Connect with us

Garage

STEVI, SOSOK DIBALIK BENGKEL RESTORASI VOLKSWISE

Image by @rhbtio

Sthefanus Giovanni Witjaksana atau kerap dipanggil dengan nama Stevi mungkin cukup asing bagi khalayak umum, tapi bagi yang bermain di ranah mobil klasik apalagi VW mungkin pernah mendengar nama beliau. Stevi adalah sosok yang ada di belakang layar bengkel mobil klasik, Volkswise, yang berlokasi di Surabaya.  Kebetulan FNL sangat beruntung bisa berkenalan dengan Stevi ketika kami meliput debut Porsche 356A  milik Rifat Sungkar di Jogja Volks Wagen Festival (JVWF) 2019.

Volkswise dikenal sebagai bengkel yang berspesialisasi pada mobil klasik khususnya VW dan Porsche. Stevi bercerita bahwa dari kecil sudah dekat dengan dunia otomotif karena ayahnya yang ternyata memiliki bengkel. Dari Ayah nya ini lah ia mulai mengenal brand mobil asal Jerman, VW. “Jadi memang keluarga VW mas, bapak saya dari muda dulu juga megangnya udah VW, dari kecil saya udah dicekokin VW terus” ungkap Stevi.

Bengkel sang Ayah masih aktif hingga sekarang, tapi memang kini yang dikerjakan kebanyakan mobil umum saja karena intinya memang tidak ingin yang terlalu berat dan aneh-aneh. Volkswise bagaikan manifestasi semangat membangun mobil klasik yang masih diteruskan oleh Stevi sampai saat ini. Baginya yang sudah lama mengulik mobil VW lama, mobil klasik itu berkarakter dan memiliki kepuasaan tersendiri  dalam merestorasinya. Beberapa koleksi pribadi Stevi juga mempunyai nilai historis tersendiri yang ia bilang tidak akan dijual, seperti VW Kodok milik ayahnya yang hingga kini masih ia rawat.

Betapa beruntungnya Stevi,  ia bertemu dengan istrinya yang ternyata juga datang dari keluarga yang familiar dengan dunia bengkel. Jadi keduanya kalo bisa dibilang sudah “klop” lah, sama-sama paham dan familiar tentang kehidupan yang banyak berkutat dengan urusan mobil.

Stevi dengan Volkswise nya mulai mengerjakan mobil klasik para pelanggannya di antara 2012/2013 ketika ia baru mau menikah.  Setelah menikah, Volkswise bermarkas di rumah kakek sang istri yang memiliki halaman yang cukup luas. Saat bercerita dengan kami, ternyata Volkswise sedang melakukan pemindahan ke bengkel baru yang dapat menampung mobil klien hampir dua kali dari kapasitas bengkel lama yang sebelumya cuma bisa menampung sekitar tujuh mobil saja.

Ketika ditanya berapa banyak customer yang sedang ia tangani, Stevi menyebut bahwa sebenarnya tidak banyak dan bukannya ia pilih-pilih customer, tapi memang ia lebih prefer ke customer yang juga “klop” dengannya baik secara visi dan semangat. Kata Stevi, “bangun mobil gini ini kan gak asal bangun aja ya, harus bisa menjiwai juga, harus punya taste yang sama, segalam macem harus punya kecocokan dulu gitu kan. Nah kalo dari semua itu bisa nyambung nah itu lebih enak. Bukan soal duitnya juga sih, cuma kalo kita bisa jalan bareng, bisa ngasih sharing ide bareng itu kan lebih baik.”

Kalo dihitung dengan jari, customer yang “loyal” kurang dari 10 orang, apalagi yang kolektor “die hard” paling juga tidak sampai lima orang. Beberapa customer yang ia sebut ada Wawan Dalbo dan seorang klien asal Surabaya yang koleksi mobil klasiknya mungkin bisa puluhan atau bahkan lebih. Nah customer satu ini katanya semakin “ndadi” setelah bertemu dengan Stevi, ia langsung semangat beli bahan mobil klasik dan menyerahkannya ke Stevi. Sebuah Karmann Ghia Cabrio menjadi satu dari sekian banyak karya dari Stevi dan customer nya yang satu ini.

