Toyota Motor Corporation — Toyota Jidosha Kabushiki –gaisha— didirikan pada 1937 oleh Kiichiro Toyoda sebagai cabang dari Toyota Automatic Loom. Yang terakhir ini adalah bagian dari perusahaan ayahnya, Toyota industries, yang memulai kehidupannya pada abad ke 19 dengan bantuan transfer teknologi dari Oldham di Inggris utara
Divisi otomotif Toyota Industries sebenarnya memulai kehidupannya pada 1933, didorong oleh pemerintah Jepang yang membutuhkan produksi kendaraan domestic dalam menghadapi resesi di seluruh dunia dan perang Sino-Jepang. Toyota menghasilkan mesin tipe A pada 1934, dan mobil penumpang –model AI- pada 1935.
Mesin tipe A
Mobil penumpang model AA
Pada tahun yang sama, perusahaan ini juga menghasilkan truk GI. Produksi mobil penumpang model AA dimulai pada 1936. Mobil-mobil ini mengandung kemiripan dengan mobil-mobil yang dimanufaktur oleh Dodge dan Chevrolet, di mana sebagian suku cadang dapat dipertukarkan dengan model-model Amerika. Jepang telah menjadi Negara Asia pertama yang menandingi Barat secara ekonomi dan secara industry, dan dicirikan oleh budaya yang kerja keras, pendidikan dan komitmen yang fanatic untuk memperbaiki kualitas produk dan produksi.
Truck GI
PRODUKSI MILITER
Selama perang dunia kedua, pabrik-pabrik Toyota memanufaktur truk untuk tentara kerajaan Jepang. Kekurangan material mengandung makna bahwa kendaraan ini sederhana, dengan lampu besar tunggal dan ditempatkan di tengah. Jepang mengakui kekalahan segera sebelum pemboman oleh Sekutu dijadwalkan untuk menghancurkan pabrik-pabrik Toyota, dan penyerahan tanpa syarat yang diikuti dengan pendudukan militer oleh AS. Jepang bertekuk lutut, bergantung kepada bantuan Amerika. Pada tahun 1950, Toyota berusaha memulai kembali produksi mobil, namun perusahaan berada di tepi kebangkrutan. Satu pabrik beralih produksi ke gandum dan roti sekedar untuk memberi makanan kepada para pekerjanya.
Toyota menjual kurang dari 300 truk setiap bulan, dan berhenti membuat mobil sama sekali ketika CEO Ahotara Kamiya melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dengan harapan bisa menjalin kerjasama dengan Ford Motor Company. Kamiya gagal, setidaknya bukan karena Departemen Pertahanan AS mereasa bahwa perjanjian semacam itu akan menggerogoti produksi domestic Amerika. Tetapi dikarenakan sewaktu ia kembali ke Jepang, perang Korea pecah dan Amerika menjerit minta dukungan Jepang. Kamiya disambut dengan pesanan 1500 buah truk per bulan dari Pentagon.
Tatkala perang korea berakhir pada 1953, 1 juta orang Cina, 600.000 orang Korea, dan 54.246 orang Amerika telah terbunuh, dan perbatasan yang dipersengketakan antara Korea Utara dan Selatan tetap berada di Paralel 38. US Special Procurements Program telah memompa $3,5 miliar kepada Jepang, dan bagi Kamiya tragedi Korea adalah “penyelamatan Toyota” walaupun ia merasa bersalah bahwa “kegirangan di atas perang Negara lain”. Gubernur bank Jepang sejauh itu melukiskan Special Procurement Program sebagai “bantuan Ilahi”
METODE BARU MANUFAKTUR MOBIL
Keuntungan dari investasi AS di Jepang memungkinkan Eiji Toyoda, keturunan sang pendiri untuk merenungkan kembali memproduksi mobil. Toyoda mengunjungi Ford di Detroit dan menyimpulkan bahwa metode Amerika dengan subordinasi pekerja individual, kuantitas suku cadang yang sangat banyak, dan lini produksi masal yang tidak fleksibel bukanlah caranya. Factor-faktor lain yang dianggap berpengaruh terhadap Toyoda saat itu diantaranya ialah system distribusi “menit terakhir” yang diterapkan toko swalayan Piggly Wiggly, dan program pendidikan yang direncanakan oleh Angkatan Bersenjata AS.
