Jakarta, 17 Desember 2015 – Memasuki rangkaian penyelenggaraan musyawarah nasional (Munas) Ikatan Motor Indonesia (IMI) ke VIII, perwakilan pengurus provinsi (pengprov) dari 34 daerah di Indonesia mulai berdatangan ke Hotel Borobudur. Selain untuk menyampaikan laporan pengurus masa bakti 2011-2015, kegiatan ini akan menentukan ketua baru yang pada akhirnya ikut mengarahkan masa depan dunia otomotif Indonesia.
Prasetyo Edi Marsudi telah resmi menjadi salah satu calon ketua umum IMI melalui pengumuman yang dilakukan tim penjaringan ketua IMI 2015-2019 pada rabu, 16 Desember 2015 kemarin. Gema yang diberikan Prass – panggilan akrab Prasetyo – dalam beberapa minggu terakhir telah memberikan warna tersendiri kepada proses demokrasi pemilihan ketua IMI, walaupun tim penjaringan menyebutkan Prass hanya mendapat dukungan 9 pengprov, sangat berbeda dengan lawannya yang mengantongi 24 surat rekomendasi pengprov. “Tidak bisa aklamasi, organisasi sekelas IMI bukan milik perorangan atau kelompok,” tegasnya.
Prass sendiri merasa terpanggil untuk masuk ke kepengurusan IMI setelah lebih dari 30 tahun berkecimpung di dunia balap. Dimulai dari balap amatir, hingga kejurnas speed offroad yang membawa namanya melambung. Ia memulainya dari bawah, berjenjang, dan dengan support yang sangat kuat dari keluarga serta sahabatnya. Salah satu indikatornya adalah perubahan mobil balap yang menjadi andalannya, mulai dari datsun kotak P510, kijang doyok 1979, Jeep CJ7, hingga Jeep Cherokee yang dipakainya hingga kini.
Hal tersebut membuat banyak pihak seperti para pendiri IMI, komunitas-komunitas, dan juga pelaku balap Indonesia merasa tergerak untuk mendorong pencalonan Prass untuk menjadi ketua IMI 2015-2019. Aliran dukungan mengalir deras kepadanya, mulai dari deklarasi pada tanggal 7 Agustus 2015 hingga menit terakhir pengumuman calon ketua, berbagai tokoh ikut bersuara. Mulai dari Dolly Indra Nasution, Adiguna Sutowo, Bambang Gunardi, Faryd Sungkar, Bambang Sudirdja, Alfonsus Judiarto, Musa Rajeckshah, Rifat Sungkar, Alfian Piuk, Rizal Sungkar, Hardy Sitorus, hingga Basuki Tjahaja Purnama, sampai Presiden Indonesia, Joko Widodo pun ikut menyuarakan dukungannya terhadap Prass.
Ia membawa konsep Profesional, Respek, Aktif, Sosial, dan Solid untuk IMI 2015-2019. Konsep tersebut untuk mewujudkan visi IMI sebagai penggerak modernisasi otomotif dengan semangat mengayomi dan bersinergi secara aktif dengan seluruh pemangku kepentingan demi perkembangan dunia otomotif tanah air. “Kedepannya, IMI harus hadir sebagai pelayan. Mengayomi, melayani, dan membina seluruh stakeholder khususnya para pembalap, sponsor, dan pemerintah demi kemajuan dunia otomotif tanah air.” ujar Prass.
Perbedaan jumlah surat rekomendasi antara Prass dengan calon ketua lain tidak mengecilkan kesempatannya untuk menjadi ketua IMI 2015-2019. Hal tersebut lahir dari peraturan yang menyatakan posisi munas sebagai arena tertinggi organisasi dalam memutuskan sesuatu. “Keputusan tertinggi lahir di munas. Saya berharap munas dapat berjalan dengan lancar dan memilih pemimpin terbaik.” tutup Prass.
Besok pada 18 Desember 2015, berangkat dari pengumuman tim penjaringan dan aturan tersebut, Prasetyo Edi Marsudi akan menjadi salah satu calon ketua IMI 2015-2019. Perjuangannya untuk memajukan dunia otomotif tanah air melalui IMI dimulai dengan #PRASS86forIMI.