Meskipun root dari Volkswise adalah di ranah VW dan Porsche, Stevi tidak menutup peluang sekaligus tantangan untuk brand mobil klasik lain asalkan calon customernya ini dirasa sudah nge “klik” dan cocok untuk diajak sharing bersama. Sebut saja Rifat Sungkar yang kembali mempercayakan Volkswise untuk membangun Jaguar E-Type. Padahal sebenarnya Stevi sedikit kurang suka dengan karakter mobil klasik asal Inggris karena baginya beda karakter dengan mobil asal Jerman. Mobil asal Inggris itu ia sebut memiliki metric dan satuannya tersendiri, jadi menurut Stevi ini adalah tantangan yang menarik, apalagi dengan Jaguar E-Type yang terkenal keindahannya sejak dulu. FYI, Rifat Sungkar lebih dulu memiliki Jaguar E Type ini daripada Porsche 356A.

Beberapa mobil America Muscle juga pernah digarap oleh Stevi, sebut saja seperti Mustang, Pontiac GTO dan Ford Thunderbird. Salah satunya lagi-lagi berasal dari customer asal Surabaya yang diceritakan sebelumnya.

Dalam membangun ulang mobil klasik, Stevi mengungkapkan bahwa dirinya tidak akan memaksakan membangun mobil sepenuhnya dari part-part vintage tua. Kira-kira hanya 30% dari keseluruhan mobil yang memakai part ori dan sisanya 70% menggunakan barang reproduksi yang kini sudah semakin banyak dijual. Anggaplah barang-barang reproduksi tersebut seperti karet-karet, lampu dan ornament. Dan untuk bagian 30% yang original itu Stevi benar-benar mencari nya ke seluruh dunia.

Untuk persoalan part VW dan Porsche klasik bisa dibilang Stevi sudah “khatam”, karena ini adalah root nya jadi ia sudah tahu networking dan tempat-tempat dimana ia bisa mendapat part ori. Memang kebanyakan berlokasi di Eropa, dan ada dua festival VW dan Porsche klasik di Jerman yang tiap empat tahun sekali Stevi menyempatkan untuk datang berkunjung sekaligus hunting. Sebenarnya dua festival ini terselenggara tiap empat tahun sekali, tapi karena keduanya bergantian jadi jatuhnya setiap dua tahun sekali ada event VW besar.

Stevi secara pribadi membatasi agar setiap mobil yang ia kerjakan selesai dibawah dua tahun, ini agar ia dan customer tidak kehilangan momen dan tidak jenuh berkepanjangan. Karena itulah di Volkswise mobil yang dilayani terlebih dahulu adalah yang paling datang duluan, dari sana baru mulai estafet bergilir ke mobil setelahnya. Jadi jika salah satu mobil sudah mendapat treatment yang terbilang besar maka mobil selanjutnya bisa mulai dicicil untuk dikerjakan.

Saat ini yang menjadi salah satu perhatian utama adalah pengerjaan Jaguar E-Type milik Rifat Sungkar. Dan yang telah mengantri di belakang ada beberapa mobil challenging lain seperti Porsche 911 SC, VW Dakota, VW Kodok, dan Porsche 356A lagi seperti milik RIfat.

Di masa pandemi ini Stevi terkejut karena ia malah kebanjiran customer, karena itu pindah ke bengkel baru yang lebih luas dan bertempat tidak jauh dari Airport Juanda dirasa baginya adalah pilihan yang sangat tepat. Ada sedikit kutipan dari Stevi ketika ia menceritakan bagaimana ia menghadapi pandangan miring mengenai pekerjaanya yang dianggap remeh oleh beberapa orang, “Buktiknya gk tambah menurun malah tambah kewalahan sekarang, ya itu ada jalannya aja” ungkap Stevi dengan bangga.

 

Teks by R. Harsono Budiprasetya

Image pendukung oleh Stevi (@volkswise) & Tio Budiprasetya

Comments

New BMW M135i dan New BMW M235i Gran Coupe hadir untuk pertama kali di Surabaya.

Cars

Ibadah Kustom Lebih Khitmad di Kustomfest 2020 Unrestricted

Show / festival

RALLY LOOKS STATION, BERAWAL DARI MUDFLAP HINGGA KE BANYAK HAL

Community

HONDA MENAMPILKAN WARNA ‘RACING BLUE’ PADA AJANG HONDA CIVIC TYPE R TCR DI AUSTRALIA

Race Car

Copyright © 2019 Fastnlow.net. Theme by Fastnlow, powered by CV. OTOMEDIA NUSANTARA.

Connect