Connect with us
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

Headline

Mengenal Sosok Inung Nur Fajri, Sang Offroader Dua Jaman

Beberapa hari lalu saya dan Denis berkesempatan mengunjungi kediaman Inung Nur Fajri di Sorosutan, Umbulharjo. Karena ada sedikit ‘miskom’, ternyata Denis sudah terlebih dahulu tiba di rumah beliau yang akrab disapa Mbah Inung. Sesampainya saya disana, Denis tengah bercengkerama dengan Mbah Inung. Mereka asyik mendiskusikan sesuatu sambil menikmati teh panas di bengkel tepat di belakang rumah beliau. Saya pun bergegas menyapa mereka.

Anyway, sedikit banyak kalian pasti tahu siapakah sosok Mbah Inung ini. Yaps, beliau adalah seorang pembalap offroader kawakan asal Jogjakarta sekaligus pernah menjabat sebagai Ketua IOF Pengda Jogja selama dua periode. Tetapi bagi saya, sosok ini sudah saya kenal jauh sebelum saya berkecimpung di dunia jurnalistik, tepatnya adalah teman bapak saya. Semasa kecil, bapak sering mengajak saya nonton kompetisi offroad, dan salah satu pesertanya ya Mbah Inung ini yang kini kemudian menjadi teman saya. Temenan kan nggak harus sebaya 🙂

Tanpa panjang lebar, saya pun mulai mengulik lebih jauh tentang kisah perjalanan Mbah Inung di dunia offroad.

Awal berkecimpung di dunia offroad

“Sewaktu kecil sekitar SD kelas 4 di kampung saya ada program ABRI Masuk Desa, kala itu bapak saya yang urus karena dia seorang Lurah. Nah mobil-mobil militer waktu itu terparkir di depan rumah kami yang kebetulan lapangan desa, ada Unimog, Willys, disitu saya pertama kali melihat kendaraan 4×4 dan mulai tertarik,” sambut Mbah Inung kelahiran 6 Juni 1960, Salatiga.

Singkat cerita, ketika menginjak usia 18 tahun, Mbah Inung bergabung dengan Jogjakarta American Jeep (JAJ) meski belum memiliki jip. Bukit Sempu menjadi tempat berkumpulnya komunitas Jeep klasik kala itu. “Disitu saya pertama kali nyoba jip dipinjemin teman saya bernama Edi, ternyata enak juga, menyenangkan banget mainan jip,” sambungnya.

‘Virus’ jip mulai menjangkiti pikirannya, kemudian dipinanglah Willys tahun produksi ‘58 seharga 4,2 juta, “Bahkan kala itu udah tren swap engine dan saya rombak jadi 4×4.” Sejak itu aktivitas offroad Mbah Inung kian ‘menjadi-jadi’, tiap kali ada kesempatan Ia menghabiskan waktu sekedar blusukkan bersama kawanannya hingga buka tenda berbaur dengan alam.

Seiring waktu, tepatnya pada ajang American Jeep Competition, Mbah Inung ditugaskan oleh almarhum Pak Gun (Genta) sebagai timer. “Itu pertama kali saya turun di kompetisi tapi jadi panitia. Karena saya timer start dan finish, yang paling berkesan itu saya jaga start di samping sungai dan finishnya di seberang sungai, jadi ketika udah start, saya langsung lari-lari ke garis finish,” gelaknya.

Perlahan percaya dirinya mulai tumbuh pula bermodal cukup ilmu terjun di kompetisi offroad. Ia memberanikan diri ikut ajang rock crawling dan car crushing di Jepara yang kebetulan ada kelas khusus jip. Saingannya pun cukup berat dan bisa dibilang jauh lebih senior. “Musuh saya waktu itu ada Yuma dan offroader kenamaan lainnya, namun pengalaman saya yang sama sekali nol malah menyabet juara 1, apalagi dengan spesifikasi mobil yang seadanya,” tutur Mbah Inung.

Dan seperti yang kita tahu, tugas navigator di kompetisi rock crawling sangat berbeda jauh dengan adventure offroad, nah disitu Mbah Inung punya pengalaman tak terlupakan. “Lucunya, rock crawling itu kan harusnya navigator ada dibawah untuk mengarahkan pengemudinya, nah karena saya nggak tahu dengan pedenya navigator saya malah ikut naik jip juga. Hahaha.”

Sejak saat itu, Mbah Inung semakin ‘menggila’ mengikuti semua jenis kompetisi offroad bahkan dulu Ia juga sempat mencicipi mud bogging dan masuk 5 besar dimana kebanyakan masih menggunakan Willys dan Mambo.

Meski paruh baya, pria yang doyan gowes dan renang ini masih aktif bermain offroad baik CR, speed maupun adventure offroad, dan sesekali bermain sprint rally yang digandrunginya sejak 2005. Yaps, hampir semua ajang empat roda diikuti kecuali dua roda.

“Saya justru main sprint rally dulu baru nyoba speed offroad pertama kali di Bali. Kalau sprint kan gaspol banyak main shifting, kalau speed pakai jip atau tubular ya kebalikannya, harus ganti mindset. Trik dan teknisnya juga beda, di offroad bagi tugas fifty-fifty dengan navigator dan navigator lebih ke asistensi recovery tapi sprint murni atas arahan navigator.”

Belajar dari pengalaman, Ia memiliki prinsip bahwa dalam setiap kompetisi justru tak pernah menargetkan untuk menang tapi bukan berarti tanpa usaha, “Kalau tak target malah banyak gagalnya, prinsip yang saya pegang adalah lakukan yang terbaik.”

Sponsorship

Dalam perjalanannya, salah seorang kerabatnya diam-diam cukup memperhatikan sepak terjang Mbah Inung. “Nah Om saya ternyata juga sering nonton offroad tanpa sepengetahuan saya. Waktu ada pertemuan keluarga dia nanya, “mbok bikin jip yang bagus”, saya jawab “wah saya nggak punya modal”, eh malah disponsori dan akhirnya lahirlah tim Crab itu,” jelasnya.

“Setiap kegiatan offroad dimana kala itu sudah mulai transisi mobil yang lebih modern, Om saya selalu support bikinkan mobil offroad. Adik Om saya juga mulai ikut offroad. Dalam setahun sejak Crab terbentuk, saya ikut 17 event offroad termasuk sprint rally,”imbuhnya. Ibarat kata, kalau sudah terlanjur basah ya nyemplung sekalian, yeee kan sob!

Setelah terbilang cukup lama berkecimpung di dunia jip, Mbah Inung mendapat kontrak dari GT Radial yang tergabung dalam satu tim bersama Tata (anaknya) dan Mariachi selama 3 tahun berturut-turut. “ Kebahagiaan saya adalah nggak ada sponsor aja saya ikut kok ini disponsori saya makin seneng dan terpacu,” celetuknya. Meski tak sebaya, ini bukan masalah besar bagi Mbah Inung lantaran justru bisa berbagi ilmu dan pengalaman.

Jabatan sebagai Ketua IOF

Ketika ditanya seputar suka duka menjabat sebagai Ketua IOF Pengda Jogja selama dua periode tahun 2009-2014 dan 2014-2019, Ia pun tak ragu menceritakannya. Sebelum akhirnya menjabat, awalnya Mbah Inung mencium gelagat bahwa dirinya akan didapuk sebagai ketua, namun karena jabatan itu sarat akan tanggung jawab yang besar, Ia absen dari setiap acara IOF termasuk rapat dan Musda.

“Saya nggak suka jadi ketua, waktu itu saya absen dari Musda terus teman-teman pada telpon dan datang ke rumah. Mereka bilang ‘Pak Inung, jenengan itu sebagai orang yang cukup pengalaman di dunia offroad kok nggak pernah datang ke acara IOF kenapa’. Tapi karena dukungan mereka akhirnya saya datang di hari kedua,” tegas Mbah Inung.

