JAKARTA – Setelah enam putaran yang dilangsungkan sepanjang tahun 2025, Fadil Wijaya, pereli yang turun di Kelas F.2 di bawah naungan 368 Motorsport, berhasil menutup rangkaian Kejurnas Sprint Rally 2025 dengan perolehan yang impresif.
Setidaknya, selama musim ini ia tidak pernah kehilangan posisi tiga besar sepanjang musim. Menurutnya, hasil tersebut sudah menjadi catatan yang baik meskipun dirinya belum sempat merajai podium tertinggi pada musim ini.
Baginya, berkaca melalui pencapaian yang ia torehkan sudah menjadi pijakan yang cukup. Terlebih dengan menjadi langganan podium, ia sudah mulai bisa memetakan terkait apa yang harus ia benahi untuk musim depan.
“Bagi saya, musim 2025 ini bisa dibilang sukses. Ibaratnya lima dari enam seri yang saya ikutin selalu berhasil berada di podium. Cuma memang saja belum rezeki untuk bisa berada di podium pertama. Walaupun selalu podium ketiga, dan belum bisa podium pertama, hal ini yang membuat saya lebih penasaran dan itu yang menjadi target saya untuk musim depan,” jelas Fadil, saat wawancara dengan FastnLow.

Honda Brio andalan pereli asal Kalimantan (Foto: Anggi)
Bicara terkait apa yang menjadi rintangan dirinya belum bisa menguasai podium tertinggi, ia menjelaskan sejumlah hal yang sempat menjadi drama.
Terlebih pada putaran kedua yang dilangsungkan di Bandung, Jawa Barat, Honda Brio berkelir merah ini sempat mengalami insiden yang menyebabkan mobilnya terbalik.
Dampak dari insiden tersebut, mesin dan mobil mengalami kerusakan sehingga ia harus berbenah agar performa dari mobil reli tersebut bisa kembali optimal.
Belum lagi persoalan persaingan yang harus ia hadapi, ini menjadi faktor lain yang juga harus ia perhitungkan untuk musim Kejurnas Sprint Rally.
“Nah persaingan juga menjadi faktor yang menurut saya harus dipikirkan, kemudian kondisi mobil serta ditambah dengan kondisi lintasan Sirkuit Hidzie Cikembar, yang saya masih sangat belum mengetahuinya,” tambah Fadil.
Buntut dari tidak familiarnya sirkuit tersebut, pada putaran terakhir kemarin ia mengalami kerusakan pada bagian LSD. Hal ini terjadi pada saat latihan, ada jumping begitu mendarat LSD putus. Akhirnya dibenahin lagi dan dari mekanik untung bisa bekerja cepat sampai mobil kembali prima lagi.

Performa Honda Brio yang bisa diandalkan di setiap balap (Foto: Anggi)
Sementara itu, mengenai sengitnya persaingan di Kelas F.2 yang menjadi favorit para pereli, ia juga bertanya-tanya. Setidaknya, di setiap gelaran Kejurnas Sprint Rally, kelas ini menjadi penyumbang terbanyak peserta dari sebuah penyelenggaraan sprint rally.
“Jadi menurut saya tetap ya, gengsinya F.2 ini di pasar lokal. Jadi kelas ini punya magnet sendiri. Bahkan dari peserta pun, Kelas F.3 yang di atas kita, itu kalah banyak kalau dari jumlah pesertanya, masih lebih banyak F.2. Makannya di kelas ini kalau kita ada melakukan sedikit kesalahan, langsung bisa dilampaui oleh peserta lainnya kan,” bebernya.
Sebagai langkah dari persiapan untuk menyiasati ketatnya musim balap 2026, ia bersama tim mekanik yang dikomandoi oleh Arce Meyer, telah menyiapkan sejumlah langkah. salah satu yang dipersiapkan adalah mesin.
“Gua berencana untuk membuat satu mesin cadangan yang mirip dengan yang saya gunakan. Supaya apa, hal ini untuk memberikan rasa percaya diri sehingga saya tidak perlu khawatir untuk performanya,” tukas pereli asal Kalimantan ini.
Di penghujung musim ini, ada hal yang ingin ia sampaikan terkait pennyelenggaraan. Setelah melewati hampir semua seri yang digelar, Fadil, merasa untuk waktu pelaksaannya tidak berbenturan dengan jadwal balap lainnya.
Sebab, hal ini berpengaruh bukan kepada timnya saja, tetapi tim lain yang juga harus membagi konsentrasi. Hal ini dianggap merugikan ia bersama peserta lainnya yang terdampak.

Sejumlah penyempurnaan akan dilakukan untuk musim 2026 (Foto: Anggi)
“Penyelenggaraannya ini terlalu mepet ya waktunya, bisa dua minggu lalu ada lagi. Mudah-mudahan untuk tahun ndepan yang mengadakan event jangan seperti tahun ini, karena kemarin itu ada yang bentrok kan antara slalom dengan sprint rally jadi otomatis peserta juga akan terbagi”.
“Harapan saya untuk tahun depan juga supaya ada gelar juara nasional untuk masing-masing kelas, tidak hanya berhenti pada kelas RC semata. Sebab, kalau bicara peserta, Kelas F.2 dan kelas lain juga lebih banyak dari RC, kan. Ya itu usul saya agar supaya ada apresiasi untuk mengenai pencapaian teman-teman,” pungkasnya. (*)

