BOGOR – Animo peserta pembalap pada putaran ketiga gelaran Indonesia Sentul Series of Motorsport (ISSOM) yang digelar Minggu (25/8), mengalami penurunan yang sangat signifikan bila dibandingkan putaran sebelumnya. Ada kabar beredar bahwa hal ini dipengaruhi oleh kualitas aspal Sirkuit Sentul, benarkah demikian?
Kami mencoba menemui salah satu promotor balap, yakni Andre Dumais, yang menghadirkan ajang balap European Touring Car Championship (ETCC) Indonesia. Dalam bincangnya di sela-sela putaran ketiga ISSOM 2024, ia tidak menampik hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan.
“Dibandingkan tahun lalu, itu penurunannya banyak. Jadi dari 32 grid tersebut, bahkan kita pernah sampai waiting list. Pas masuk ke musim balap 2024, mulai dari seri 1, lalu seri 2, penurunannya sudah lumayan banyak. Ditambah lagi pada seri ketiga ini, jadi tren turunnya mulai kelihatan di mana pada seri kedua itu ada 20-an, dan seri ketiga ini hanya ada 18 pembalap,” buka Andre Dumais, atau yang akrab disapa Dume.

Andre Dumais, Founder ETCC Indonesia (Foto: Adrenal Rio)
Di samping itu, Dume, menambahkan bahwa sebelum balap digelar dan masih pada sesi latihan bebas, salah satu pembalapnya telah memastikan untuk ikut dalam seri ketiga. Namun, ada hal lain yang memutuskan sampai akhirnya hal tersebut tidak terlaksana.
“Nah, ini contoh satu lagi Denny Rommel nih. Rabu atau Kamis, pas lagi latihan, dia coba mobilnya yang kondisinya baru dicat dan ini bukan livery sticker. Dia bilang mau ikut, dan akhirnya setelah coba, terus setelah itu bilang ke Om Timo (Andre Timothy), enggak jadi ikut karena melihat dampak terhadap mobilnya,” tambahnya.
Sementara itu, Gerry Nasution, pembalap dari BMW Team Astra, turut menyampaikan hal yang sama dengan Andre Dumais. Menurut pembalap yang sudah malang melintang tersebut, kualitas aspal Sirkuit Sentul memang menjadi sebuah alasan yang kerap dilontarkan oleh para pembalap, dan hal ini pula yang acapkali melatarbelakangi mereka untuk absen pada satu atau dua seri.
Sementara, dengan kualitas aspal Sirkuit Sentul seperti sekarang ini, juga akan menghadirkan dampak safety issue sehingga para pembalap harus lebih berhati-hati dalam bermanuver atau saat melakukan dog fight kala memperebutkan posisi terdepan.
“Sebenarnya, kalau kita ngomong masalah safety issue, memang ini menjadi masalah yang cukup perlu diperhatikan. Kenapa? Karena di beberapa tempat itu, memang bisa sangat menimbulkan faktor bahaya. Contohnya, pada saat start di R1 itu, kepulan debunya menghalangi pandangan dari pembalap, terutama yang berada di grid belakang,” sambungnya.

Antuias pembalap ETCC Indonesia mengalami penyusutan yang signifikan (Foto: ETCC Indonesia)
Meski demikian, Gerry Nasution, sepakat bahwa hal tersebut sejatinya bisa diatasi dengan meminimalisir kerikil atau debu yang ada di atas lintasan dengan menurunkan marshall untuk membersihkan di beberapa sektor yang krusial.
“Setiap kali habis balap, karena biar gimana pun kita pasti ada debris. Gak hanya debu, tapi kan juga debris dari ban mobil, ataupun ada bekas-bekas apa lah, accident, pecahan-pecahan body kit, atau pecahan-pecahan apa kan juga itu perlu dibersihkan,” tambah Gerry.
Sementara itu, Andre Dumais, khawatir dengan kondisi seperti itu akan mengikis ketertarikan dari para pembalap nasional untuk berlaga di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat.
“Kalau kondisinya begini akan turun. Pasti, dan orang juga bakal males juga kali ya? Artinya udah tidak tertarik gitu kali. Karena begini, mereka juga enggak akan nyaman dan tidak akan bisa maksimal sehingga tidak bisa melakukan racing line dengan sempurna dan mereka juga harus memilih-milih jalur jadi tidak bisa menikmati balapan,” pungkas Andre Dumais. (*)

