Dalam Indonesian Sentul Series of Motorsport 2017 – putaran pertama, ada satu kelas yang berbeda dari ajang serupa pada beberapa tahun sebelumnya. Deretan mobil buatan Jepang yang berlaga untuk menjadi tercepat dalam kelas Japan Super Touring Championship (JSTC). Suatu kelas yang menjawab akan keinginan para penggemar maupun pemilik mobil asal Jepang untuk mengadu kecepatan di balap touring.
Japan Super Touring Championship sengaja diadakan untuk menjadi lebih sempurna. Bukan tanpa sebab, karena banyak mobil-mobil asal Jepang yang mengadopsi Turbo tidak ada wadahnya. “Jika sebelumnya di ajang touring – ISSOM, mobil Jepang turbo akan bersaing di Super Car dengan menghadapi mobil seperti Ferrari maupun Lamborghini sehingga tidak kompetitif persaingannya,” ungkap Ferry Yanto Ongkiriwang – sang pencetus dari JSTC.
Agar JSTC semakin kompetitif, lima kelas pun dibuka agar banyak pembalap yang mengikuti kelas ini. Dan agar semakin terbuka kesempatan maka dalam JSTC akan terbagi dalam lima grup yakni 1600 N/A, 2000 N/A, 1600 turbo, 2000 turbo dan 2000 up (FFA).”Setiap orang pasti ingin meraih gelar juara sehingga lima kelas tersebut akan memberikan persaingan menarik hingga peluang besar bagi pembalap yang berlaga,” lanjut pria yang juga membuat balapan Old di ISSOM ini.
Selain itu, para penggagas dari Japan Super Touring Championship ini juga sangat menginginkan kendaraan hebat dari pabrikan Jepang hadir di Sirkuit Sentul untuk berlaga dalam JSTC 2017. “Kami pengen ada Evo, Supra, Estillo hingga mobil hebat dari Jepang berlaga dan akan menjadi kepuasan tersendiri.”
Memang untuk saat ini tidak lebih 20 mobil yang berlaga dalam JSTC, namun jumlah yang cukup bagus bagi gelaran perdana ini. Rencananya pada seri selanjutnya akan ada pendatang baru yang meramaikan JSTC karena saat ini mereka sedang melakukan persiapan agar dapat meraih gelar juara.
Dari hasil JSTC, Finsa Norcahyo (3rd), Keanon Santoso (2nd) dan Alfin Mulia Rahman (1st) menjadi penguasa di grup 1A, untuk grup 1B menjadi milik Welly Sutanto (2nd) dan M Herdy F (1st).
Sementara di grup 2B, Apip Ginanjar (3rd), Rama Dinas (2nd) dan Rio Bramantio (1st), sedangkan Wahyu Kumora a.k.a Mimo menjadi penguasa di grup 3 dengan Nissan Cefiro nya.







