Jauh sebelum tren motorsport menggeliat, pada awal dekade para pembalap masih mengenakan pakaian sehari-hari dan sepatu yang kurang lebih sama dengan sepatu biasa yang dikenakan dirumah atau berpergian, bahkan sandal. Yaps, saat itu belum ada sepatu khusus balap, pada umumnya menggunakan sepatu low-boot.

Tren motorsport melesat pada era 1960-an di negara barat, tak ayal pada masa itu banyak ajang balap tersohor bermunculan diikuti dengan perkembangan mobil balap yang bersaing ketat. Mobil balap mulai diwarnai dengan merk dagang dan simbol sponsor tetapi tidak diikuti dengan sepatu khusus untuk balap motorsport, pembalap memakai sepatu jenis apapun yang mereka miliki. Dari sinilah era pertengahan 60-an motorsport mulai mempengaruhi desain sepatu balap pertama di dunia, dipelopori oleh desainer muda asal Italia.

Sosok itu bernama Francesco Liberto atau dikenal dengan panggilan Ciccio, lahir tahun 1936 di pesisir laut Cefalu, Sicily, Italia. Secara tidak langsung, pria muda inilah yang mengubah gaya berpenampilan pembalap motorsport hingga kini, terutama sepatu balap. Tumbuh dari keluarga yang rendah hati, Ciccio belajar cara membuat sepatu di workshop milik pamannya, bermula dari sekedar membantu justru menjadikannya bekal di masa depan.

Awal tahun 60-an, berusia sekitar 24 tahun, Ciccio berdikari menjadi pengrajin terampil yang menarik perhatian para keluarga lokal terkaya dan para wisatawan yang berkunjung ke daerah itu pasca perang. Ciccio yang juga penggemar berat motorsport, menyukai Targa Florio — salah satu ajang balap tertua di dunia sejak 1906 dan kebetulan ajang itu berlangsung di jalanan berliku daerah Madonie, tak jauh dari Cefalu.

1965
Karir dan konsistensinya sebagai pengrajin sepatu membuatnya semakin dikenal luas. Singkat cerita, Ciccio melakukan pertemuan dengan pembalap dari tim Alfa Corse Racing diantaranya Ignazio Giunti, Nanni Galli dan Geki Russodi di sebuah restoran pizza untuk dibuatkan sepatu khusus balap.
Hal ini dipicu lantaran mobil balap kala itu bertransmisi manual dan ruang kaki yang sempit, sol karet tebal yang tersedia di pasaran 99,9 % tidak ideal dijadikan sebagai sepatu balap.
Dalam pertemuannya, Giunti dan dua rekan satu timnya memberikan semua informasi yang diperlukan dengan harapan memenuhi kriteria sebagai sepatu balap yang ideal. Sepatu harus lembut, ringan dan nyaman dengan sol tipis untuk memaksimalkan sensitivitas kaki saat menekan pedal. Seperti halnya sepatu balet tanpa heel atau frame.

Pertama kalinya Ciccio membuatkan sepasang sepatu yang dipelajari dan didesain khusus untuk kompetisi motorsport. Prototipe sepatu pertamanya memberikan kelembutan yang maksimal tanpa jahitan, hanya mengandalkan lem untuk menyatukan semua bagiannya. Selama sesi latihan sebelum Targa Florio berlangsung, Giunti menemukan kelemahan akibat suhu panas di kokpit Alfa, sepatu buatan Ciccio mulai lepas bagian per bagian. Setelah itu, Ciccio mulai menggunakan teknik jahit dan sepatu buatannya mulai digemari para pembalap terkemuka.

1968
Vic Elfrod, salah satu pembalap Porsche yang berkompetisi di Targa Florio, secara khusus membutuhkan sepatu balap kustom buatan Ciccio. Pembalap asal Inggris ini sebelumnya pernah mengalami kecelakaan yang berakibat jempol kaki kanannya diamputasi. Adapun Ciccio dibanjiri orderan yang menumpuk, tetapi karena merasa punya kewajiban moral akhirnya Ia membuatkan sepasang sepatu kustom untuk Vic dalam waktu yang singkat.

Dalam sepanjang sejarah, kali pertama Ciccio membuatkan sepatu dengan ukuran yang berbeda, sisi kiri berukuran 44 dan sisi kanan ukuran 42. Atas kebaikan hatinya membuahkan hasil yang besar, sehari setelahnya Vic dan co-driver Umberto Maglioli berhasil memenangkan kejuaraan Targa Florio. Di lap terakhir Vic mampu menyalip pasangan Giunti-Galli bahkan 20 menit lebih cepat dari mereka.

1976
Berbekal keuletan membuat karir Ciccio semakin bersinar di dunia balap internasional. Tanpa diduga, Ciccio menerima panggilan telepon dari kota Maranello atas terpilihnya menjadi vendor resmi untuk pembalap Ferrari legendaris seperti Niki Lauda, Carlos Reutemann dan Clay Regazzoni. Niki yang saat itu mengenakan sepatu balap Ciccio menjadi juara dunia F1 tahun 1977. Di akhir musim, Enzo Ferrari secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada Ciccio yang telah berkontribusi pada kesuksesan Cavallino.

1997
Dalam peringatan 40 tahun Marranello, selama acara yang bertajuk “All Ferrari in Sicily”, pawai Ferrari berhenti tepat didepan toko sepatu milik Ciccio, di pinggir laut Cefalu yang indah untuk memberi penghormatan kepada sang maestro sepatu balap. Pada kesempatan itu, Antonio Ghini, mantan direktur komunikasi Ferrari, memberikan Ciccio penghargaan sebuah piston diambil dari mesin V12 Ferrari F1 yang digunakan oleh Michael Schumacher selama musim 1997.

Francesco “Ciccio” Liberto yang kini berusia 83 tahun hampir tidak pernah meninggalkan kota asalnya, ribuan generasi pembalap telah mengunjungi tokonya di pinggir laut Cefalu, termasuk wartawan dan penggemar motorsport. Hasil kerjanya berhasil mencetak pembalap terkemuka sepanjang sejarah, seperti halnya Emerson Fittipaldi, Jacky Ickx, Clay Regazzoni, Mario dan Marco Andretti. Yaps, karya-karyanya kini terpajang di museum seantero dunia.

Sepatu hasil tangan dingin Ciccio kini menjadi simbol status sejati, semangat gaya hidup, dan ikon motorsport, pula tanpa terlepas dari kebaikan hatinya membuat dicintai begitu banyak orang. Di jaman modern seperti sekarang ini, sepatunya masih dibuat secara pribadi oleh Ciccio. Yaps, satu dari sekian ribu produk sepatu balap yang ada di pasaran, membuat sepatu handmade Ciccio bersembunyi di balik pilihan terbaik.
Kini beragam pilihan sepatu balap yang ditawarkan seperti Reebok, Diadora, Alpinestars, OMP, Sparco, Adidas, Puma, dan Asics. Adapun demikian, untuk merk old school yang satu ini — Ciccio, masih dikenakan hingga detik ini oleh pelanggan setianya, salah satunya di Formula 1.

Quote:
“My reward is the joy in the eyes of my customers.”
– Francesco “Ciccio” Liberto –

