Selamat Tahun Baru Guys!!! Semoga tahun ini kita dan Bumi tercinta kita semakin membaik dan Industri Otomotif Indonesia juga kembali membaik dan bergelimang Cuan. Aamiin.

Sudah lama banget FNL pengen banget main ke markas besar drifter terbaik Indonesia, dan syukurnya baru-baru ini kita bisa main kesana, di kisaran daerah Jakarta Timur. Happy? Jelas lah.. gila aja gak Happy, disana kita disambut dengan mobil-mobil S chassis yang jarang banget beredar di Indonesia. Tapi mungkin sebagian para penggemar drift udah pada sering liat di Channel nya Garasi Drift.

Terlahir 29 tahun lalu dengan nama lengkap Emmanuelle Adwitya Amandio, Dio adalah orang yang bisa dibilang cukup konsisten di dunia Drifting, dan tidak bisa dipungkiri dia memang besar di dunia balap Drifting. Namun, kalau di tarik kebelakang Amandio tidak langsung terjun di drifting. Justru, Dio, panggilan akrabnya malah turun balap untuk pertama kalinya pada Kejuaraan Rally Nasional di umurnya yang masih 14 tahun.

The Cleanest Junkyard

Saat tim datang ke workshop, kita bisa melihat ini bukan sebuah bengkel yang besar, tapi semua tentang S Chassis ada disini. Atau mungkin yang tidak terpikirkan oleh kita bisa aja ada disini. Sejauh mata memandang, banyak spare part yang sudah terdata dengan baik, tersusun dengan baik dengan compartment yang sudah disusun sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhannya.

Tempat berkarya Dio ini ternyata juga menjadi tempat tinggal keluarganya. Berlokasi di kawasan Jakarta Timur, awalnya rumah tersebut tidak ditinggali sampai sekitar 2016 ketika Dio bergabung dengan Intersport Drift Team dan saat ini juga lah rumah ini sepenuhnya menjadi lahan workshop. Lantai 1 berfungsi sebagai workshop dan lantai 2 menjadi tempat ia beserta keluarganya tinggal.

Sebagian besar memang barang bekas, tapi diantaranya itu ada mesin LS, Stock Bumper, Stock gardan, As Roda dan banyak lainya. Itu hampir semua untuk kebutuhan dari client “55 Racing” ataupun suku cadang Dio saat turun balap drifting.

Kenapa banyak barang bekas? ya karena Dio punya kebiasaan (dibaca: metode) bila ada yang menjual dengan harga yang cocok dan kondisi barang memang masih bagus kemungkinan besar pasti akan dibeli. Entah dipakai kapan itu masalah terakhir bagi Dio, yang penting stok spare part aman. Kalau ternyata gak terpakai sama sekali, barang tinggal dijual lagi.
“Jadi sekarang tau kan kenapa gw gak pernah ambil pusing mepetin mobil orang waktu tandem, ya semua cadangan ada di sini” jelas Dio sambil ketawa.

Masalah mesin kesukaan Amandio, memang lebih tertarik dengan mesin SR buatan Nissan. Jadi, jangan heran kalau part mesin di rumah kebanyakan bakal didominasi part mesin kesukaannya itu. Alasannya cukup simple, menurutnya mesin SR itu gak ribet dan punya durbility yang cukup tinggi.

Saat ini di Indonesia, Amandio berada dalam naungan LFN Racing Team. Dimana LFN sendiri adalah sebuah perusahaan tambang milik H. Putra Rizky. Didalam LFN Racing Team ini terdiri dari Amandio, Alinka Hardianti dan tentunya Putra Rizky itu sendiri.

Dari tim inilah Dio mendapat kesempatan untuk belajar kembali membangun mobil. Dia mendapat tantangan dari Putra untuk bersama-sama membangun mobil S15 yang sekarang ia gunakan menjadi sebuah tire killer. S15 ini bakal ditanamkan mesin dari General Motors yaitu LSX, bukan LSX 376-B15 atau LSX 376-B8 namun langsung LSX 454 7000cc, 627hp.

Nantinya mesin LSX, Dio bakal mengkolaborasikan dengan transmisi dogbox sequential. Transmisi sequential sangat memudahkan di skenario balapan, yang jelas bakal lebih simple dan hemat waktu dalam hal berpindah gigi. Transmisi ini punya 6 percepatan, tapi kayanya kalau dilihat dari tipe trek drift di Indonesia cenderung pendek maka kemungkinan besar bakal hanya sampai gigi ketiga saja.
Rencananya S15 bermesin LSX buatan Dio bakal siap digunakan di 2022 ini. O iya, ada juga projek Honda City Hatchback kategori ITCR di ISSOM musim ini. Jadi, tunggu aja kabarnya ya.
You Have To Be A Champion
Sejak awal, sang Ibunda lah yang paling mendukung karir balap Amandio. Ibunya pernah berkata bahwa kalau ingin jadi pembalap dirinya harus selalu fokus dan harus terus berkembang.

