. Jadi tak boleh sembarangan memakainya. Untuk cairan rem DOT4 titik didih tertinggi mencapai 255°Celsius, sementara DOT3 245° Celsius. DOT4 sedikit lebih baik. Misal selama pemakaian cairan DOT3, bisa tercampur air sebanyak 3% yang terjadi dalam tempo 1 tahun saja. Ini dapat menyebabkan titik didih turun dari 255° Celcius menjadi hanya 145° Celcius.

Artinya, cairan rem lebih mudah mendidih. Kita tahu air memiliki titik didih 100° Celcius. Ini berarti kandungan air dalam cairan rem mendidih lebih dahulu dan berubah menjadi uap air yang membentuk gelembung udara,” papar Inge Harsono, QC- R&D Manager Autochem Industry.

Gelembung udara ini, lanjut Inge, sangat berbahaya karena mengurangi kemampuan cairan rem untuk menyalurkan tekanan yang mendorong kampas rem. Padahal kinerja sistem pengereman, sangat bergantung pada kemampuan cairan rem menekan kampas. Jika terlalu lama tak diganti, maka kampas tidak bekerja. Ini yang kita sebut gejala rem blong. Jika spesifikasi kendaraan Anda bisa memakai DOT3/DOT4, sebaiknya gunakan DOT4 lantaran titik didihnya lebih baik.

Kemudian soal warna. Hanya di Indonesia yang memiliki cairan rem berwarna merah. “Warna merah disukai karena lebih mudah untuk mengontrolnya, apakah cairan habis atau tidak. Tapi ada juga konsumen yang suka warna bening, karena untuk menentukan apakah cairan masih berkualitas atau tidak. Biasanya kalau cairan jelek, warnanya keruh dan sedikit hitam. Ini lebih soal selera saja,” tambahnya.

Karena itu, sebaiknya membiasakan menguras cairan rem setidaknya satu tahun sekali atau setiap 20.000 km pada mobil dan 10.000 km pada motor. Saat memeriksanya, sebaiknya Anda cek pula kondisi seal, piston dan kaliper rem. Pengecekan rutin ini tidak memakan biaya besar, namun besar manfaatnya buat keselamatan kita. Cara penggantian cairan rem yang baik adalah dengan mengurasnya. Seluruh cairan rem disedot dari bagian pangkal atau paling dekat dengan kaliper rem, bukan dari master rem. Jika Anda malas ke bengkel, sebetulnya bisa Anda lakukan sendiri. Cukup sediakan penyedot dan alat bantu suntik.

