Tahun 2025 bisa dibilang menjadi salah satu musim paling dinamis bagi tim slalom RART. Setelah beberapa tahun sebelumnya pengembangan setelan kendaraan stagnan, musim ini menjadi titik balik dengan berbagai eksperimen teknis yang akhirnya membuahkan hasil manis di seri ketiga Kejuaraan Nasional Slalom.

Sejak awal musim, RART sudah menampilkan progres signifikan lewat racikan teknis yang dipimpin oleh duo maut Febra dan Asep sebagai kepala tim teknis dan RnD. Dari seri pertama, setelan mobil sudah terasa impresif, memberikan keyakinan bahwa tim mulai menemukan formula yang tepat.
Namun perjalanan tidak selalu mulus. Pada seri kedua di Banjar, RART dihadapkan pada masalah serius ketika sistem dastek mobil bermasalah menjelang final. Kendaraan tak mampu mengeluarkan tenaga optimal, membuat performa jauh dari hasil latihan. “Kadang di slalom, 40% performa mobil, 40% skill pembalap, dan sisanya 20% keberuntungan,” ungkap seorang penggiat slalom, menggambarkan betapa kecilnya margin kesalahan di arena ini.
Di sisi lain, mobil F juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Fuel Pump bermasalah di Banjar membuat performanya turun drastis. Meski perbaikan sudah dilakukan di seri Jogja, mobil F belum kembali ke performa terbaiknya seperti di seri pembuka Surabaya. Tim pun menyadari masih ada PR besar yang harus dibereskan untuk dua seri tersisa.

Adaptasi itu akhirnya terbayar di seri ketiga Jogja. RART melakukan perubahan signifikan pada sektor kaki-kaki, memberikan efek instan terhadap kestabilan dan kepercayaan diri pembalap. Hasilnya, Fenno berhasil menyabet podium ketiga di kelas A nasional, sebuah pencapaian yang terasa spesial sekaligus gebrakan penting untuk memberikan tekanan pada tim-tim papan atas. Konsistensi yang dirawat sejak awal musim akhirnya menemukan bentuknya.

Tak hanya itu, Keizha, satu-satunya pembalap wanita di tim RART, juga menorehkan prestasi gemilang. Ia sukses meraih peringkat kedua di kelas wanita nasional pada seri Jogja. Kehadiran Keizha tidak hanya memperkuat daya saing tim, tetapi juga menjadi simbol bahwa slalom adalah arena yang inklusif, di mana semangat dan skill bisa berbicara lebih keras daripada sekadar gender.

Lebih dari sekadar hasil, seri Jogja juga menyisakan kesan positif. Suasana kota yang hangat dan keramahan masyarakat membuat ajang ini terasa istimewa. “Setiap tahun, balapan di Jogja selalu punya atmosfer berbeda,” ujar salah satu anggota tim.

Namun, di balik kesuksesan ini, masih ada harapan lebih besar: bagaimana olahraga slalom bisa makin dikenal publik. Banyak pihak berharap penyelenggara seperti Genta mampu melakukan gebrakan, misalnya dengan menggandeng influencer sebagaimana yang terjadi di dunia drifting. Kehadiran figur populer diyakini bisa menjadi katalisator untuk menarik sponsor, menjangkau audiens lebih muda, dan mengangkat kembali pamor slalom di tanah air.
Dengan dua seri tersisa, perjalanan RART masih jauh dari selesai. Tapi satu hal jelas: musim ini sudah membuktikan bahwa kombinasi kerja keras, inovasi teknis, dan mental pantang menyerah bisa melahirkan kejutan-kejutan manis di lintasan.

