Tahun demi tahun, Kustomfest selalu jadi tempat di mana karya tangan dan imajinasi berpadu jadi satu. Namun, di edisi kali ini, suasananya terasa lebih simple namun deep. Bukan karena deretan motor dan mobil kustom yang dikurasi ketat, tapi juga karena setiap detailnya seolah bercerita tentang semangat, ketekunan, dan dedikasi.

Saat memasuki hall, satu yang menarik perhatian adalah “Handoko Davidson”. Kendaraan roda empat bergaya era Perang Dunia II ini yang diberi julukan “Old Soul, New Thrill.” Dari kejauhan, tampilannya sudah mencuri perhatian dengan bentuk unik seperti perpaduan antara mobil perang klasik dan jiwa Harley-Davidson yang legendaris. Bodi kuning muda dengan guratan garis merah tipis, ban besar dengan velg ruji Jaguar tua, serta posisi mesin Harley di samping menjadikan mobil ini benar-benar tampil nyentrik. Sebuah interpretasi baru dari nostalgia yang dikawinkan dengan imajinasi masa kini.

Sementara itu, di sisi lain hall, berdiri gagah sebuah Harley Davidson Road Glide Touring dengan gaya Bagger karya Raceworks milik Wahyu Lamban, yang diberi nama Jatmiko nama belakang dari sang builder sendiri.

Motor ini tampil ngejreng sekaligus brutal: penuh serat karbon, dengan sentuhan exhaust titanium warna pelangi, swing arm berfinishing CNC presisi, dan layar digital Haltech yang menampilkan data mesin yang dikendalikan penuh lewat manajemen ECU Haltech.

Dari dekat, setiap komponen terasa seperti pamer kemampuan engineering tingkat tinggi. Desainnya bukan sekadar gaya, tapi juga menunjukkan bahwa kustom di Indonesia sudah sejajar dengan level internasional.

Tak hanya itu, perhatian pengunjung juga tersedot pada sosok legendaris yang tak disangka muncul di tengah lautan karya lokal — Ferrari 365 GTB/4 “Daytona” Competizione. Mobil ini adalah versi balap dari Daytona road car yang turun di lintasan dunia antara tahun 1970 hingga 1973, dan kini tampil sebagai penghormatan terhadap era kejayaan endurance racing. Dengan mesin V12 naturally aspirated 4.4 liter (Tipo 251) dan enam karburator Weber 40 DCN, tenaga yang dihasilkan mencapai 400–450 hp, disalurkan lewat bodi aerodinamis khas Ferrari era klasik. Vleg gold racing dan exhaust sampingnya memancarkan aura buas yang berkelas seolah mengingatkan bahwa seni dan performa bisa berjalan beriringan.

Di sisi lain area, tampak sebuah karya yang lebih personal namun tak kalah menarik, Retro 3 Wheeler karya Lulut “LT” Wahyudi, sang Direktur Utama Kustomfest.

Lulut dikenal bukan hanya sebagai penggerak kustom kulture di Indonesia, tapi juga sebagai kreator yang produktif. Hingga saat ini, ia sudah menciptakan belasan unit Retro 3 Wheeler, dan lima di antaranya dipajang cantik di Kustomfest tahun ini. Tiga roda, desain tubuh retro futuristik, dan karakter handmade yang kuat menjadikan setiap unitnya seperti pernyataan bahwa kreativitas sejati tidak perlu bergantung pada besar kecilnya mesin, cukup pada keberanian menciptakan sesuatu yang belum ada.

Lebih jauh ke dalam, deretan mobil klasik seperti Impala 1962 milik Jambronk karya Zie Garage YKY, serta Impala 1968 milik Japrak, juga turut mencuri perhatian.

Cat White Pearl Metal Flake pada Impala 1962 berkilau di bawah lampu hall, sementara kaki-kaki dengan wire wheels dan air suspension membuatnya tampak elegan tapi tetap low and mean. Keduanya bukan sekadar pajangan, tapi bukti bahwa keindahan sejati bisa lahir dari kesabaran dan dedikasi.


Di antara sorotan besar itu, pengunjung juga dimanjakan oleh 120 motor terkurasi dan sekitar 30 mobil pilihan dari berbagai penjuru tanah air. Semua terpilih bukan hanya karena tampilan, tapi juga karena cerita di balik proses kreatifnya.

Tak hanya kendaraan, merchandise limited edition Kustomfest juga jadi incaran berat para pengunjung. Setiap tahun, desainnya selalu berbeda dan jumlahnya terbatas. Barang siapa yang berhasil mendapatkannya, seperti membawa pulang sebagian kecil sejarah dari festival ini.

Termasuk juga Mooneyes, brand legendaris asal Jepang yang booth-nya selalu ramai oleh penggemar setia.

Dan seperti tradisi, live tattoo session tetap menjadi daya tarik tersendiri. Seniman tato dari berbagai kota menghadirkan karya dengan beragam gaya dari alat manual tradisional hingga mesin modern menunjukkan bahwa seni tubuh juga punya tempat sejajar dengan seni otomotif.

Kustomfest 2025 sekali lagi membuktikan bahwa dunia kustom bukan sekadar soal kendaraan, tapi soal kebebasan berekspresi dan menghargai proses.

Dari mesin hingga logam, dari tinta hingga kulit, dari debu hingga gemerlap cahaya panggung semuanya berpadu jadi satu bahasa: kreativitas tanpa batas.

Dan seperti setiap tahun, satu hal tetap sama rasa kagum yang membuat siapa pun yang datang ke Kustomfest, selalu ingin kembali lagi tahun depan.


