Kejuaraan X-Offroad kali ini membuat Demas Agil mendapatkan banyak pelajaran berharga. Meskipun baru pertama kali terjun dalam balapan dengan arena tanah, Demas Agil bisa melewati dengan cukup lancar.
Melawan Keganasan Lumpur
Sirkuit speed offroad non permanen Pagedangan, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan menjadi saksi keampuhan Demas Agil dalam ajang balap X-Offroad pada tanggal 22-23 Februari 2014 lalu. Demas Agil terjun dengan mobil Escudo yang telah dipersenjatai dengan mesin Nissan SR 20 DET turbo. Mobil ini awalnya adalah milik offroader angkatan lama yaitu Almarhum Yandi. “Saya mempersembahkan balapan kali ini untuk Almarhum Yandi,” ujar Demas Agil.
Pada ajang kali ini, Demas Agil masuk dalam kelas FFA2 atau Free For All bermesin 4 silinder. Dengan dinavigatori oleh adiknya sendiri, Febrizky Ramadani, Demas menunjukkan kepiawaiannya mengendarai mobil offroad ini. Sepanjang balapan, Demas harus mengontrol emosinya dikarenakan track yang berlumpur.
Di SS1, Demas sudah dihadapkan dengan lumpur yang terakumulasi sehingga menutupi kaca helmnya. Hal ini sangat tidak menguntungkan karena waktu Demas banyak terbuang hanya untuk membersihkan kaca helmnya dari lumpur yang menghalangi pandangannya.
Pada akhirnya, Demas membuka kaca helm fullface yang ia kenakan. Hal ini malah semakin memperburuk keadaan. Lumpur dengan ganasnya mengenai wajah terutama daerah mata Demas. Demas tetap saja kehilangan banyak waktu dikarenakan harus membersihkan matanya yang terkena lumpur. Setiap kali membersihkan mata, Demas harus melepas gasnya. “Ini terlalu beresiko jika saya tetap injak gasnya,” kata Demas.
Setelah melalui keganasan lumpur yang menghambat performa Demas, Demas akhirnya finish dengan perolehan waktu 7:09:863. “Saya sudah kenyang. Kenyang makan lumpur, Mas,” Ujar Febri, sapaan akrab Febrizky Ramadani, adik Demas sekaligus navigatornya seraya tertawa ketika mereka sudah sampai di paddock.
Beruntungnya, pada SS2, Demas mendapat pinjaman goggle yang khusus digunakan untuk medan berlumpur dari Haji Rio Teguh, Ketua IMI Jabar yang berasal dari Tim GT Radial. Pelindung mata itu membawa Demas finish dengan catatan waktu 5:05:663. Catatan waktu itu sekaligus membawa Demas berada pada peringkat kedua dibawah catatan waktu Rifat Sungkar yang juga turun di kelas yang sama. Tetapi justru Haji Rio Teguh mengalami masalah pada mesin di SS2.
Hari pertama berjalan dengan lancar. Demas merasa puas dan optimis bisa membawa piala dengan catatan waktunya hari itu.
Hari kedua, Minggu, 23 Februari 2014, Demas Agil siap menempuh dua SS yang tersisa yaitu SS3 dan SS4. Saat itu cuaca terbilang cerah meskipun lintasan masih tetap basah. Meski begitu, basahnya lintasan tetap tidak separah sebelumnya.
Start pada SS3 dilalui Demas dengan lancar. Namun sayangnya, pada satu tikungan, Demas mengalami kesalahan sehingga mobil Escudo yang dikendarainya berbelok melebar. Untuk menyiasatinya, Demas berusaha memperbaikinya dengan memanfaatkan pembatas jalur sebagai bumper sehingga ia bisa kembali lagi ke jalur.
Namun perhitungannya kembali kurang tepat. Pembatas jalur yang menjadi tumpuan harapan Demas agar bisa kembali lagi ke jalur ternyata terlalu lembek dan mengakibatkan mobil tersangkut. Demas berusaha mengeluarkan mobil dari lumpur.
Setelah dipaksakan, ternyata mobil masih tidak bisa keluar dari jeratan lumpur. Sang navigator yaitu adik Demas sendiri, Febri, mengingatkan Demas untuk jangan terlalu memaksakan mengejar waktu karena masih ada kesempatan di SS4. Demas tidak menghiraukannya. Ia tetap penasaran karena baginya, itu masih terlalu dini untuk menyerah. Hingga akhirnya terdengar suara dentuman keras seperti hantaman yang membuat Demas menyerah.
Mobil yang dikendarai Demas ternyata sudah terlalu dalam tersangkut di lumpur sehingga diangkat dengan backhoe. Di paddock, mobil diperiksa dan ditemukan bahwa suara dentuman keras tadi berasal dari gardan depan yang pecah. Demas dan tim Dem’s Autotechnic berusaha menyelamatkan mobil tersebut agar tetap bisa digunakan oleh Demas pada SS4.
Tampaknya langkah Demas pada X-Offroad terhenti pada SS3. Part yang dibutuhkan oleh mobil ternyata cukup sulit kan. Bahkan bantuan dari tim lain bernilai nihil. Demas terpaksa menyerah.
Sepanjang dua hari mengikut speed offroad, Demas mendapatkan pelajaran berharga dan data-data untuk ikut dalam event selanjutnya. Dalam speed offroad dibutuhkan kesabaran dan strategi. “Speed offroad enggak seperti touring, slalom atau drift yang bisa dipaksa dan ditekan terus sampai titik limit,” ujar Demas. Ia tetap senang dengan pengalaman pertamanya mengikuti ajang offroad.






