Connect with us

Event

Perang Setingan Mesin di IAME Series Asia 2020 

Pertama kali bagi gue, liputan balap gokart selama tiga minggu berturut – turut. Istimewanya, dari tiga balapan tersebut ada perbedaan yang signifikan. Mulai berbedanya tingkat gelaran yang diincar hingga penggunaan mesin – mesin balap karting, istilahnya One Make Race. untuk liputan yang terakhir di bulan ini (23 Februari), merupakan balapan IAME Series Asia 2020 putaran perdana.

Bukan hanya putaran perdana tetapi juga hal pertama kali untuk sebuah ajang IAME Series Asia yang diadakan di Indonesia. Berbeda dengan AKOC yang terakhir diadakan di Indonesia pada 10 tahun lalu, dan kembali hadir pada p yang berlangsung di Sentul Karting International Circuit, Bogor, Jawa Barat tanggal 23 Februari. 

Dengan One Make Race, tentu kemampuan pembalap yang didukung kejeliaan pengaturan tekanan udara pada ban hingga karburator menjadi penentunya juara di setiap kelasnya. Terlebih sebagai putaran perdana, tentunya persaingan ketat langsung terjadi pada lima kelas demi memperebutkan poin sekaligus gelar juara. 

Hadirnya IAME Series 2020 tentu tidak lepas andil Eshark Motorsport selaku promotor kejurnas gokart Indonesia yang bekerjasama dengan Auto Inc Singapura sebagai promotor IAME Series Asia. IAME sendiri merupakan pabrikan mesin gokart asal Italia yang telah puluhan tahun menggelar kejuaraan gokart secara berseri di semua regional termasuk Asia dengan tujuan melahirkan pembalap-pembalap kelas dunia. 

Hasil gue ngobrol langsung dengan Daniel Ling sebagai Organizer IAME Series Asia, pihak IAME sebenarnya memang ingin memberikan kesempatan Sentul International Karting Circuit menjadi lintasan balapan IAME Series Asia. Bahkan pihak IAME mengaku puas dengan penyelenggaraan putaran perdana ini dan sangat mungkin menggelar secara reguler pada tahun selanjutnya.  

Dengan kemungkinan akan diadakannnya secara reguler, tentunya memberikan jalan pembuka bagi para pembalap muda yang memiliki target tinggi dalam dunia balap mobil. Karting tentunya telah diketahui sebagai balapan dasar bagi pembalap mobil, bahkan bisa dikatakan jawara – jawara Formula 1 pernah mencicipi beratnya balap karting.

IAME Series Asia 2020 – round 1 

Dua minggu sebelumnya, gue liputan balap karting. Yang pertama balapan karting dengan kasta kejurnas putaran 1, sedangkan minggu kedua balapan Asian Karting Open Championships (AKOC) 2020 putaran 1. Dan minggu ketiga, gue liputan balap IAME Series Asia 2020 putaran perdana ini. Namun dari sudut pandang gue dari tiga balapan karting, balapan seri kejurnas dan IAME lebih seru. Kalo IAME, mungkin karena faktor cuaca yang bikin semua pembalap bisa ngegeber mobilnya habis – habisan.

Dan dari catatan gue, ada 9 negara di Asia yang berlaga di IAME Series Asia 2020 ini. Dengan total 55 pembalap, mereka hadir dari Hongkong, Malaysia, Singapura, Thailand, India, Srilanka, Philipina, Jepang dan tentu saja pembalap – pembalap Indonesia sebagai tuan rumah. Mereka bersaing dalam memperebutkan gelar juara dan tentu saja poin klasemen sebagai penentu juara umum di musim balap 2020.

Dari lima kelas (Cadet, Cadet (9 tahun), Junior, Senior dan Master), peserta terbanyak ada di kelas Senior dengan total 19 pembalap. Hasilnya, persaingan di kelas senior sangat seru. Asli, dari sejak Pre Final sampai Final semuanya  ngga ada yang mau kasih jalan untuk pesaingnya. ‘Bumper to Bumper’ jadi hal wajar yang gue lihat. Hasilnya di babak final, Prassetyo Hardja sebagai pembalap yang telah 3 tahun berturut – turut meraih gelar juara umum di IAME Series Asia berhasil kembali meraih juara di putaran perdana ini.

Dari hasil ini, Prassetyo memastikan akan mengikuti seluruh series dari IAME agar dapat mempertahankan gelar juaranya. “Persaingan di kelas Senior makin seru, tapi saya berhasil mengatasi perlawanan dari pembalap asal Jepang. Sesuai hasil putaran ini, saya akan ikut seluruh seri dan tentunya ingin mempertahankan gelar,” ungkap Prassetyo.

Gelar juara lainnya yang berhasil direbut oleh pembalap Indonesia berasal dari kelas Cadet (9tahun) yakni Qarrar Firhand Ali dan Eris Mahfud yang merebut juara untuk kelas Master. Sedangkan kelas lainnya yakni kelas Cadet direbut pembalap asal Philipina – Seb Kawpeng dan kelas Junior menjadi milik Ayrton Asdathorn dari Thailand.

Alasan 3 balapan dalam 1 bulan?

Dengan tiga balapan berbeda dalam satu bulan, tentunya menjadi bukti akan mulai kembalinya berkembangnya balap karting. Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari sistem manajemen baru dari pengelola Sentul International Karting Circuit yakni PT Sarana Lintasan Indonesia yang menyesuaikan permintaan dari sang pemilik lintasan – Hutomo Mandala Putra. 

Hutomo Mandala Putra menginginkan Sentul International Karting Cirkuit mendapatkan homologasi dari CIK (komisi gokart dunia) dan menggelar balap karting skala internasional. Dan akhirnya dua ajang balap karting skala internasional telah diadakan. Hanya tinggal mengunggu proses homologasi yang tak butuh waktu lama akan dikantongi.

Namun, usut punya usut kenapa bisa dua balapan skala internasional dapat di gelar di Indonesia dan keduanya putaran pertama. Mengatur jadwal putaran pertama dengan venue yang baru dianggap lebih mudah oleh pihak penyelenggara. Sedangkan secara berturut – turut dianggap mempermudah dalam urusan pengiriman hingga penyimpanan berbagai gokart dan beragam komponennya.  

Hmmm… Jadi ada lagi ga yaa?

Bonus foto:

  

Comments

Copyright © 2022 Fastnlow.net. Theme by Fastnlow, powered by CV. OTOMEDIA NUSANTARA.

Connect