PURWOKERTO – Pasca putaran pertama Kejurnas Slalom yang berlangsung pada Sabtu (18/6/2022), beberapa pihak mempertanyakan mengenai soal slalom yang dibuat oleh penyelenggara.
Pada soal slalom yang dihadirkan dalam laga perdana kemarin, beberapa handicap yang biasanya menjadi warna di kejurnas tidak dihadirkan. Sehingga, hal ini menjadi sebuah polemik di beberapa kalangan komunitas yang berlaga dalam ajang kejurnas.
Salah satunya datang dari peslalom senior, Fredy Rostiawan. Pria yang juga menjabat sebagai Kabid Roda Empat IMI Jawa Barat ini, mempertanyakan mengapa pembuat soal slalom menghilangkan handicap seperti angka delapan dan circle. Padahal, dua handicap tersebut bisa dikatakan sebuah ruh pada ajang balap ketangkasan ini.
“Kita melihat dari soal, kan ada regulasinya bahwa di dalam soal slalom itu bisa terdiri dari circle, angka delapan dan lain-lain. Ini pada seri pertama justru kebanyakan gawang, dan circle menuju finish enggak ada. Otomatis insiden jadi banyak dan kalau tidak salah ada 8 atau 9 peslalom yang menyerempet,” jelas Fredi, ketika dihubungi Fastnlow.

Soal slalom Purwokerto dipertanyakan oleh beberapa pihak
Lebih lanjut, Fredi, juga menyayangkan bahwa sejak kompetisi slalom pada 2019 pembuat soal hanya memainkan rintangan berupa gawang. Mereka tidak menghadirkan soal slalom dengan rintangan berupa circle dan angka delapan, sehingga bagi Fredi soul slalom menjadi kurang dan seperti ada bagian yang hilang.
“Diharapkan soal menjadi ke normal aja. Dan dari seri di Tasikmalaya, Yogyakarta di Mandala Krida, lay out jadi gawang terus. Komunitas menginginkan, untuk seri kedua yang berlangsung di Bandung nanti, soalnya bakalan balik lagi ke semula, di mana menghadirkan soul slalom serta soal yang memang khas slalom lainnya,” beber Fredi.
Sementara itu, bagi Arce Meyer yang memegang kendali dari Tim HTJRT dan Whooosah Management, apa yang disuguhkan oleh penyelenggara terkait lay out pada seri pertama lalu, itu merupakan hak dari penyelenggara dalam menentukan seperti apa bentuknya. Hanya saja, ia juga menyayangkan di mana lay out angka delapan dan circle yang telah dipakai puluhan tahun, dihilangkan begitu saja.
“Kalau menurut saya, memang soal kemarin itu agak kecil. Tapi balik lagi, itu kan haknya penyelenggara untuk menentukan soal. Cuma kebiasaan-kebiasaan slalom yang telah dijalankan puluhan tahun seperti muter dan angka delapan, tidak ada sama sekali,” ungkap Arce.

Aksi peslalom saat melibas handicap pada Kejurnas Slalom putaran pertama 2022
Rupanya, melihat soal yang begitu tricky ini menjadi alasan bagi Arce Meyer untuk mengubah sedikit lay out yang diterapkan pada Kejuaraan U-23. Ia mengakui handicap jelang finish dimundurkan demi alasan keselamatan peslalom baru muda.
“Faktor safety yang kurang dipikirkan oleh pembuat soal. Kenapa saya minta mundur posisi kun pas Kejuaraan U-23 menjelang finish? Itu karena melihat faktor keselamatan peslalom pemula di mana bagi yang pro saja, mereka sedikit kerepotan. Lantas, bagaimana dengan yang para pemula ini?,” tambah Arce.
Tidak hanya itu, faktor lain yang membuat Arce kurang setuju pada putaran pertama lalu adanya peraturan baru di mana waktu tempuh yang ditetapkan dirasa kurang tepat.
“Jadi pada dasarnya, saya tetap menanyakan aturan soal waktunya. Kenapa dibikin 40 detik dengan tolerasi 10 persen? Sementara soal kemarin itu kan ada yang paling cepat 34 detik,” tandasnya. (*)

