SUKABUMI – Kejurnas Speed Offroad Seri 1 dan 2 yang dilangsungkan pada Sabtu dan Minggu (23 – 24 Mei 2026) di Sirkuit Hidzie Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat, sukses mencuri perhatian para pecinta balap tanah nasional.
Sempat dibayangi kekhawatiran minim peserta, putaran pembuka musim ini justru menghadirkan antusiasme tinggi dari para offroader berbagai daerah.
Jumlah starter yang akhirnya menyentuh angka 45 peserta menjadi sinyal positif bahwa gairah speed offroad mulai kembali bergeliat.
Bahkan, menurut Ali Celindo selaku penyelenggara, animo peserta sebenarnya jauh lebih besar dari angka tersebut.
“Bukan sekadar tercapai di angka 45 peserta. Sebenarnya pesertanya meledak, cuma kita tahan. Banyak yang masih ingin daftar,” ujar Ali Celindo.

Haji Ali Celindo sebagai salah satu penyelenggara
Format dua seri dalam satu event disebut menjadi salah satu faktor utama meningkatnya minat peserta.
Konsep ini membuat para pembalap merasa lebih sayang jika melewatkan satu putaran karena konsekuensinya langsung berdampak pada perolehan poin kejuaraan.
“Kita sekarang satu kegiatan langsung dua seri, seri satu dan seri dua. Itu jadi daya tarik buat mereka. Karena kalau mereka lepas satu event sekarang, otomatis kehilangan dua poin,” jelasnya.
Selain format kompetisi, panitia juga memberikan berbagai stimulus untuk mempermudah peserta turun balap. Mulai dari potongan biaya pendaftaran hingga gimmick hadiah yang dinilai cukup membantu para pereli.
Namun daya tarik Kejurnas Speed Offroad kali ini bukan hanya kemudahan yang diberikan kepada peserta.
Penyelenggara juga mulai mengembalikan karakter lintasan speed offroad yang lebih teknikal dan menantang, termasuk menghadirkan handicap bergaya old school yang memaksa pembalap kembali beradaptasi.
“Sekarang handicap speed offroad kita kembalikan seperti masa lalu. Banyak jumping-an, jadi pembalap harus belajar lagi,” ungkapnya.
Di tengah meningkatnya persaingan, kelas Jimny menjadi salah satu kategori yang paling menarik perhatian. Kelas yang identik dengan Suzuki Jimny itu mulai kembali ramai setelah regulasi mengalami penyesuaian.

Peserta yang menggunakan UTV
“Kita ada pendekatan ke kelas G.1. Regulasi kita ubah lagi supaya lebih menarik. Alhamdulillah sekarang pesertanya lebih dari 10 kendaraan,” ujar Ali.
Kembalinya Jimny-Jimny lawas ke lintasan pun memberi warna tersendiri di paddock. Harapan untuk melihat kelas G.1 semakin besar pada seri berikutnya juga mulai terbuka lebar.
“Mudah-mudahan seri depan bisa nambah lagi. Anak-anak G.1 juga antusias,” lanjutnya.
ANIMO TINGGI DI KELAS UTV
Sementara itu, kelas UTV juga menunjukkan perkembangan signifikan dibanding musim sebelumnya. Jika dahulu jumlahnya masih sangat sedikit, kini kelas tersebut mulai menjadi salah satu magnet baru dalam speed offroad nasional.
“Ini perjuangan dari nol. Dulu UTV cuma dua atau tiga unit. Sekarang pemilik UTV sudah banyak dan mereka cari tempat main, ya di sini tempatnya,” tutup Ali Celindo.
Dengan meningkatnya jumlah peserta, ramainya kelas G.1 dan UTV, serta format kompetisi yang semakin menarik, Kejurnas Speed Offroad Seri 1 dan 2 menjadi penanda bahwa balap offroad nasional perlahan kembali menemukan momentumnya. (*)

