Ada pepatah di dunia motorsport: “Drive like there is no tomorrow.” Buat Dio, kalimat itu bukan sekadar slogan — itu jurus andalan. Berangkat ke Kazakhstan tanpa banyak keunggulan teknis, Dio membuktikan bahwa mental “nothing to lose” bisa bikin orang Asia ini jadi sorotan di ajang drift internasional. Ban gosong, mesin meraung, dan sorak penonton jadi saksi bagaimana ia bertarung habis-habisan melawan deretan nama besar dunia drift.
Dari Rusia ke Kazakhstan: Jalur Undangan yang Nggak Diduga
Kisah ini berawal dari pengalaman Dio beberapa tahun lalu di Rusia. Saat itu, ia diundang oleh Gocha, drifter papan atas dunia yang namanya melegenda di kejuaraan RDS (Russian Drift Series). Gocha yang mengenal gaya balap Dio, merekomendasikannya ke rekan-rekan di Kazakhstan tepatnya ke promotor Central Asia Drift Series (CADS) yang tergabung dalam tim ASP.
ASP ini bukan promotor baru di dunia drift. Mereka punya visi membangun kompetisi kelas internasional di Asia Tengah dan sebelumnya juga sukses menggelar Winter Asia Drift Show, kejuaraan drift di lintasan salju. Begitu ada slot untuk pembalap tamu internasional di musim panas CADS, pilihan mereka jatuh pada Dio. Alasannya sederhana: Dio adalah drifter Asia yang kompetitif, fleksibel, dan nggak ribet soal logistik maupun setup mobil.
Apa itu CADS dan di Mana Mainnya?
Central Asia Drift Show (CADS) adalah salah satu event drift paling bergengsi di Asia Tengah. Venue-nya? ASP Club di Kонаev, Kazakhstan bukan cuma sirkuit, tapi kompleks hiburan otomotif yang punya lintasan khusus drift, tribun megah, area konser, sampai rencana bikin akademi balap dan karting. CADS ini punya dua musim: seri musim panas (summer) dan versi ekstrimnya di musim dingin, Winter Asia Drift Show.
Musim panas CADS 2025 diikuti pembalap dari berbagai negara — Georgia, Jepang, Eropa Timur, bahkan bintang Drift Masters. Formatnya top 32 battle, jadi tensi tinggi sudah mulai sejak kualifikasi.
Tim Tamu, Mobil Berbeda, Misi Sama

Dio datang sebagai bagian dari tim “CADS Guest” bersama dua nama besar: Vladislav dari Belarus dan Adam Zalevski dari Jerman (pembalap Drift Masters).
- Vladislav kebagian Nissan S15
- Adam dapet BMW F22 full-spec HGK
- Dio? Toyota Mark II JZX 90
Spek JZX 90 ini relatif sederhana: mesin 300–400 HP, kaki-kaki belakang sudah custom, transmisi dogbox R154, tapi suspensi depan dan knuckle masih standar. Jauh dari “monster drift” yang biasa Dio temui di kejuaraan besar.
Struggling, Setting, dan “Drive Like There is No Tomorrow”
Begitu lihat mobilnya, Dio tahu ini bakal butuh banyak penyesuaian. Power terbatas, angle nggak bisa dibuka lebar, dan karakter mobil belum familiar. Untungnya, ada mekanik Yura dan tuner Niki di sana siap standby setiap Dio minta adjustment. Dari setting kaki-kaki sampai fine tuning, semua dikerjain demi bikin mobil ini “nyambung” sama gaya nyetir Dio.
“Ya udah, gila aja. Nothing to lose,” kata Dio. Agresif, terutama saat jadi chaser, justru bikin penonton dan juri CADS jatuh hati.
Lawannya nggak main-main: Hibino dan Kawabata (Jepang), Derselika (Georgia), Adam Zalevski (Jerman), Vladislav (Belarus), sampai Peter Borodin pembalap lokal yang juga roster RDS Team Forward Auto. Mobil-mobil mereka? Mayoritas high-spec, tenaga besar, dan angle lebar.

Tapi Dio tetap bikin kejutan. Dari tiga seri summer CADS, ia:
- Juara 1 di dua seri
- Top 8 di seri ketiga (finis posisi 5) setelah battle lawan Borodin
Dengan total poin, Dio duduk di peringkat pertama overall musim panas. Sebuah pencapaian yang sulit dipercaya kalau melihat spek mobilnya.
Cerita nggak berhenti di sini. Dari obrolan dengan pihak official, ada sinyal kuat Dio bakal diajak lagi ke versi winter-nya CADS: Winter Asia Drift Show (WADS) yang biasanya mulai Desember atau Januari. Bedanya? Semua di atas lintasan salju. Tantangannya bukan cuma lawan, tapi juga melawan licinnya permukaan.

Dio menutup musim panas CADS 2025 dengan rasa syukur. Terima kasih untuk keluarga, teman dekat, tim ASP dan CADS, serta kru lokal yang tanpa henti membantu: Yura sang mekanik dan Niki sang tuner. Tanpa mereka, Mark II ini mungkin cuma jadi “mobil pinjaman” yang sulit dikendalikan.
Kalau semua berjalan lancar, Dio siap kembali ke Kazakhstan tahun depan. Entah itu di musim dingin dengan lintasan putih membeku, atau musim panas dengan asap ban yang membumbung. Satu hal pasti: mental “drive like there is no tomorrow” bakal tetap dibawa.
photo by : Amandio Team and Instagram