Toyoda dan sejawatnya harus menciptakan system yang fleksibel bagi pasar Jepang yang kecil dan terfragmentasi. Mereka memodifikasi alat pres bekas Amerika dan memberitahu karyawan agar mengeluarkan suku cadang “pada waktunya”. Karyawan juga didorong untuk menghentikan lini produksi manakala sebuah mobil terlihat mengandung cacat atau ada suku cadang yang hilang. Mula-mula yang terjadi adalah kekacauan, tetapi gagasan itu dengan cepat berjalan begitu tim menjadi semakin kompak. Dalam waktu singkat, Toyota menghasilkan lebih banyak mobil dengan biaya lebih rendah dan kualitas lebih tinggi dibandingkan pembuat mobil Jepang lainnya. “Toyota way” mengajarkan dan mempraktikkan perbaikan dan pemberdayaan terus menerus di seluruh organisasi. Mereka menyebutnya Sistem Produksi Toyota. Beberapa tahun kemudian, orang Barat menamainya lean production
KEBERHASILAN EKSPOR
Pada 1957, Toyota Crown, perpaduan yang tidak mudah antara gaya barat dan nilai-nilai rekayasa Jepang, menjadi mobil Jepang pertama yang diekspor ke AS. Pada 1958, Toyota masih mengekspor kurang dari 100 mobil per tahun ke Amerika. Namun industry manufacturing Jepang sedang booming, dan perang Vietnam mendatangkan suntikan senilai $3miliar dalam bentuk pesanan militer dari Amerika antara tahun 1965 dan 1970 yang mendorong ekonomi Jepang lebih lanjut. Pada 1973, “kejutan minyak” OPEC yang pertama menimbulkan efek inflasioner yang massif terhadap barat dan terhadap bahan bakar, yang menggambarkan superioritas mobil “ekonomi” Jepang terhadap mobil setara buatan Amerika. Pada tahun 1975, Toyota menyusul Volkswagen dan menjual 800.000 mobil di Amerika. Pada 1979, tahun kedua kejutan minyak, Toyota menjual 1,8 juta kendaraan di Amerika.
Selama decade berikutnya, Toyota memapankan jaringan penjual, jaringan layanan dan kemudian pabrik-pabrik di seluruh Amerika Serikat. Pembuat mobil Amerika seperti general Motors, sementara itu, terjun ke dalam krisis, mencatat kerugian terbesar dalam sejarah korporat Amerika dan menghancurkan kota-kota mobil seperti Flint, Michigan. Pada tahun 1989, Presiden General Motors Roger Smith memuji sebuah mobil baru yang tengah diparkir di sebuah tempat di Detroit: “apa itu?” ia bertanya kepada orang yang ada disitu. “Mercedes Benz baru?” “bukan tuan” jawab orang itu. “itu salah satu mobil model baru dari Jepang.” Mobil itu adalah Toyota Lexus. Dua puluh tahun berlalu, Lexus menjadi mobil mewah terlaris di Amerika Utara, dan divisi ini mungkin yang paling menguntungkan dari keseluruhan Toyota Motor Corporation.
Pada 2007, walaupun di Amerika Honda menjual lebih banyak, namun Toyota menjual lebih banyak mobil di seluruh dunia dibandingkan dengan General Motors, mengakhiri 75 tahun kejayaan kelompok AS sebagai pembuat mobil terbesar di dunia. Di AS, perusahaan mengoperasikan pabrik perakitan di Alabama, Kentucky (di sini pabrik merakit Toyota Camry, mobil paling laku di Amerika), Indiana, Texas, West Virginia, dan Mississippi. Toyota juga memanufaktur secara local untuk pasar di Inggris, Australia, Kanada, Prancis, Turki, Republik Ceko, Indonesia, Polandia, Afrika selatan, Brasil, Pakistan, India, Argentina, Mexico, Malaysia, Thailand, Cina, Vietnam, Venezuela, dan Filipina. Orang-orang Eropa terutama sekali menandatangani kontrak untuk mobil Prius hibrida, yang memakai bahan bakar minyak, listrik atau keduanya. Di Amerika Serikat, dengan mundurnya Ford dan General Motors, orang-orang Amerika yang bergantung kepada mobil dibuat panic oleh naiknya harga bahan bakar bensin shingga semakin banyak orang yang berpaling kepada mobil-mobil efisien bahan bakar buatan Toyota untuk mengangkut mereka dari kawasan pinggiran kota ke tempat kerja.






