Setelah sekian lama tim Fastnlow hanya turun dalam peliputan diatas aspal, untuk kali ini kami di tugaskan untuk turun dalam event Java Overland yang dimana ini adalah event offroad yang menjelajah alam liar pulau Jawa. Dalam benak kami ini adalah melepas kerinduan kami terhadap peliputan alam. Dan ini adalah hasil peliputan kami.

Kamis 30 Agustus 2018, 30 mobil dari peserta Kalimantan Tengah, Jawa Timur, Jogja dan sekitarnya sudah siap di halaman parkir Hotel Royal Ambarukmo Jogja. Kok sedikit banget?? Bener, jumlah sebanyak ini sudah menjadi jumlah maksimal bagi event ini. Dengan pertimbangan kenyamanan dalam meng-explore alam liar yang akan di lalui para peserta.

Jarak yang dilalui expedisi Java Overland Exploring Jogjakarta termasuk jarak sedang (di hitung perhari). Hanya belasan Kilometer dalam seharinya, namun medan yang dilalui termasuk level sedang. Ah, disini level medan yang di lalui menjadi nilai relative bagi beberapa offroader, tergantung dari pengalaman/jam terbang dari offroader tersebut.

Berbicara tentang Java Overland, ini merupakan event kedua mereka. Event pertama mereka adalah Exploring East Java dan untuk yang kedua ini adalah Exploring Jogjakarta (walaupun sedikit nyasar ke Pacitan dikit). Event ini berdiri atas ide dari Imam Taufik yang merupakan penghobby dunia Adventure, Wahyu Lamban sang Offroader Nasional, Rio Wibisono Offroader Expedition senior.
Mereka merancang event ini memang untuk meningkatkan minat wisatawan untuk mendatangi daerah yang belum ter explore. Mereka ingin menunjukkan bahwa potensi Indonesia masih sangat..sangat besar untuk masalah keindahan alam.

Diawali dengan briefing dan doa bersama di pendopo Hotel Royal Ambarukmo oleh Imam Taufik dan Wahyu Lamban yang dilanjutkan dengan pelepasan seluruh peserta.

Rute pertama adalah berjalan kearah timur Jogjakarta (ke arah Candi Prambanan). Hingga sampai di daerah Kalasan peserta di belokkan kearah utara, menyusuri perkampungan yang tujuannya adalah bukit Klangon sebagai basecamp pertama.



Medan offroad pertama dirasakan peserta saat masuk kedalam salah satu percabangan dari kali Gendol, dimana kali / sungai ini memiliki kontur pasir dengan sedikit bebatuan.



Mumbutuhkan waktu yang lumayan lama untuk keluar dari medan offroad pertama, hingga para peserta sempat beristirahat untuk makan siang.


Setelah semua keluar, perjalanan dilanjutkan menuju puncak Klangon untuk masuk base camp pertama sekaligus menginap.



Disana kita di sambut dengan kabut tipis dengan suhu sekitar 15 drajat.


Malam pertama, peserta expedisi bermalam disini dengan membangun tenda.




Tanpa sinyal telefon selular, berkumpul bersenda gurau dengan obrolan guyub. Aah..dunia serasa milik kami.


Pagi harinya kita langsung di sambut Gunung Merapi. Dimana kita berjarak kurang dari 4KM dari puncak gunung. Namun sayang tim kami tidak sempat mengabadikan moment tersebut karena perut yang bergejolak meminta perhatian lebih.


Pukul 9 pagi kita melanjutkan perjalanan diawali dengan brifing menuju pantai Sedahan yang terletak di Wonosari, Gunung Kidul.

Setengah perjalanan kita lalui dengan berjalan diatas aspal.


Namun hingga piyungan kita mulai masuk perkampungan dimana perlahan kita mulai naik kepegunungan karang khas Gunung Kidul.


Dan kita pun kehabisan jalan aspal.


Yang akhir nya kita mulai masuk ke dalam perbukitan tak ber aspal bahkan penuh bebatuan.



Medan offroad medium harus mulai di lalui.

Cukup tricky. Salah sedikit mobil pun harus di winching.


Pada hari itu, adalah hari Jum’at dimana kita umat Muslim menjalankan ibadah Sholat Jum’at. Disaat itulah para peserta pun melakukan istirahat sekitar 2 jam. Dan kembali dilanjutkan perjalanan menuju Kali Oyo.
To be Continue.. (part 2)