“Selama menjabat saya nggak pernah memposisikan diri sebagai ketua, kita semua sama. Tapi kalau ditanya suka duka, jujur banyak dukanya tapi saya ikhlas menjalaninya, karena IOF itu kerja sosial, nggak semua orang mau dan mengurus komunitas 4×4 itu ‘ngemong’. Kalau sukanya, sampai detik ini teman-teman menganggap saya sebagai orang tua”.

Pasca pensiun, kini Mbah Inung masih dipercaya oleh Dinas Pariwisata Jogjakarta sebagai pengamat, pembimbing, dan pembina perihal safety terhadap pelaku jip wisata di sekitar Jogja yang mengacu pada regulasi IOF. Dan pada Oktober tahun lalu, Ia mempelopori event Kenduri Raya 1000 Jip Merayap Merapi atas amanah dari Dispar.

“Suatu kebanggaan bagi saya, meski sudah nggak menjabat di IOF saya masih dipercaya dan bermanfaat untuk banyak orang. Satu kesuksesan itu jangan sekali-kali membedakan sesuatu, kita semua sama. Mobil dalam konteks komunitas itu sebenernya hanya sarana untuk bersilaturahmi, itu yang saya pegang sampai sekarang,” tegasnya. Ingat ni bray petuah dari Mbah Inung!

Ia juga mengatakan bahwa hal tersebut merupakan amanah dari orang tuanya, mau punya ilmu sedikit atau banyak tetapi berbagilah dengan orang sekitar jika itu memang bermanfaat. Prinsip ini juga diterapkan di keluarganya. “Kalau ada orang pinter tapi dipakai sendiri, itu bukan orang pinter,” imbuhnya.

Tak heran jika sampai detik ini bengkelnya seringkali dijadikan sebagai basecamp atau tempat rapat oleh kawanan komunitas jip. Yaps, Mbah Inung selalu menyambut hangat bagi siapa saja yang datang. Dan untungnya selama berkarir di dunia offroad, sang istri selalu mendukung dengan penuh cinta dan doa. Sebelum dipinang menjadi istri, Ia cukup mengenal karakter Mbah Inung — doyan berpetualang dan susah diatur alias ‘dablek’. Iya ‘dablek’, itu Mbah Inung yang bilang sendiri, bukan saya ya 🙂

Melihat perkembangan mobil offroad jadul VS sekarang

Sebagai offroader dua jaman, saya pun penasaran bagaimana Mbah Inung melihat perkembangan mobil offroad jaman dulu dan sekarang. “Bisa dibilang mobil offroad sekarang berkompetisi dalam hal teknologi, tapi kalau teknologinya kurang memadai dengan trek sekarang, sepiawainya para pengemudi ya tetep kedodoran, mampu tapi kedodoran,” tuturnya.

Sementara jaman dulu, spek mobil offroad rata-rata hampir sama dan kebanyakan standar dengan teknologi yang sederhana, tetapi lebih mengacu pada skill dan modal nekat. “Wong dulu aja saya offroad pakai shock standar berani jumping kok, anak sekarang mungkin belum tentu berani. Kalau saya lihat offroad sekarang itu pede karena mobilnya bagus, high-tech jadi mungkin lebih praktis buat offroad,” jelas Mbah Inung.

“Pesan buat pembalap generasi muda yang masih pemula jangan pernah pesimis meski modifikasi mobil masih minim, terpenting diasah terus skillnya, main aman, dan sebisa mungkin jangan melampaui batas emosi,” tutup Mbah Inung.

Bonus foto:

Comments

Bergabung dengan Team Baru, Gibran Semakin Menorehkan Prestasi

Karting

GR Yaris, Mobil Andalan Toyota Untuk Menangkan Ajang World Rally Championship Segera Hadir di Indonesia

Cars

Kembalinya Kejurnas Gokart di New Normal

Karting

Putaran Pertama ISSOM 2021 Hadirkan Rivalitas Dua Tim Pabrikan dan Sedikit Kejutan Lainnya.

Race event

Copyright © 2019 Fastnlow.net. Theme by Fastnlow, powered by CV. OTOMEDIA NUSANTARA.

Connect