Belum terlambat bila kita membahas masalah kejurnas slalom seri 4 di Jogja Sabtu lalu. Event dengan tajuk Indonesia Night City Slalom 2015 sudah mendekati seri penutup (5 seri) yang dimana hampir seluruh kemampuan dan strategi tercurahkan pada seri ini.
Pada seri ini memang kelewat seru dengan aksi pada peslalom yang berhasil saling mematahkan catatan waktu, terutama saat masuk babak final FFA yang bisa lebih dari 4 kali catatan waktu terbaik terpacahkan walau terakhir catatan terbaik berhasil di pegang oleh Valentino dari Jangkar Miring.
Beberapa orang yang diharapkan tumbang. Seperti Anjasara Wahyu dari TTI yang hingga seri 3 di Solo masih memegang poin tertinggi di klasement sementara FFA, pada seri ini dua berhasil menjatuhkan 1 cone yang berarti dia tidak dapat mencatatkan catatan waktu terbaik.
Kemudian ada James Sanger yang pada babak kualifikasi memiliki catatan waktu terbaikpun gagal melakukan aksi pemecahan catatan waktu terbaik. Tidak itu saja Demas Agil yang juga merupakan orang yang di unggulkan di tim NFT tidak dapat memberikan catatan waktu terbaik.
Demas Agil, Plan B Berjalan Mulus
Namun jangan salah, ternyata itu termasuk dalam plan B dari seorang Demas Agil yang memang berusaha merangkak meningkatkan poin, alhasil poin Demas yang seri ini hanya masuk 5 besar hanya terpaut 8 poin dengan pemimpin puncak klasemen yaitu Anjasara Wahyu dan Valentino.
2 orang? Yes bener banget pada puncak klasemen FFA ada 2 orang yang memiliki poin yang sama. Sehingga kesempatan Demas untuk merebut double champ semakin terbuka lebar, sebab untuk Poin klas A Umum nya sudah sulit untuk di kejar oleh pesaing terdekatnya James Sanger. Demas hanya butuh menjadi juara 8 di kelas A Umum pada seri terakhir nanti untuk menjadi Juara Nasional.
Jangkar Miring Terselamatkan oleh Valentino
Jangkar Miring yang saat ini sedang tidak di perkuat oleh Raditya PA karena sendang konsentrasi dengan kuliah S2 nya ternyata masih bisa berkibar diatas perjuangan Valentino Ratulangi, Anggana dan Ananta OHP. Walaupun Anggana pada seri ini yang rencananya mengejar kelas FFA harus terjun bebas keluar dari tahta 10 besar.
Anggana mengatakan bahwa untuk seri ini dia dan Ananta memang sedikit terjadi keragu-raguan dalam bermanuver. Memang mobil yang dia gunakan adalah mobil yang juga di gunakan oleh Raditya, harapannya dia dapat bermain lebih baik, namun dalam kenyataannya adalah sebaliknya karakter mobil Radit tidak terlalu cocok untuk mereka.
Maka dari itu dia merasa tidak dapat maksimal dengan mobilnya, belum lagi pada saat latihan dengan soal yang sama lokasinya jauh lebih kecil dari yang di lapangan parkir Mandala Krida tempat kejurnas slalom seri 4 berlangsung. Jadi dengan hancurnya waktu di seri 4 ini Anggana dan Ananta akan melepas target juara di tahun 2015 ini dan akan berusaha lebih keras lagi untuk musim 2016 nanti apabila masih dipercaya oleh Jangkar Miring.
Namun sebaliknya, Valentino sangat menguasai mobil Radit, jadi hasil yang di dapat sangat maksimal saat bermanuver di klas FFA.
TTI Terhimpit
Memang sudah dikatakan oleh Manager TTI Dimitri Fitra Ditama, bahwa TTI yang di support habis-habisan oleh GT Radial dan Toyota ini akan sedikit mengedurkan otot untuk seri 4 ini.
Dan pada kenyataannya memang itu yang terjadi, TTI yang saat ini tinggal mengejar kelas FFA tidak terlalu memaksakan diri, namun sepertinnya TTI terlalu kendur shingga kita yang melihat dari sisi luar juga agak sedikit ketar ketir melihat jumlah perolehan poin yang ada.
Anjasara Wahyu yang pada saat final menjatuhkan cone terpaksa tidak mendapatkan poin di kelas ini. Alhasil jumlah perolehan poinnya sama persisi dengan Valentino yaitu 61, disusul oleh Mico Mahaputra 56 poin dan selanjutnya Demas Agil 53 poin kemudian James Sanger. Namun untuk James Sanger poinnya sudah sulit untuk membendung peringkat pertama.
Nah, untuk seri penutup nanti akan kah ada yang namanya tema order? Anjas Bekerja sama dengan Mico untuk membendung Demas dan Valentino. Atau Demas Agil bekerja sama dengan James Sanger untuk membendung TTI? Namun sayangnya Valentino memang benar-benar harus berjuang sendiri karena hanya dia yang berhasil masuk 5 besar di tim nya.
Yang jelas seri 5 bakal penuh strategi. So.. tunggu saja liputan Fastnlow di seri penutup di bulan Oktober, Purwokerto.