Besar dari keluarga biasa-biasa saja, bukan orang yang berlebih. Dio pernah dapat pesan dari Ibunya bahwa di setiap balapan yang diikuti harus ia menangi. Karena apabila tidak menang, semua hal yang sudah dipersiapkan akan percuma dan sia-sia.

Di awal karir balapnya, tak pernah terpikir oleh Dio untuk langsung menjadi seorang drifter pada saat itu, yang terpikirkan hanyalah hanya ingin menjadi juara di setiap kejuaraan balap yang dia ikuti. Dan di tahun 2005 menjadi tahun pertama Dio turun balap, yaitu ke Kejuaraan Nasional Rally.

Di tahun 2005 itulah Amandio yang baru berumur 14 tahun menjadi pemenang di Kejuaraan Nasional Rally. Kompetitornya jangan diragukan lagi, nama-nama pembalap besar seperti Rifat Sungkar yang juga sedang naik daun menjadi saksi kiprah Dio yang baru dimulai.

Sebegitu bertalentanya Amandio, dirinya sangat jarang kalah sejak balapan pertamanya. Biasanya sebuah kekalahan baru mampir ketika kendaraan Dio mengalami kendala teknis. Jadi bisa dibilang kendaraanlah yang harus bisa mengikuti skill dari Dio.

Sudah balapan dari usia 14 tahun jelas telah membuat mental Amandio sudah tertempa sejak dini. Masalah teknis kayaknya sudah menjadi lagu lama, tinggal bagaimana Dio dan tim bisa menemukan solusinya atau tidak.

Setelah balap reli, terjun lah Amandio ke ajang drifting dengan niatan utama yang katanya cuma iseng. Dengan modal iseng, Dio justru dapat banyak kemenangan yang membuat nya betah di skema drift tanah air. Tercatat pada 2007 Amandio pernah memenangkan event Goodyear Night Drift. Di tahun berikutnya Dio mendapat juara kedua di event yang sama.
Pada 2009, Amandio menjadi runner up pada ajang Achilles Drift Battle. Terpukau dengan skill yang dipunyai Dio, Achilles kemudian mengajak dirinya untuk bertanding di Formula Drift Asia. Tak tanggung-tanggung, Amandio berhasil menduduki Top 3 Formula Drift Asia pada 2010.
Seperti pesan dari sang Ibu yang mengharuskan Dio untuk terus berkembang, hijrah lah Dio ke Jepang untuk beberapa lama dengan tujuan utama yaitu belajar drifting. Tak ada tempat yang paling baik selain Jepang yang notabene adalah tempat asal drift itu sendiri. Selain belajar cara drifting, bisa dibilang Dio juga tak sedikit mendapat ilmu perihal cara membangun mesin yang benar.
Jepang sangat kental dengan skena drift grassroot nya. Namun, memang di Jepang sendiri banyak punya sirkuit atau trek yang cukup mudah diakses kalangan umum.

Jadi, jangan heran dengan gaya drifting Amandio yang bisa sangat menempel dengan pihak lawannya. Kenekatan dalam menusuk dan berhadapan door-to-door adalah beberapa hal yang Dio pelajari dari tanah kelahiran drifting tersebut.

Di negeri sakura itu sendiri pun nama Amandio termasuk yang disegani. Pasalnya ketika usia 21 tahun Amandio pernah naik podium dengan mendapat posisi ketiga pada Seri 4 D1GP 2013 di Ebisu.

Sumber: Liputan6.com
Amandio tercatat sebagai satu-satunya drifter Indonesia dan drifter dari luar Jepang yang secara penuh mengikuti semua rangkaian seri di D1GP 2014. Dio sempat masuk Top 20 QTT pada Seri 4 & 5 di Ebisu, dan kemudian menjadi Top 30 Professional Drifter yang berhak masuk ke Final Round D1GP 2014 di Odaiba Tokyo. Pada ser penutup tersebut Dio berhasil masuk hingga jajaran Top 16.

Sumber: Twitter Achilles
Dari era mengikuti D1GP inilah Amandio berkenalan dan berteman dengan Georgy “Gocha” Chivchyan yang nantinya bakal bermuara ke ikutnya Dio di ajang Russian Drift GP pada 2021. Cerita Amandio di RDS GP bersambung ke artikel besok yaa kawan-kawan.. stay tuned..
Bonus Foto:



