Apa yang biasanya dilakukan pasangan bule muda setelah belum lama jadian? Yaps, mereka biasanya sepakat membayar tagihan secara terpisah alias bayar sendiri-sendiri setelah beberapa kali kencan. Tetapi Bridget Thackwray dan Christopher Richwhite bukan dua sejoli pada umumnya, mereka hanya beberapa kali kencan kemudian berkomitmen untuk melakukan ekspedisi keliling dunia. Tujuh benua selama tiga tahun dengan jarak tempuh 350.000 kilometer — itulah yang menjadi target mereka.
“Kami mencorat-coret peta dunia menggunakan pena berwarna, dengan naifnya kami merencanakan rute yang akan kami lalui di tujuh benua. Kami menginginkan satu petualangan terbesar, mulai dari suhu terekstrim hingga lanskap unik,” cetus Bridget.

Jeep Wrangler Unlimited Rubicon yang menjadi tunggangan andalan mereka dijuluki Gunther. Julukan ini diambil dari seorang overlander berdarah Jerman — Gunther Holtorf yang pernah menaklukkan 215 negara maupun wilayah selama 26 tahun dan sepanjang 884.000 kilometer dengan Mercedes G-Wagen. Bahkan jalur yang ditentukan oleh pasangan muda ini pun mirip yang dilalui oleh Gunther. Tak ayal jika mereka sangat terinspirasi oleh spirit dan hasrat Gunther untuk mengelilingi planet ini.
Pasangan ini, Bridget berasal dari Kerikeri dan Christopher atau Topher panggilan akrabnya berasal dari Auckland. Yaps, keduanya berkewarganegaraan Selandia Baru. Dalam perjalanannya, mereka memiliki tanggung jawab masing-masing, Bridget bertugas mengabadikan momen dengan kamera DSLR sementara Topher menggunakan drone untuk menangkap pemandangan apik yang mereka lalui.
Setahun berselang sejak coretan awal, rencana berubah menjadi kenyataan, mereka telah menaklukkan suhu panas di Selandia Baru dan bergeser ke Arctic Circle di Alaska dengan suhu -30 derajat Celsius pada April tahun lalu. Mereka berkendara dari utara ke selatan — berjalan kaki menyusuri hamparan kering di Amerika Utara, berenang dengan kura-kura di Galapagos, melihat penguin di Antartika dan meninggalkan Jeep mereka selama sebulan saat berlayar dari Buenos Aires ke Cape Town dengan kapal kargo trans-Atlantik.

Waktu berkendara rata-rata menempuh hingga 12 jam per harinya tergantung pada lanskap yang mereka lewati dan pengambilan gambar untuk konten di situs web dan instagram dengan akun Expedition Earth. Bensin ekstra, stok ransum, dan visa berkunjung adalah bagian dari rutinitas, sementara konflik politik dan budaya yang ditemui di perjalanan terkadang tak terhindarkan. Bridget dan Topher sempat berkendara melalui Meksiko bersamaan hari pemilu dan tanpa sengaja memasuki area ‘ramah senjata’ di pedesaan Ekuador.
Pula tak luput dari konflik internal, sebuah argumen mencapai titik didih ketika Bridget salah mengambil jalur dan ‘melewati’ lubang, yang menurut Tropher ban ‘masuk’ ke dalam lubang. Sebuah masalah teknis yang berujung pada pertengkaran tanpa konklusi, namun keduanya dapat segera menyelesaikan dengan kepala dingin. “Sejak itu, berkendara lebih hati-hati lagi,” ucap Bridget. Ia mengatakan bahwa terkadang makanan ringan juga membantu memediasi, ia mulai memakan kacang, cokelat atau buah kering ketika suasana hati berubah tajam.

Momen perjalanan yang mereka tunjukan lewat medsos terlihat epik, yang kemudian menarik ribuan followers ke feed Instagram mereka. Yaps, sangat mungkin para pengikut mereka bermimpi keliling dunia menggunakan mobil layaknya Bridget dan Topher. Seperti komentar salah satu followernya yang mengatakan, “Postingan anda selalu membuka mata saya seberapa besar dunia ini sebenarnya.”
“Sekali atau dua kali seminggu, kami meminta follower menghampiri kami untuk menceritakan bahwa mereka mengikuti perjalanan kami lewat Instagram atau situs web. Ini bahkan terjadi di beberapa bagian dunia yang sangat terpencil, seperti di Etosha, Namibia,” ujar Bridget.

Kini hampir 330.000 follower, Bridget dan Topher menawarkan lebih dari sekedar inspirasi road-trip. Pasangan ini telah bekerja sama dengan World Wildlife Fund dan National Geographic serta menyelipkan pesan seputar lingkungan dalam foto dan video. “Kami justru menemukan tujuan yang jauh lebih besar diluar ide-ide awal kami. Kami mengeksplorasi planet ini untuk berbagi dan menampilkan keindahan alamnya yang tersembunyi, serta mengekspos kerapuhan lingkungan yang tengah dihadapi bumi,” ucap Bridget.
Melihat montase budaya dan lanskap adalah satu hal, kata Bridget, tetapi menyaksikan manusia menyebar begitu jauh dan luas adalah hal lain. Sudut-sudut paling terpencil di bumi jarang dikunjungi, sehingga Bridget dan Topher menggunakan kamera untuk memperbesar celah ini, berharap dapat meluruskannya. “Sayangnya, manusia telah menyebar terlalu jauh, menyebabkan konsekuensi bencana pada habitat alami,” imbuhnya.
Yaps, romansa bukan lagi menjadi tujuan utama, melainkan bertujuan untuk menularkan kesadaran akan populasi manusia yang terlampau besar dan menaruh perhatian sebagai kebutuhan untuk mempertahankan bumi secara berkelanjutan. “Masalah lingkungan, seperti polusi plastik dan penggundulan hutan, semuanya terkait langsung dengan jumlah manusia di planet ini. Kami terkejut bahwa hanya ada sedikit upaya dalam meningkatkan kesadaran seputar kelahiran,” ucapnya.
Di Selandia Baru, kantong plastik sekali pakai berada di ambang kepunahan, dan kabar baiknya, pembungkus beeswax re-usable mulai beredar dimana-mana. Bridget dan Topher awalnya berasumsi bahwa polusi plastik akan berakibat buruk di negara-negara kecil, namun yang terjadi justru sebaliknya.
“Sebagian besar negara memprioritaskan kesejahteraan lingkungan untuk melindungi ekonomi pariwisata mereka. Misalnya, masyarakat kota di pesisir Amerika Tengah sekarang menolak untuk menyediakan sedotan plastik atau kantong plastik. Kini komunitas lokal merawat citra kosmetik mereka. Iya, Amerika sedang menuju ke arah yang positif,” jelas Bridget.

“Ini adalah tentang perjalanan jati diri dan lingkungan. Kami berharap temuan kami akan terus mendidik dan menginspirasi orang lain untuk memperbaiki, melindungi, dan memuliakan bumi tempat kita hidup.” imbuhnya.
Baik Topher dan Bridget, keduanya merupakan pecinta travelling sebelum akhirnya bertemu di Queenstown. Topher yang berusia 33 tahun tinggal di Swiss dan London, bekerja sebagai musisi yang tergabung dalam band rock Lonsdale Boys Club dibawah perusahaan rekaman Island Records. Berbekal jiwa kewirausahaan, Ia kemudian meluncurkan Pineapple Bar di Auckland.
Sementara itu Bridget, yang kini berusia 25 tahun, telah mengunjungi hampir 60 negara dan sesekali waktu tinggal di London dimana Ia menjalankan situs web bisnis desain dari jarak jauh (diluncurkan ketika ia berusia 15 tahun) dan market place online di bidang fashion — Fashbae.

Perjalanan mereka masih jauh dari selesai. Butuh hampir satu tahun lagi, pasangan ini akan terus melanjutkan rute secara zig-zag, sisi utara dari Afrika Selatan melalui Timur Tengah ke perbatasan Rusia-Finlandia. Mereka kemudian akan berkendara ke selatan dari Rusia sampai mereka kembali ke Selandia Baru, mengunjungi 70 negara pada akhir 2020. Tetapi kemungkinan akan mundur karena adanya pandemi Corona.
“Kami sangat bersemangat melihat kemana jalan membawa kami, baik secara harfiah maupun lingkungan,” ucap Bridget.
Tips travelling berpasangan ala Bridget:
- Tempatkan energi untuk solusi, bukan bertengkar. “Apakah Anda kehilangan paspor atau kehabisan bahan bakar, jangan buang waktu dan energi untuk saling menyalahkan. Akan selalu ada masalah, dan kemungkinan anda berdua yang akan memperkeruhnya.”
- Berbagi tugas. Bridget dan Tropher berbagi tugas mulai dari tanggung jawab paspor ketika di perbatasan, memesan hotel, termasuk dokumentasi.
- Hindari argumen yang tidak penting dan saling mengingatkan untuk tenang.
- Stok makanan ringan. “Kami berdua percaya bahwa kelaparan adalah pemicu kemarahan yang tidak semestinya. Beberapa camilan dapat membantu meredakan suasana hati yang rewel dan berpotensi konflik.”
- Siapkan rencana cadangan untuk situasi diluar dugaan. Bridget dan Topher menyiapkan solusi cepat untuk beberapa skenario seperti ‘bagaimana jika ini dan itu’, atau ‘dimana harus bertemu jika tersesat atau dirampok’ — sebelum melakukan perjalanan.
Sejauh ini mereka telah menempuh sekitar 217.000 km dan rencananya akan tiba di India pada Juli tahun ini. Daripada kalian penasaran, langsung aja mampir ke IG-nya atau https://www.expeditionearth.live/, dijamin bikin envy!
Bonus Foto

By: Lie

