Event GT Radial Champiro SX2 Indonesia Night City Slalom putaran 3 yang diadakan kemarin sabtu dilintasan PRPP Semarang tidak seperti dugaan kebanyakan peserta. Lintasan yang licin, kecilnya area soal dan karakteristik soal yang sedikit “nanggung” banyak membuat para pembalap slalom melakukan kesalahan.
Soal yang dibuat oleh panitia SMN yang kebanyakan adalah alumnus slalom tahun 80-90an ini memang sengaja dibuat “nanggung”. Luas area untuk soal yang berbentuk segi panjang berukuran 14mx 120m membuat para pembuat soal slalom berinisiatif membuat soal yang mengharuskan para pembalap mengganti gigi ke 2, yang biasanya hanya perlu menggunakan gigi 1.
Selain itu dengan adanya pasir dilintasan, setiap tikungan menjadi agak sedikit tricky. Tricky-nya adalah apabila mereka terlalu kencang mereka akan terpeleset dan berputar terlalu jauh, sedangkan kalau terlalu lambat mereka tidak akan beputar dengan sempurna. “Kecepatan mobil sebelum menikung harus pas, tidak boleh lebih, tidak boleh kurang ”tutur Alinka Hardiantidari TTI (Toyota Team Indonesia).
Berbicara masalah Alinka Hardianti, dia kali ini tidak bermain dengan baik. Setelah ditanya dia pun tidak tahu kenapa yang akhirnya dia kesal sendiri dan memohon maaf kepada bapak Memet Djumhana selaku Manager Tim.
Sesuai dengan judulnya yang mengusung nama GTradial Champiro SX2 Indonesia Night City Slalom, acara ini memang identik dengan keseruannya pada malam hari. Pada siang hari yang ada 2 heat penyisihan memang dijadikan ajang “cari aman” bagi para pembalap. Mereka hanya berharap waktu mereka masuk jajaran 15 besar agar dapat masuk kebabak final.
Dan akhirnya 125 peserta yang mendaftar tersaring menjadi 60 peserta yang dapat masuk babak final. Pertarungan slalom kali ini sudah dapat sedikit ditebak dari awa lacara. Pertarungan sengit terlihat terjadi antara beberapa timbesar seperti TTI, Jangkar Miring, NFT, SMN, maupun GTradial Heart. Tapi ada satu tim slalom keluaran akhir tahun lalu bernama HTJRT (HajiTjandra Racing Team) yang bermarkas di Yogyakarta yang mampu masuk dalam pertarungan tersebut.
TTI yang dengan formasi komplit, Anjasara Wahyu, Mico Mahaputra, Alinka Hardiantidan Adrianza Yunial berusaha memberi perlawanan dari sejak awal untuk dapat masuk kebabak final, namun hanya Alinka yang tidak dapat masuk kebabak final.
Sedangkan Jangkar Miring yang tahun ini hanya memiliki seorang pembalap saja sudah mampu membuat timbesar lainnya ketar-ketir. Di final kelas FWD standar, saat para pembalap rata-rata hanya mencatatakan waktu 33 detik Raditya PA yang memilikijulukan Mr. Freeze ini mamp melibas lintasan dengan 32.914 detik.
Tidak hanya itu, dikelas FFA yang seri lalu dimenangkan oleh Anjasara Wahyu dari TTI saa tini FFA FWD dimenangkan oleh Raditya PA dengan catatan waktu 31.710.Diakui oleh beberapa pembalap lainnya, soa ldengan karakteristik seperti in imemangkeahlian Raditya, jadi ya jangan heran kalau dia bisa cepat menguasa isoal dengan baik.
Tapi sang Mr. Freeze gagal menyabet seluruh piala FWD, karena dikelas FWD modified catatan tercepat dipegang oleh pembalap lawas, James Sanger yang tahun ini memperkuat tim NFT bersama Ananta OHP.
TTI melalui Anjasara Wahyu mengatakan “kita hari ini sedih, tapi memang terasa kita semua kurang all out, semoga diseri selanjutnya kita bisa lebih baik”.








