JAKARTA – Pembalap asal Balikpapan, Kalimantan Timur, yang membawa nama BRM Motorsport TCD (Touring Car Division), Glenn Nirwan, sukses memberi gebrakan untuk ajang balap touring Indonesia lewat kehadiran mobil balap terbarunya, Audi RS3 LMS TCR.
Ini mungkin menjadi salah satu cara bagi ia untuk merajut kembali mimpinya. Berbeda dari kakaknya, Ryan Nirwan, pereli Toyota Gazoo Racing Indonesia, ia justru lebih interest terhadap dunia balap touring.
“Kalau boleh dibilang, saya itu anaknya touring. Meskipun sempat rally, sprint rally dan speed offroad, itu saya anggap saya lagi salah arah dan saat ini saya kembali ‘Agama’ saya,” buka Glenn Nirwan, seraya tertawa.
Lewat hadirnya Audi RS3 LMS TCR ini, ia ingin mengembalikan romansa 12 tahun lalu terakhir kali ia balap touring di Indonesia. Hal ini pula yang membuatnya ‘nekat’ memboyong Touring Car Race (TCR) ke Bumi Pertiwi.

Adapun alasan yang membuatnya meminang Audi RS3 LMS TCR ini adalah karena menurut ia mobil yang diproduksi oleh Audi tersebut menjadi ‘The Latest TCR’.
“Dari sekian banyak mobil TCR, karena yang paling up to date per 2022 itu Audi. Dulu waktu 2017 Audi memang sempat ngeluarin Audi RS3 LMS juga, dan mereka tahun ini update mobil, kaki-kaki segala macam diganti. The latest model dari TCR ini, ya Audi RS3 LMS ini. Dan kebetulan dari 10 unit mobil yang masuk ke Asia, Indonesia, kita dapat satu,” tambah Glenn, saat dihubungi melalui sambungan teleponnya.
Tidak sekedar untuk menuntaskan mimpi yang sempat tertunda, namun, kehadiran mobil balap touring paling mutakhir di Indonesia tidak sebatas itu. Glenn, menjelaskan bahwa ada target lain yang memang ingin ia tuju, untuk pribadi serta untuk industri balap di Indonesia, khususnya balap touring.
“Jadi renvananya gini, dan ini mudah-mudahan di 2023 kita mau konsentrasi di Kejuaraan Nasional, lalu 2024 kita nyobain Malaysian Series dan mudah-mudahan masuknya TCR ke Mandalika, juga jadi agenda kita untuk berkompetisi di sana,” bebernya.
Secara timeline, ia menyebutkan bahwa untuk tahun ini sepenuhnya ia bakal melakoni balap di Sirkuit Internasional Sentul, Bogor, Jawa Barat. Lalu, pada tahun berikutnya ia bersama BRM Motorsport TCD (Touring Car Division), akan berekspansi ke Malaysia dan pada 2025 mobil Audi RS3 LMS TCR akan diikutsertakan pada kompetisi TCR dengan mengikuti tiga seri di Asia dan tiga seri di Australia.

“Kita memang sudah rencanakan BRM Motorsport akan balik ke balap touring, tadinya kita mau pakai Subaru BR-Z, tapi pas testing untuk rally, kok mobil ini enaknya buat rally jadinya. Jadi BR-Z kita buat jadi rally, cuma kalau ke touringnya kita waktu itu kita enggak mau terlalu banyak ngebangun, karena kita pingin Indonesia ini maju balap touringnya,” imbuh Glenn.
Ia juga membeberkan perihal stigma negatif yang kerap berkembang di industri otomotif Indonesia. Dengan adanya mobil berbanderol mahal ini, kerap dianggap sebagai ajang untuk pamer diri serta unjuk finansial.
Lewat kehadiran mobil TCR yang diboyong ke Tanah Air, ini bisa menjadi pencerahan bagi para pembalap Tanah Air yang memang ngidam pingin mendatangkan mobil serupa tapi bingung perihal perizinan atau segala macam hal tetek bengeknya.
“Tujuan saya jauh lebih besar dari apa yang saya datangkan. Kita pecinta otomotif, dan saya pingin dunia otomotif ini maju ke depannya, itu tujuannya dan bukan untuk gagah-gagahan atau gaya-gayaan pakai mobil TCR. Kalau menurut saya, dari teman-teman pembalap touring ini banyak yang tertarik untuk mendatangkan mobil seperti ini, dan mungkin mereka bingung seperti apa alur memasukkan barang ini ke Tanah Air. Begitu kita masukin Audi RS3 LMS ini, cakrawalanya sudah terbuka dan mereka bisa melihat bahwa ini bisa loh didatengin ke Indonesia,” ujarnya.

Di samping itu, menurut pembalap yang dikenal ramah ini juga ada keuntungan lain dengan menggunakan mobil berspesifikasi TCR. Untuk balapan di beberapa negara, tidak lagi direpotkan dengan regulasi atau spesifikasi yang diberlakukan.
“TCR itu kan masa depannya balap touring di dunia, memang diciptakan its a playing field.. Dan semua mobil TCR yang diproduksi itu ada budget cap, jadi semua manufaktur harganya harus sama, terus spek sama, mau balap di Europe atau di Amerika, itu sama dan regulasinya sama kecuali ban,” tandas Glenn. (*)

