Bandung, 8 Juli 2017 – Seri ketiga dari GT Radial Auto Ghymkhana kali ini berhasil di selenggarakan di Bandung, tidak seperti yang lalu-lalu yang dilaksanakan di Gedung Sate, namun untuk kali ini dilaksanakan di Lapangan Parkir GOR Arcamanik pada 8 Juli 2017.
Dengan permukaan lintasan berupa beton, Genta Auto & Sport berhasil menarik penggiat slalom nasional hingga 258 peserta. Ini merupakan rekor baru jumlah peserta yang sangat membludak, hal ini dapat diartikan olahraga otomotif slalom (sekarang Ghymkhana) semakin berkembang.
Untuk masalah soal, kali ini Genta tidak terlalu membuat soal yang ‘technical’, cukup simple namun tantangannya ada pada beton yang cukup nge-grip. Bagi beberapa pembalap dengan grip yang seperti ini justru membuat peslalom tidak boleh salah dalam melakukan manuver berbelok. “terlalu kencang pantat malah terbuang jauh, namun kalau kurang kencang mobil tidak bisa berbelok.”
2 heat yang disediakan menjadi lahan strategis untuk beberapa tim dan pembalap menempatkan posisi start di final. Pada dasarnya posisi start pada final akan mempengaruhi mental dari peslalom itu sendiri, menurut keterangan dari beberapa peslalom. Sehingga bisa dibilang pertarungan sebenarnya ada pada Final itu sendiri.
Perebutan juara umum A kali ini cukup mengejutkan, pasalnya pada kelas A yang awalnya merupakan pertarungan seeded A yang dimana itu pertarungan para jawara, malah justru dimenangkan oleh Addyek RG dari tim privatir asal Semarang yang duduk di seeded B. “enggak nyangka banget, karena di final saya pasrah banget” ujar Addyek dengan polosnya.
Dan hal yang mengejutkannya lagi adalah Demas Agil yang terkenal dengan permainan sempurnanya justru mengalami sial dimana dia menjatuhkan cone. Saat di wawancara Demas mengaku sangat menyesal atas kejadian itu, karena cone terakhir yang pernah dia jatuhkan adalah 4 tahun yang lalu di kejurnas slalom di Palembang.
Sedangkan di kelas F Toyota bersama ban GT Radial Champiro SX2 berhasil sapu bersih juara 1 hingga 4. Dan tidak tanggung-tanggung, catatan waktu TTI hampir mencapai 2 detik diatas para pesaing nya dengan menggunakan Toyota Etios.
Dengan hasil yang di capai, GT Radial dapat membuktikan diri kepada masyarakat umum bahwa Champiro SX2 memiliki kualitas terbaik untuk berbagai macam jenis balapan. Dilintasan aspal maupun beton seperti di Arcamanik ini.
Pada pertarungan kelas B yang berisikan penggerak belakang yang pesertanya di dominasi dari peslalom Jawa Barat ini juga tidak kalah seru. Irdam dan Reindy Riupassa yang merupakan tuan rumah pun berhasil bermain cantik. Irdam sempat menjadi yang terbaik selama 2 heat, namun di final justru melakukan kesalahan saat tikungan ke kiri menjelang finish yang terlalu melebar. Alhasil catatan terbaik di Final jatuh pada Rinaldy SA dengan Starlet KP nya.
Gimana?? Penasaran dengan pertarungan GT Radial Auto Ghymkhana seri 4 di Purwokerto?

