Yogyakarta – 20 Januari 2017, Setelah secara resmi dilepas dari lapangan Djabakait – Pondok Pesantren Al Qodir, Seluruh peserta Jogjakarta Offroad Challenge kelima langsung bergerak menuju tiga jalur yang berbeda. Tiga jalur tersebut memiliki karakter yang berbeda, begitu pula dengan tingkat kesulitannya.
Perbedaan jalur ini sengaja dilakukan pihak penyelenggara yang digawangi We Love Jogjakarta Community bersama Pesantren Al Qodir. “Yang paling utama agar peserta tidak menumpuk dalam satu jalur, unsur fun dengan tetap mengacu regulasi keselamatan dapat dirasakan oleh seluruh peserta,” ungkap Adib Daoudy sebagai ketua panitia JORC V.
Selain itu, JORC selalu menyuguhkan hal yang berbeda setiap tahunnya. Mulai dari karakter lintasan hingga tingkat kesulitannya. Keadaan ini tentu membuat cukup panjang data waiting list peserta untuk dapat mengikuti ajang yang diadakan setiap tahunnya. Khusus pada JORC V, pasir lepas dan bebatuan bekas erupsi gunung Merapi, lumpur hingga tanah liat menjadi penghadang utama.
Di hari pertama. Peserta langsung diuji kemampuan dalam kerjasam tim hingga pemilihan jalur di dalam lintasan. Perhitungan yang benar tentu membuat mobil 4×4 dapat melalui obstacle dengan mudah. Namun tantangan bukan hanya hadir dari lintasan yang disuguhkan, hujan lebat yang turun dipertengahan hari juga mampu membuat peserta harus bekerja keras agar sukses mencapai garis finish.
Ternyata tingkat kesulitan yang disuguhkan panitia dengan Wahyu L Jatmiko sebagai Master Track dalam JORC V berhasil menghadang laju para peserta. Antrian panjang pun terlihat di beberapa pos di setiap jalur yang disediakan. Beragam kendala seperti tali winch putus, kopel jebol hingga ban bocor, radiator bermasalah dan lainnya.
Hasilnya dari 50 tim offroad peserta dari Jogjakarta Off Road Challenge kelima, baru hanya satu tim yang berhasil menyelesaikan seluruh rintangan. Bahkan ada tim yang tetap nekat ingin menyelesaikan seluruh jalur atau sekedar ingin membantu teman satu tim ketika masih tersangkut di salah satu obstacle. Memang untuk ajang JORC, tidak ada batasan waktu yang diberikan. Tetapi seluruh peserta harus memiliki perhitungan matang agar tidak tertahan di dalam lintasan.
Dari seluruh obstacle yang disajikan, ‘Tanjakan Mbah Marijan’ dianggap cukup sulit. Dengan panjang tanjakan hampir mencapai 100 meter yang memiliki sudut kemiringan di atas 45 derajat membuat mobil offroad harus beberapa kali melakukan winch. Menariknya, tanjakan yang berada tepat dipinggir jalan terdapat tiga jalur berbeda, setiap tim dibebaskan memilih. Tetapi satu tim harus melalui jalur yang sama. 
Dan hari esok seluruh tim yang tersisa akan berusaha semaksimal mungkin dalam menyelesaikan perjalanan untuk mencapai garis akhir.
Bonus foto:









